Pondok Ilmu Pengetahuan

Monday, January 19, 2015

KESEHATAN




1 dari 8 Penduduk Dunia Menderita Gizi Buruk


Setiap 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional. Namun, Tahukah Anda jika Indonesia dan negala lain di dunia sedang mengalami masalah yang sama yaitu gizi buruk? Pada tahun 2010 – 2012, Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sekitar 870 juta orang dari 7,1 miliar penduduk dunia atau 1 dari 8 orang menderita gizi buruk. Menariknya, sebanyak 852 juta penderita diantaranya tinggal di negara negara berkembang.

Anak anak merupakan penderita gizi buruk terbesar di seluruh dunia. Dilihat dari segi wilayah, lebih dari 70 persen kasus gizi buruk pada anak didominasi Asia, sedangkan 26 persen terjadi di Afrika dan 4 persen di Amerika Latin serta Karibia. 

Sementara itu, setengah dari 10,9 juta kasus kematian gizi buruk. Maklum, gizi buruk bisa berefek pada penyakit lain, seperti cmapak dan malaria. Selain itu, gizi buruk juga bisa diakibatkan penyakit seperti diare yang mengurangi kemampuan tubuh mengonversi makanan menjadi nutrisi. 

Apakah warga dunia kekurangan suplai pangan sehingga banyak terjadi kasus gizi buruk?
Menurut World Hunger, pangan dunia memproduksi 17 persen kalori lebih banyak per orang jika dibandingkan 30 tahun yang lalu. Jumlah ini cukup untuk memberikan asupan kepada seluruh penduduk dunia dengan rata rata 2.720 kilokalori per orang per hari.

Jika asupan pangan dunia cukup, lalu apa yang menjadi penyebab gizi buruk? 

Ada beberapa penyebab jawabannya yang mengemuka, salah satunya yaitu faktor kemiskinan.
Pada tahun 2008. Bnk Dunia mengestimasikan 1.345 juta penduduk miskin di negara berkembang hanya berpenghasilan kurang dari 1,25 dollar AS Per hari. Hal ini membuat daya beli mereka terhadap makanan bergizi menurun.

Penyebab lainnya yaitu konflik di suatu negara.
Pada tahun 2008, United Nations High Commissioner for Refugees mencatat lebih dari 10 juta pengungsi di dunia. Para pengungsi dari daerah konflik biasanya akan mengalami masalah gizi buruk dan kemiskinan.

Penyebab lainya yaitu bencana alam.
Beberapa bencana alam seperti banjir, kemarau, dan perubahan iklim menjadi tida penyebab kunci gizi buruk di suatu wilayah. 

Selai itu Pemanasan global juga tercatat menjadi penyebab 300.000 kematian di dunia. 

Akan tetapi ada faktor kunci yang menjadikan faktor gizi buruk. salah satunya sistem negara yang sengaja diciptakan untuk melahirkan masalah gizi buruk. seperti sistem kapitalisme, yang cenderung memikirkan ekonomi pribadi dengan sebesar besarnya. harga bahan pokok yang sengaja dibuat tinggi sehingga orang miskin tidak bisa mendapatkan makanan bergizi yang layak.

Adapun juga kepedulian pemerintah dalam menangani kasus gizi buruk amat sangat rendah. identifikasinya pemerintah enggan memberikan penanganan kesehatan bagi yang sudah teridentifikasi gizi buruk. ataupun program program kesehatan masyarakat, secara dana diarahkan untuk menyembuhkan orang sakit. seperti setiap rumah sakit, membeli alat alat canggih untuk mengobati pasien. 

Seharusnya, dana kesehatan bisa diarhakan untuk menanggulangi masyarakat terkena penyakit salah satunya kasus gizi buruk. Seperti Program peningkatan gizi di perumahan dan perkampungan. 

INDONESIA

Lalu, Bagaimana dengan perkembangan gizi buruk di Indonesia? menurut Riskesdas, Pada tahun 2013 terdapat 19,6 persen kasus balita yang kekurangan gizi. Jumlah tersebut terdiri dari 5,7 persen balita dengan gizi buruk. 

Diantaranya 33 provinsi, terdapat 2 provinsi yang termasuk kategori prevalensi gizi buruk sangat tinggi, yaitu Papua Brat dan Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai sasaran MDG 2015 yaitu 15, 5 persen, angka prevalensi gizi buruk secara nasional harus diturunkan sebesar 4,1 persen. 

Sementara itu, gambaran status gizi pada kelompok umum dewasa (lebih dari 18 tahu) bisa diketahui prevalensi gizi berdasarkan indinkator Indeks Massa Tubuh (IMT). Walaupun masalah kurus masih cukup tinggi status gizi pada kelompok dewasa didominasi masalah obesitas, Hasil Riskesdas 2013 menunjukan prevalensi obesitas pada kelompok umur dewasa sebanyak 14, 76 persen. 

Rata rata prevalensi kelebihan berat badan relative tinggi terdapat pada usia 35 – 59 tahun. Adapun provinsi dengan prevalensi kelebihan berat badan tertinggi terjadi di Sulawesi Utara (40,54 persen), Kalimantan Timur (35,58 persen), dan DKI Jakarta (34,7 persen). (INO)

SUMBER : KOMPAS 19 JANUARI 2015

No comments:

Post a Comment