MERAJUT WARALABA INDONESIA
Penggaguran dan lapangan kerja merupakan masalah
klasik Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Jumlah penganggur
pada Agustus 2014 sebanyak 7,24 juta jiwa, berkurang 170.000 jiwa dibandingkan
Agustus 2013
Meski berkurangnya jumlah penganggur merupakan
pencapaian positif, masalah pengangguran tetap menghantui Indonesia. Apalagi
pada 2025 – 2030 Indonesia akan mendapat bonus demografi yakni suatu keadaan
dengan jumlah pendudukan produktif lebih besar dari pada jumalh penduduk muda
dan lanjut muda (lansia)
Pada saat itu jumlah penduduk (usia 19-64 tahun) lebih
besar dari pada usia muda (18 tahun ke bawah) dan lansia (65 tahun ke atas).
Penduduk usia produktif yang tidak memiliki kesempatan kerja akan menjadi
malapetaka bagi negara.
Wirausaha menjadi salah satu alternative merangkul
penganggur. Kewirausahaan di bidang waralaba menjadi salah satu sasaran
strategis pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan produk domestic bruto
sebesar 5,8 persen pada 2015 menjadi 7,1 persen pada 2017 dan 8,0 persen pada
2019.
Dalam seminar waralaba yang digelar K&K Advocates,
Bird & Bird dan Nurjadin Sumono Mulyadi &Partners Law Office terungkap
bahwa waralaba merupakan bisnis jadi yang tinggal dikembangkan. Format dan
managemen bisnisnya jelas, mereknya kuat, punya hak kekayaan intelektual, dan
pangsa pasarnya bagus.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat pada 2005
ada 366 waralaba di Indonesia, Jumlah itu terdiri dari 237 waralaba asing dan
129 waralaba local. Pada 2013 jumlahnya semakin bertambah menjadi 875 waralaba
yang terdiri dari 308 waralaba asing dan 567 waralaba local.
Semakin banyak pilihan dalam bisnis waralaba, mulai
dari makanan dan minumanm jasa pencucian baju, otomotif, ritel, hingga jasa
pendidikan dan kesehatan. Syarat modalnya juga beragam kurang dari 10 juta
hingga diatas 50 juta.
Mengembangkan waralaba local penuh tantangan, misalnya
persaingan dengan waralaba asing. Waralaba asing sudah memiliki standart
kualitas internasional, disiplin manajemen, inovasi tinggi, dan format bisnis
yang kuat. Pertumbuhan bisnis waralaba asing 6-7 persen sedangkan waralaba
local 2-3 persen.
Beberapa waralaba local sudah memiliki merek,
jejaring, dan pangsa pasar yang kuat. Bahkan sudah ada yang membuka
jaringanwaralaba di luar negeri.
Namun, waralaba local yang baru bertumbuh. Tiga tahun
belakangan, instansi tersebut juga telah mendampingi 384 UMKM.
Namun, dari jumalah itu, tidak sampai separuhnya mampu
mengembangkan bisnis. Peryebabnya, belum ada konsep bisnis, managemen keuangan,
serta permodalan yang baik dan kuat.
Dengan kondisi demikian pada era perdagangan
Masyarakat Ekonomi ASEAN yang efektif pada akhir 2015, waralaba Indonesia akan
semakin tertindas. Waralaba dari negara negara ASEAN bisa merebut pasar
Indonesia.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang kewirausahaan
yang bagus. Sektor ekonomi kreatif tumbuh dan minat anak muda terhadap
teknologi informasi meningkat. Hal ini memunculkan wirausaha bidang digital
yang membuat produk menjadi mudah diakses menggunakan aplikasi bergerak.
Charles Leadbeater, penulis inggris dan mantan
penasihat mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan sebuah negara
bisa tumbuh baik jika mengombinasikan pendidikan, kreativitas, kewirausahaan
dan inovasi. Bagaimana dengan Indonesia ?
(Hendriyo Widi)
Sumber
Kompas
No comments:
Post a Comment