Benih Padi
Pak Tani menyelenggarakan upacara
selamatan menjelang musim tanam. Ia mengambil sebagian padi untuk hiasan
upacara dan sebagian lagi untuk disiapkannya sebagai benih untuk ditanam. Biji
padi yang dijadikan benih ternyata cemburu dan berkeluh kesah kepada Pak Tani.
"Pak Tani tidak adil!!
Mengapa hanya sebagian teman kami
yang Bapak pilih untuk dijadikan hiasan? Lihatlah, mereka dikagumi dan
dipuji-puji banyak orang, sedangkan kami sama sekali tidak diacuhkan. Pak Tani
sungguh tidak adil!"
Pak Tani mendengarkan keluh kesah
mereka namun tidak menjawab. Ia malahan segera mengangkut mereka dan
melemparkannya ke berbagai penjuru sawah, ketengah-tengah tanah becek yang
kotor. Benih padi semakin sedih. Beberapa hari kemudian, Pak Tani menjenguk sawahnya dan menyapa benih
padi.
" Selamat pagi, Benih Padi.
Apa kabarmu?"
"Pak Tani, mengapa kami
dibuang ke tanah kotor ini? Apa salah kami? Kami kedinginan dan kepanasan, tapi
kaubiarkan kami. Wajah kami kini jadi rusak. Lihat, ada banyak serat akar
tumbuh pada tubuh kami. Tolong angkat dan bersihkan kami, Pak Tani!"
"Kutolong kamu, Benih
Padi," Jawab Pak Tani.
Akan tetapi, Pak Tani tidak juga
mengangkat atau membersihkan benih-benih padi itu. Berhari-hari ia tetap
membiarkan benih padi tinggal ditanah yang becek dan kotor. Dibiarkannya pula
akar yang tumbuh semakin banyak.
Bahkan, yang tumbuh bukan hanya akar, melainkan juga batang dan daun
semakin lebat hingga suatu saat benih padi itu lenyap tak berbekas.
Sawah itu kini menguning, penuh
dengan tanaman padi yang berbulir lebat. Banyak orang mengagumi keindahannya
dan banyak orang yang membutuhkannya. Pak Tani datang menjenguk benih padinya.
"Benih Padi, bagaimana kabarmu
hari ini?"
" Pak Tani, terima kasih atas
pertolonganmu," kata benih padi yang kini berubah menjadi tanaman yang
berbuah lebat.
No comments:
Post a Comment