Pondok Ilmu Pengetahuan

Wednesday, February 18, 2015

KEWIRAUSAHAAN



MERAJUT WARALABA INDONESIA

Penggaguran dan lapangan kerja merupakan masalah klasik Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Jumlah penganggur pada Agustus 2014 sebanyak 7,24 juta jiwa, berkurang 170.000 jiwa dibandingkan Agustus 2013

Meski berkurangnya jumlah penganggur merupakan pencapaian positif, masalah pengangguran tetap menghantui Indonesia. Apalagi pada 2025 – 2030 Indonesia akan mendapat bonus demografi yakni suatu keadaan dengan jumlah pendudukan produktif lebih besar dari pada jumalh penduduk muda dan lanjut muda (lansia)

Pada saat itu jumlah penduduk (usia 19-64 tahun) lebih besar dari pada usia muda (18 tahun ke bawah) dan lansia (65 tahun ke atas). Penduduk usia produktif yang tidak memiliki kesempatan kerja akan menjadi malapetaka bagi negara.

Wirausaha menjadi salah satu alternative merangkul penganggur. Kewirausahaan di bidang waralaba menjadi salah satu sasaran strategis pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan produk domestic bruto sebesar 5,8 persen pada 2015 menjadi 7,1 persen pada 2017 dan 8,0 persen pada 2019.

Dalam seminar waralaba yang digelar K&K Advocates, Bird & Bird dan Nurjadin Sumono Mulyadi &Partners Law Office terungkap bahwa waralaba merupakan bisnis jadi yang tinggal dikembangkan. Format dan managemen bisnisnya jelas, mereknya kuat, punya hak kekayaan intelektual, dan pangsa pasarnya bagus.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat pada 2005 ada 366 waralaba di Indonesia, Jumlah itu terdiri dari 237 waralaba asing dan 129 waralaba local. Pada 2013 jumlahnya semakin bertambah menjadi 875 waralaba yang terdiri dari 308 waralaba asing dan 567 waralaba local.

Semakin banyak pilihan dalam bisnis waralaba, mulai dari makanan dan minumanm jasa pencucian baju, otomotif, ritel, hingga jasa pendidikan dan kesehatan. Syarat modalnya juga beragam kurang dari 10 juta hingga diatas 50 juta.

Mengembangkan waralaba local penuh tantangan, misalnya persaingan dengan waralaba asing. Waralaba asing sudah memiliki standart kualitas internasional, disiplin manajemen, inovasi tinggi, dan format bisnis yang kuat. Pertumbuhan bisnis waralaba asing 6-7 persen sedangkan waralaba local 2-3 persen.

Beberapa waralaba local sudah memiliki merek, jejaring, dan pangsa pasar yang kuat. Bahkan sudah ada yang membuka jaringanwaralaba di luar negeri.

Namun, waralaba local yang baru bertumbuh. Tiga tahun belakangan, instansi tersebut juga telah mendampingi 384 UMKM.

Namun, dari jumalah itu, tidak sampai separuhnya mampu mengembangkan bisnis. Peryebabnya, belum ada konsep bisnis, managemen keuangan, serta permodalan yang baik dan kuat.

Dengan kondisi demikian pada era perdagangan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang efektif pada akhir 2015, waralaba Indonesia akan semakin tertindas. Waralaba dari negara negara ASEAN bisa merebut pasar Indonesia.

Indonesia sebenarnya memiliki peluang kewirausahaan yang bagus. Sektor ekonomi kreatif tumbuh dan minat anak muda terhadap teknologi informasi meningkat. Hal ini memunculkan wirausaha bidang digital yang membuat produk menjadi mudah diakses menggunakan aplikasi bergerak.

Charles Leadbeater, penulis inggris dan mantan penasihat mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan sebuah negara bisa tumbuh baik jika mengombinasikan pendidikan, kreativitas, kewirausahaan dan inovasi. Bagaimana dengan Indonesia ?

(Hendriyo Widi)
Sumber Kompas

No comments:

Post a Comment