Pondok Ilmu Pengetahuan

Wednesday, February 18, 2015

EKONOMI



BANGGA MENJADI BANGSA TEMPE

Makanan asli Nusantara yang paling sering disalahartikan makna, manfaat, serta nilai gizi dan ekonominya adalah tempe.

Orang sering menggunakan perumpamaan tempe untuk hal negative. Misalnya, bangsa yang tidak bermatarbat karena diinjak injak bangsa lain. Ungkapan lain, sore kedelai besok tempe, menggambarkan orang yang mudah berubah pendirian.

Ungkapan pertama karena dalam pembuatan tempe tradisional kulit ari kedelai dilepas dengan diinjak injak. Ungkapan ini dilontarkan Bung Karno dalam konteks membangkitkan semangat rakyat melawan penjajahan bangsa lain, baik penjajahan fisik, politik, ekonomi maupun budaya.

Ungkapan kedua menyangkut pembuatan tempe yang melibatkan kapang dalam proses fermentasi. Butiran kedelai yang sudah direbus akan menyatu dan menjadi tempat. 

Di Yogyakarta berlangsung International Conference on Tmpe and Its Related Products 2015 pada 15 – 17 Februari. Penggagas konferensi ini, Prof FG Winarno, ahli teknologi pangan, membuat gerakan Tempe Movement dengna tujuan tempe mendapat tempat bergengsi di dalam negeri dan dunia internasional, termasuk nantunya diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia.

Keinginan tersebut sangat realistis karena nilai ekonomi dan manfaat gizi tempe sangat nyata pada masyarakat. Tempe menjadi sumber protein nabati yang baik karena fermentasi membuat protein kedelai mudah diserap tubuh. Tempe juga dianjurkan menjadi makanan pendamping air susu ibu bagi bati setelah usia enam bulan. 

Tempe baik bagi diet orang dengan diabetes karena seratnya yang tinggi membuat kenyang.
Lebih dari 83 persen konsumsi kedelain Indonesia berupa tempe dan tahu, 14 persen kecap dan tauto dan sisanya untuk keperluan lain.

Pengonsumsi temped an rahu terbesar adalah Jawa, Yaitu jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Di luar konsumsi temped an tahu terbesar adalah Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali.

Ahli gizi dari Institur Pertanian Bogor , Prof Hardinsyah MS PhD, dalam diskusi menjelang konferensi internasional tempet, mengatakan konsumsi temped an tahu elastic terhadap pendaparan dan berhubungan dengan kualitas produk.

Hasil olahan data Susenas 2011 memperlihatkan, konsumsi Tempe meningkat bersama kenaikan pendapatan dengan konsumsi tempe lebih tinggi dari pada tahu. Semakin bertambahnya usia, konsumsi juga meningkat. Di sisi lain, konsumsi hasil olahan temped an tahu terus meningkat sehingga merupakan peluang bisnis industry makanan skala kecil, emengah bahkan besar.

Dengan memanfaatkan bioteknoloogi, manfaat tempe bertambah, Menurut Winarno, penelitian awal memperlihatkan hubungan tempe dengan peremajaan sel kulit wajah.

Nilai tambah ekonomi tempe sangat besar, tida kali harga kedelai. Sayangnya, dari kebutuhan 2,5 juta – 2,6 juta ton tahun lalu, produksi dalam negeri 995.000 ton. Inpor tinggi membuat harga ikut berfluktuasi mengikuti nilai tukar rupiah. 

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tmoe Indonesia Aip Syarifudin mengatakan, nilai ekonomi tempe Rp. 72 triliun. Ada 115,000 perajin tempe dengan tenaga kerja 1,5 juta orang. Aip mendukung upaya pemerintah berswasembada kedelai pada 2017. Namun, upaya tersebut harus diikuti pengaturan impor kedelai untuk memberikan insentif lebih baik bagi petani.

Indonesia perlu belajar dari Tiongkok yang petaninya kehilangan gairah menanam kedelai karena keran impor kedelai dibuka lebar dan mengalahkan petani setempat. Dampak pembukaan pasar itu mengenaskan. 

(Ninuk Mardiana Pambudy)
Kompas, Senin, 16 Februari 2015

No comments:

Post a Comment