BANGGA MENJADI BANGSA TEMPE
Makanan asli Nusantara yang paling sering disalahartikan
makna, manfaat, serta nilai gizi dan ekonominya adalah tempe.
Orang sering menggunakan perumpamaan tempe untuk hal
negative. Misalnya, bangsa yang tidak bermatarbat karena diinjak injak bangsa
lain. Ungkapan lain, sore kedelai besok tempe, menggambarkan orang yang mudah
berubah pendirian.
Ungkapan pertama karena dalam pembuatan tempe tradisional
kulit ari kedelai dilepas dengan diinjak injak. Ungkapan ini dilontarkan Bung
Karno dalam konteks membangkitkan semangat rakyat melawan penjajahan bangsa
lain, baik penjajahan fisik, politik, ekonomi maupun budaya.
Ungkapan kedua menyangkut pembuatan tempe yang melibatkan
kapang dalam proses fermentasi. Butiran kedelai yang sudah direbus akan menyatu
dan menjadi tempat.
Di Yogyakarta berlangsung International Conference on Tmpe
and Its Related Products 2015 pada 15 – 17 Februari. Penggagas konferensi ini,
Prof FG Winarno, ahli teknologi pangan, membuat gerakan Tempe Movement dengna
tujuan tempe mendapat tempat bergengsi di dalam negeri dan dunia internasional,
termasuk nantunya diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia.
Keinginan tersebut sangat realistis karena nilai ekonomi dan
manfaat gizi tempe sangat nyata pada masyarakat. Tempe menjadi sumber protein
nabati yang baik karena fermentasi membuat protein kedelai mudah diserap tubuh.
Tempe juga dianjurkan menjadi makanan pendamping air susu ibu bagi bati setelah
usia enam bulan.
Tempe baik bagi diet orang dengan diabetes karena seratnya
yang tinggi membuat kenyang.
Lebih dari 83 persen konsumsi kedelain Indonesia berupa tempe
dan tahu, 14 persen kecap dan tauto dan sisanya untuk keperluan lain.
Pengonsumsi temped an rahu terbesar adalah Jawa, Yaitu jawa
Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Di luar
konsumsi temped an tahu terbesar adalah Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali.
Ahli gizi dari Institur Pertanian Bogor , Prof Hardinsyah MS
PhD, dalam diskusi menjelang konferensi internasional tempet, mengatakan
konsumsi temped an tahu elastic terhadap pendaparan dan berhubungan dengan
kualitas produk.
Hasil olahan data Susenas 2011 memperlihatkan, konsumsi Tempe
meningkat bersama kenaikan pendapatan dengan konsumsi tempe lebih tinggi dari
pada tahu. Semakin bertambahnya usia, konsumsi juga meningkat. Di sisi lain,
konsumsi hasil olahan temped an tahu terus meningkat sehingga merupakan peluang
bisnis industry makanan skala kecil, emengah bahkan besar.
Dengan memanfaatkan bioteknoloogi, manfaat tempe bertambah,
Menurut Winarno, penelitian awal memperlihatkan hubungan tempe dengan
peremajaan sel kulit wajah.
Nilai tambah ekonomi tempe sangat besar, tida kali harga
kedelai. Sayangnya, dari kebutuhan 2,5 juta – 2,6 juta ton tahun lalu, produksi
dalam negeri 995.000 ton. Inpor tinggi membuat harga ikut berfluktuasi
mengikuti nilai tukar rupiah.
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tmoe Indonesia Aip
Syarifudin mengatakan, nilai ekonomi tempe Rp. 72 triliun. Ada 115,000 perajin
tempe dengan tenaga kerja 1,5 juta orang. Aip mendukung upaya pemerintah
berswasembada kedelai pada 2017. Namun, upaya tersebut harus diikuti pengaturan
impor kedelai untuk memberikan insentif lebih baik bagi petani.
Indonesia perlu belajar dari Tiongkok yang petaninya
kehilangan gairah menanam kedelai karena keran impor kedelai dibuka lebar dan
mengalahkan petani setempat. Dampak pembukaan pasar itu mengenaskan.
(Ninuk
Mardiana Pambudy)
Kompas, Senin,
16 Februari 2015
No comments:
Post a Comment