Betapa Hal Kecil Bisa Merubah Hidup Anda
ANDA MUNGKIN SERING MEREMEHKAN
Anda
mungkin sudah sangat sering mendengar nasehat ini, "api kecil adalah
kawan, api besar adalah lawan". Saat api masih kecil ia adalah energi yang
bersahabat dan menghangatkan. Akan tetapi, saat ia menjadi besar dan tidak
terkendali, ia akan menjadi malapetaka yang menyengsarakan. Anda, biasa
mencontohkannya dengan kebakaran.
Api yang
kecil sering kita remehkan. Mungkin saja karena ia masih "no harm",
cuma hangat dan sama sekali tidak panas. Api kecil kita remehkan hanya karena
ia bersahaja dan bersahabat. Terus begitu sampai semuanya sudah terlambat.
Itulah yang bisa terjadi sesungguhnya, yaitu sikap yang meremehkan. Maka, tidak
jarang kita mendengar musibah kebakaran, yang terjadi "hanya karena"
sepuntung rokok, setengah sisa lilin, atau sepercik sulut dari colokan AC yang
"konslet".
Disadari
atau tidak, kita juga sangat mungkin sering memandang sesuatu dengan sebelah
mata. Plastik kresek di tengah jalan. Botol air mineral yang menyumbat selokan.
Sedikit air menggenang di batok kelapa yang telentang. Seulas oli yang merembes
di sela-sela sil mesin kendaraan, dan sebagainya.
Bisa jadi,
kita juga sering meremehkan apa yang ada pada orang lain. Orang yang cacat,
orang yang tidak mampu, orang yang berpenampilan buruk, orang yang tak
terdidik, orang yang ber-iq rendah, orang yang tidak bisa menyebutkan huruf
"r" dengan benar, orang yang tidak ngganteng, dan sebagainya.
Bahkan
disadari atau tidak, kita mungkin sudah terbiasa juga dalam meremehkan, apa-apa
yang ada pada diri dan di dalam jiwa kita. Bahwa Anda perlu mencoba menulis,
sebanyak Anda berbicara atau mendengar, Anda belum tentu melakukannya. Bahwa
kita perlu secara teratur berolahraga, kita mungkin lebih memilih bergelung di
pagi buta. Bahwa Anda perlu juga berekreasi dan tidak terlalu gila dalam bekerja.
Bahwa kita tidak perlu terlalu banyak bagadang. Bahwa Anda musti selalu
berpikiran positif. Bahwa kita perlu untuk sering bersilaturahim. Bahwa Anda
perlu ikhlas dan menerima keadaan tanpa terlalu banyak bertanya, dan
sebagainya.
Semua itu
mungkin saja kita remehkan, sampai semuanya mulai terbuka. Terbuka menyeruak
dan menunjukkan sikap protesnya. Maka, mulailah tubuh Anda merasa kurang fit.
Hati Anda lebih mudah terguncang dan tergoyahkan. Fisik Anda mulai melemah.
Pikiran Anda mulai kacau. Iri dan dengki mulai menghinggapi. Bermacam-macam
implikasinya. Bagaimana dengan tekanan darah? Bagaimana dengan kondisi jantung
yang mungkin bisa menjadi lemah?
Kesadaran
itu seperti hampir selalu terlambat datangnya. Sebabnya, hanya karena kita
telah terlanjur meremehkan dan menunda. Jika Anda tidak termasuk dalam contoh
di atas, ya syukurlah. Anda, bisa jadi sehat jiwa dan raga. Congratulation!
HAL KECIL
BISA MERUBAH HIDUP ANDA
Dua
pertanyaan yang paling sering harus Saya jawab berkaitan dengan workshop sehari
Saya adalah:
Apakah satu
hari bisa merubah hidup Saya?
Apakah
perubahan itu akan permanen sifatnya?
Saya biasa
menjawabnya dengan gambaran yang sederhana. Saya jelaskan sambil bertanya,
"apakah satu detik bisa merubah hidup seseorang?" Kemudian Saya jawab
sendiri, "ya!" Bagaimana hal itu bisa terjadi? Di sinilah Anda sering
lupa, karena sebenarnya jawaban pertanyaan itu selalu berseliweran di depan
mata Anda!
Bukan
bermaksud mendoakan terjadinya musibah dan bencana, ini hanya gambaran dan
cerita.
Seseorang
yang terbiasa berkendaraan di jalan tol, mungkin saja meremehkan aktivitas
berkendaranya. Jika tidak berhati-hati, "kemelengannya" akan membawa
celaka. Dan "meleng" itu, adalah jelas sebuah tanda meremehkannya.
Atau jikapun yang bersangkutan sudah cukup berupaya untuk selalu fokus dan
berkonsentrasi dengan kemudinya, mungkin saja tiba-tiba mobilnya pecah ban.
Sangat mungkin bukan? Berapa detikkah itu terjadi? Berubahkah hidupnya?
Berubahkah hidup keluarganya? Berubahkah hidup anak dan istri atau suaminya?
Sebuah
pesawat yang terjun menghunjam ke laut dan terus merasuk sampai ke dasarnya,
berapa detik? Kapal yang tenggelam ke dasar laut, berapa menit? Berubahkah
kehidupan mereka, kehidupan sanak dan familinya? Ya! Hidup ini tidak akan
pernah sama lagi bagi mereka.
Tapi Pak
Sopa, bukankah semua itu adalah persoalan besar dan bukan hal kecil seperti
yang Bapak maksud? Ya saudaraku, kita tidak bisa tidak, akan melihatnya sebagai
sebuah peristiwa besar yang memilukan setiap hati dan mata. Peristiwa
kemanusiaan yang penuh tragedi dan bela sungkawa. Memang itulah adanya.
Akan
tetapi, bagaimanakah selama ini Anda melihatnya dengan kaca mata self
development, dari kacamata pengembangan diri Anda sebagai seorang pembelajar?
Anda mungkin lupa, atau bahkan Anda mungkin belum melihatnya. Itulah yang
terjadi, dan itulah yang mungkin sudah terlanjur menjadi kebiasaan. Anda
mungkin telah melupakan, bahwa itu bukan hanya peristiwa sosial yang nyata,
akan tetapi juga pelajaran untuk pengembangan.
Maka, tidak
aneh jika kemudian muncul berbagai reaksi terhadap semua itu, yang seolah-olah
berkata, "kok bisa ya?" Ya tentu saja bisa! Lha wong selama ini sudah
terlihat dengan jelas bahwa arahnya memang ke sana kok. Hanya saja, selama ini
banyak orang hanya melihatnya sebagai sebuah fenomena sosial, fenomena
melorotnya ekonomi, fenomena mundurnya sikap ke arah yang lebih "semau
gue" dan "yang penting gue". Di mana fungsinya sebagai alat
pengembangan diri, sebagai alat belajar dan antisipasi?
Hidup Anda
bisa berubah hanya dalam sekian detik. Dan itu, Anda yang melakukannya, bukan
Saya. Bukan siapa-siapa. Hidup kita bisa berubah dalam sekian detik, dan itu
karena kita sendiri. Jika belajar Insya Allah positif, dan jika tidak tentu
negatif.
Pertanyaan
kedua, biasanya Saya jawab dengan berkaca pada berbagai kenyataan lain, yang
melekat pada diri kita. Apakah uang Anda permanen? Apakah Anda akan selalu
sehat sejahtera? Apakah nyawa Anda permanen? Apa yang harus Anda lakukan? Tentu
saja memeliharanya selagi bisa!
Dan khusus
untuk workshop Saya yang tentang percaya diri itu, Saya kembalikan saja kepada
si penanya, bahwa semua ini adalah tentang mempercayai diri sendiri. Maka,
seberapa jauh dan kuatkah keinginannya, untuk mempertahankan dan memelihara
rasa percaya diri itu? Seberapa percayakah Anda, bahwa Anda memang akan selalu
percaya diri? Tahukah Anda cara mempertahankannya?
Pada
intinya, Anda tidak punya pilihan lain, kecuali melakukan tugas memelihara,
sebagai limpahan tugas dari Tuhan Yang Maha Pemelihara. Sebesar apapun yang
diamanatkan kepada Anda, dan tentu saja: sekecil apapun.
TIDAK ADA
YANG KECIL UNTUK PENGEMBANGAN DIRI ANDA
Perubahan
hidup seseorang adalah sebuah titik sentak. Adalah benar bahwa prosesnya
berjalan dengan durasi dan eskalasi tertentu. Namun demikian, event perubahan
itu sendiri adalah sebuah titik. Sebuah titik puncak, yang karena merupakan
puncak, seringkali terlewatkan dan dianggap kecil. Dan jika itu yang terjadi,
maka bahkan prosesnya pun kita sering lupa. Kok bisa begini ya? Aku nggak habis
pikir hasilnya seperti ini?
Apa yang
disebut dengan proses perubahan, adalah kumpulan dari titik-titik event
perubahan. Kumpulan dari sentakan-sentakan yang mendaki. Ketahuilah bahwa
pendakian perubahan tidak akan pernah mulus. Maka, proses perubahan lebih
akurat digambarkan sebagai serangkai undakan anak tangga, ketimbang sebuah
grafik yang melengkung dengan halus.
Adalah
tidak aneh bahwa hidup seseorang bisa berubah - ke arah yang baik maupun ke
arah yang buruk, hanya dalam waktu yang singkat dan dengan sebuah peristiwa
yang "kecil". Betapa banyaknya kisah sufi yang memberi contoh, bahwa
hal kecil adalah pelajaran yang sangat besar dan berharga. Maka, janganlah lagi
Anda meremehkan apa yang Anda sebut dengan kecil, sebentar, singkat,
"se-upil", "teri", minim, pendek, atau sekilas saja.
Berhati-hatilah, karena semua itu sangat mungkin bisa merubah hidup Anda.
Jika Anda
mabuk, kemudian Anda menusuk seseorang hingga mati, maka hidup Anda jelas
berubah. Jika Anda tidak sengaja menabrak orang lain hingga sekarat, hidup Anda
juga akan berubah. Berapa detik?
Perubahan
besar di dalam hidup Anda, juga bisa terjadi "hanya" karena hal-hal
yang "kecil".
Seorang
peserta workshop Saya, menyatakan sangat puas di sore hari setelah selesai
acaranya. Akan tetapi, ada pernyataan dia yang membuat Saya ingin menyelidiki.
Pernyataan kepuasan itu, diutarakan dengan menyisipkan kata
"padahal". "Saya sangat puas, padahal Saya ikut workshop ini
dengan tanpa sengaja." Dua hal bahkan yang menggoda Saya,
"padahal" dan "tanpa sengaja".
Waspadalah,
there is no such thing as "padahal" dan "kagak sengaja".
Semuanya adalah keputusan Anda. Dan tidaklah bijaksana jika Anda mengatakan
"padahal" dan "tidak sengaja", hanya berdasarkan fenomena
fisik saja. Sebab jika Anda terjerat olehnya, Anda cenderung mengecilkan
berbagai hal yang sebenarnya besar dan bisa merubah hidup Anda.
Besar atau
kecil, tidak terletak pada fenomena fisiknya. Sebab, bukan itu realitanya.
Realitanya, adalah apa yang ada di kepala Anda. Itu sebabnya, Anda dianjurkan
untuk tidak berhenti membaca sebuah buku, jika telah selesai membacanya sekali.
Setiap orang bijak, akan mengatakan, "bacalah lagi, bacalah lagi, dan
bacalah lagi". Jika Anda berhenti membacanya setelah satu kali, maka Anda
telah mengecilkan makna sebuah buku, hanya karena frekuensi bacanya. Padahal,
jika sekali baca belum berpengaruh pada diri Anda, tidak berarti membacanya
sekali lagi akan begitu juga.
Jika Anda
mendapatkan kado ulang tahun dari "yayang" Anda, dan Anda hanya
mendapatkan sebuah figura, padahal Anda berharap mendapatkan berlian dan
permata, apa reaksi Anda? Kecewa dan kemudian mengecilkannya? Jangan!
Berpikirlah bahwa "yayang" Anda telah berupaya sekerasnya, dengan
sepenuh cinta, dengan setulus hati, dengan rasa sayang setengah mati. Hanya
itulah yang akan membuat Anda, tidak kehilangan makna.
Saya
menelusuri ke staf Saya, berkaitan dengan "sejarah" dari peserta
workshop Saya tadi. Dan ternyata, dia sudah menunda untuk mengikuti workshop
Saya sampai tiga kali. Beginilah cerita peserta itu kepada Saya.
Di suatu
siang, ia memasuki sebuah kantin di bilangan Kuningan, untuk lunch. Hari itu,
kebetulan ia sendirian. Di pintu kantin, ia melihat sebuah meja agak di
pojokan, kosong tanpa penghuni. Ia menuju ke sana. Duduk dengan manis, dan
mulai membaca menu mencari penganan yang dia mungkin suka. Dari sudut matanya,
ia memperhatikan bahwa mejanya belum dibersihkan. Di sudut yang lain, matanya
tertumbuk pada selembar kertas lusuh yang sudah setengah basah. Pikirnya, itu
adalah kertas yang ditinggalkan oleh pejajan sebelumnya. Hmm, kertas yang
sedang diremehkan dan dianggap tak berguna.
Selesai
makan, ia penasaran. Disambarnya kertas itu, dan dibawanya pulang ke kantor.
Entah bagaimana, kertas itu tetap dipertahankan dan tidak dibuangnya ke tong
sampah. Mungkin, karena ia mulai tertarik dengan isinya, informasi tentang
workshop Saya.
Saya tidak
tahu apakah brosur workshop Saya itu sering dibacanya atau tidak, akan tetapi
menurut staf Saya, ia menunda ikut sampai tiga kali, sebelum akhirnya
memutuskan untuk hadir dan mengikuti. Mungkin, fenomena fisik yang sama juga
masih menghinggapinya, hingga ia belum juga terpengaruh olehnya. Atau, waktunya
yang belum memungkinkan, tapi ia sendiri juga mengatakan bahwa waktunya longgar
karena ia cukup "boss" di kantornya.
Dan seperti
yang sudah Saya ungkapkan di atas, ia mengatakan sangat puas setelah mengikuti
workshop Saya. Berubahkah hidupnya? Ya! Berulang kali ia menelepon Saya, hanya
untuk berbincang dan mengingatkan kembali, bahwa kini ia sudah lebih percaya
diri.
Hidupnya
berubah. Dan itu terjadi, "hanya karena" selembar brosur, yang telah
lusuh dan kumuh tertumpah kuah mi ayam, yang semula diremehkannya dan ditemukan
"tanpa sengaja"! Waspadalah, dan berhentilah membesar-kecilkan makna,
hanya karena fenomena fisiknya. Tidak baik untuk Anda.
HAL KECIL
BISA BERBAHAYA UNTUK ANDA
Anda
mungkin sudah pernah mendengar cerita ini.
Seorang
jenderal, berkuda di depan memimpin pasukannya memasuki sebuah kota. Ia dan
pasukannya, baru saja menaklukkan kota itu. Maka, parade kemenangan itu mulai
dirayakan saat memasuki kota taklukan dengan gagahnya. Dagu Sang Jenderal
terangkat saat memasuki gerbang kota. Kudanya pun melangkah dengan gagah.
Begitu pula pasukannya.
Di
sepanjang jalan utama, di kiri dan kanan jalan setiap orang duduk bersimpuh.
Merendahkan diri sebagai bangsa yang telah takluk. Mengangkat kepala pun mereka
tidak berani. Dipancung nanti. Begitulah, Sang Jenderal dan pasukannya, derap
demi derap menyusuri jalan utama kota.
Di suatu
belokan, Sang Jenderal melihat seorang tua terbungkuk-bungkuk, tertatih
melangkah perlahan menyeberangi jalan. Sang Jenderal tersinggung melihatnya. Ia
yang merasa sebagai penakluk, harus terhalang jalan oleh seorang tua renta yang
kumuh dan baunya tercium kemana-mana. Ditegurnya Pak Tua itu dengan keras,
"Hei tua renta! Tahukah engkau siapa aku? Akulah penguasa kota ini
sekarang!"
Pak tua itu
mengangkat kepalanya perlahan, memandang Sang Jenderal sebentar, dan kemudian
tanpa acuh meneruskan langkahnya menyeberang jalan. Perlahan dan menggemaskan.
Sang Jenderal pun naik pitam. Jika saja tidak tua renta, ia sudah menghunus dan
menebaskan pedangnya. Ia sekali menghardik, "Hai kau tua renta, engkau
pikir dirimu siapa! Minggirlah sebelum kupancung kepala busukmu itu!"
Sekali
lagi, Pak Tua berhenti dan mengangkat kepalanya, dan sekarang ia mengangkat
tangannya, menegakkan jari telunjuknya, memberi isyarat tanda memanggil. Bukan
kepalang kemarahan Sang Jenderal. Sesak dadanya dan mendidih kepalanya. Tanpa
sadar, ia menggiring kudanya mendekati Pak Tua renta. Dipelototinya Pak Tua itu
tanpa bisa berkata apa-apa. Pak Tua, dengan nekatnya terus menggerakkan
telunjukknya. Kurang dekat, mungkin itu maksudnya. Ia ingin mengatakan sesuatu.
Di atas
kuda, Sang Jenderal sudah tertelan oleh kemarahannya atas "keremehan"
Pak Tua. Tapi saking tak tahu harus bagaimana, ia malah menjulurkan kepalanya
untuk bisa mendengar bisikan Pak Tua. Setelah begitu dekat telinga Sang
Jenderal ke mulut Pak Tua, Pak Tua itu membisikinya dengan desahan lirih yang
hampir tak terdengar.
"Saya
Izroil..."
Jenderal
itu melorot dari kudanya dan langsung mati.
Berhentilah
mengecilkan sesuatu, hanya karena fenomena fisiknya. Anda akan kehilangan
makna. Padahal itu, mungkin saja bisa merubah hidup
No comments:
Post a Comment