Management Belajar
Alhamdulillah,
tak terasa sudah bulan maret. Hampir mendekati ujian sekolah yang super sibuk.
Setiap orang yang belajar pasti menghadapi dinamika belajar di sekolahan.
Perbedaannya ada yang merencanakan belajarnya dengan baik sehingga bisa
menyeimbangkan belajar dan ikut kajian islam (ilmu keakheratan).
Ada juga yang
membiarkan saja mengalir apa adanya tanpa management yang bagus. Nilai manajemen
belajar dalam proses pembelajaran sangatlah penting
khususnya bagi temen temen SMA dan SMK. karena pada hakekatnya belajar itu juga
dalam rangka meraih keahlian yang berpijak dari Ilmu pengetahuan. Sekolah
Menengah Atas ataupun kejuruan adalah sarana mendapatkan keahlian yang nantinya dibutuhkan untuk
mendaftar ke tingkat perguruan tinggi (menjadi tenaga ahli). Harapannya kelak
kita bisa menjadi Tenaga ahli diharapkan memberikan sumbangsih besar dalam
pembangunan masyarakat bukan malah menjadi pengangguran. Karena ketika kita ahli
di suatu bidang maka akan dicari banyak orang.
Hal ini yang menjadi masalah di
pendidikan indonesia yang belum banyak mengenal pembelajaran ketrampilan
proses. Masih mengandalkan DDCH (DUDUK, DIAM, CATAT DAN HAFAL). Negara negara
maju sudah meninggalkan sistem DDCH dan membuang jauh jauh sistem tersebut.
Termasuk di negara Finlandia dan Amerika serikat semenjak taman kanak kanak
sudah diajarkan berpikir pola ketrampilan proses. yakni ketika mencari suatu
istilah harus dikongkritkan dilapangan. seperti misalkan mencari hakekat pasar.
maka siswa diajak ke pasar dan mengamati realitas pasar yang kemudian siswa
mendefinisikan sendiri pengertian pasar.
Sistem budaya belajar yang tektual hingga
contek sudah biasa di indonesia sehingga ini menjadi masalah lingkaran setan
yang tak pernah selesai karena pelajar mengharapkan nilai bukan keahlian. Makanya
banyak yang setelah lulus sekolah bingung mau ngapain meski nilai bagus tapi
tidak mencerminkan kualitas kemampuan. Selain masalah sistem belajar tersebut,
ditambah Kebanyakan masalah belajar menjadi momok pelajar terutama mereka
sering kali meniru gaya belajar orang lain seperti teman atau kakak kelasnya. Padahal
sistem belajar tersebut tidak sesuai dengan dirinya.
Akhirnya menjadikannya
bingung dengan pelajaran. Efeknya sering kita temui ada pelajar yang menjadi
pelajar pinggiran yang penting mengerjakan tugas sekolah, datang absen,
kemudian di kelas tidak memperhatikan, ketika ada tugas dikerjakan pagi harinya
di sekolah atuapun belajar kebut semalam. Maka perlu mempertanyakan untuk apa
mereka bersekolah?. Hasil nilainya juga biasa atau tidak ada yang membanggakan.
Kemudian ada juga pelajar yang motivasi belajarnya rendah, tidak aktif di
organisasi dan tidak berprestasi. Ditambah mudah direkrut dengan kondisi lingkungan
pelajar SMK/SMA yang berpacaran, sek bebas, menjadikannya mudah malas belajar.
Adapun sebab kenapa pelajar itu malas untuk
belajar :
a. Minat rendah
Minat yang rendah untuk sekolah juga menjadi masalah. Mungkin karena
tidak minat dengan jurusan yang dipilih, tidak minat sekolah di swasta, ataupun
tidak ingin lanjut sekolah karena dipaksa orang tua.
b. Tidak tahan mental
Masalah tidak tahan mental menjadi masalah serius, ketika dihadapkan pada
tugas tugas sekolah. sampai memunculkan pertanyaan “kenapa guru kerjaannya
memberi tugas?”. Belum lagi kompetisi nilai sekolah dengan teman temannya. hal
ini menjadikannya tidak tahan menghadapi tekanan belajar. Ffeknya bisa stress,
Droup atau sering sakit psikis sebelum ketika menghadapi ujian.
c. Tekad
belajar kurang ( problem moral )
Tekad dalam belajar kurang merupakan
problem moralitas yang menjadi masalah. Tidak ada kesungguhan memperhatikan
pelajaran, sering guyonan dan mencontek. Ketika ada tugas dikerjakan apa
adanya. Kalau dapat bagus Alhamdulillah, kalau tidak dapat juga syukur karena
bisa remidi tambah pinter.
d. Terjebak
dalam pola belajar tekstual
Bisa juga karena terjebak dalam pola belajar tekstual yang menjadikannya
tidak paham materi, tujuan materi, hubungan antar materi, logika materi dan
penerapan materi di lapangan. Memunculkan kebingungan ketika disuruh
mempraktekan di soal soal latihan ataupun di lapangan. Sehingga kebanyakan
hapal rumus tapi bingung cara mengoperasionalkan ketika ada soal ujian.
e. SALAH
ORIENTASI
Permasalahan yang mendasar ada yang salah orientasi dalam belajarnya. Terutama
belajar di sekolah karena ingin mencari pasangan hidup, karena teman,
sahabatnya , sehingga focus belajarnya
f. Kekeliruan
dalam manajemen belajarnya (cara belajarnya, manage waktu belajarnya, dsb)
Biasanya
masalah ini yang menjadi masalah serius ketika seorang pelajar tidak bisa
menagemen waktu belajarnya dengan baik. Terutama pelajar yang ikut organisasi terlalu
terlalu banyak. Mulai dari rohis, PMR, OSIS, MPK, dsb menjadikannya susah untuk
membagi waktu, bingung sendiri, belum lagi sering dimarahin ortu karena pulang
malam. Yang menjadikannya tidak tertata dengan baik jadwal belajar dan
berorganisasinya. Efeknya belajarnya tidak optimal dan ikut organisasinya juga
setengah setengah.
Bagaimana Manajemen Belajar itu ?
Definisi dari manajemen : Pengelolaan sumber daya untuk mencapai tujuan,
Sedangkan Definisi belajar : Proses
mendapatkan keahlian yg berpijak pada ilmu. Sehingga Definisi manajemen
belajar adalah Pengelolaan sumber daya untuk mencapai
keahlian yg berpijak pd ilmu. Dalam hal ini
Prinsip belajar secara umum adalah Menguasai kemampuan mata
belajar sesuai dengan TIU dan TIK. Tatarannya sampai wawasan dan juga penerapan
soal soal latihan serta lapangan keahlian (magang) .
Analisis SWOT (internal) –Kekuatan, Kelemahan,
Peluang dan Ancaman
Maksudnya memetakan kondisi diri kita dan
lingkungan tujuannya untuk mengukur sejauh mana kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman dalam mencapai target. Yang menjadi pijakan dalam membuat strategi
belajar dan berorganisasi.
1. Intelegensi
-
Seberapa Kemampuan analitis kita?
o
Mengukurnya dari track record mata pelajaran
biasanya kita mendapatkan skor nilai KKM atau melebihi KKM atau Skor memuaskan.
-
Seberapa Kemampuan abstraksi kita ?
o
Mengukurkan ketika guru menjelaskan apakah kita
bisa membayangkan apa yang guru jelaskan atau minimal kita tidak bingung dengan
penjelasan guru. Tidak masuk kuping
kanan keluar kuping kiri.
-
Seberapa Daya tahan konsentrasi kita?
o
Mengukurnya seberapa lama kita tahan membaca
buku maupun tahan berlama lama dalam belajar. kongkirtkan berapa lama : 5
menit, 10 menit, 30 menit, atau 1 jam atau bisa sampai 2 jam.
2. Mentalitas
-
Seberapa Confidenity (Percaya diri) dengan diri kita?
-
Mudah
menyerah atau tidak ketika mendapatkan soal soal sulit
-
Encourage/Dukungan
dari orang tua, teman, sahabat?
- Seberapa Kompetitif (HDT) diri kita dengan teman teman lain dalam mengejar
kemampuan.
-
Optimistis
atau mudah pesimistis?
-
Semangat
belajar ada atau tidak?
-
Semangat berorganisasi ada atau tidak?
3. Infrastruktur
belajar
-
Lengkap
atau tidak : buku buku yang tersedia di rumah
4. Moralitas
-
Kerja
keras atau kemalasan ?
5. Level minat thd bidang tertentu
untuk memback up belajar mandiri
-
Adakah
mata pelajaran yang diminati dan paling disukai
- Menyukai
pelajaran bukan karena cara ngajar gurunya enak, bukan karena ikut ikutan teman
tapi karena memang suka bidang tersebut
6. Fisik
-
Mudah sakit,
cepat lelah, jenuh atau fisiknya kuat?
-
Masalah
psikologis lainnya seperti ketika menghadap ujian selalu sakit, dsb
Analisis SWOT (eksternal)
1. Lingkungan
dan Sistem Sekolah
- Apakah
ada lingkungan sekolah dan sistem sekolah yang menghambat kita untuk belajar
atau justru mendukung pembelajaran
2. Kurikulum
-
Apakah
kurikulum mengarahkan pada keahlian dalam belajar?
3. Teknik
Belajar
-
Teknik
belajar yang digunakan guru mata pelajaran
o
Apakah
tutorial /penjelasan, Catat dan Hafalan, ataupun guru mengajak langsung ke
lapangan
4. Peraturan
Akademik
5. Lingkungan organisasi
-
Seberapa banyak organisasi yang kita ikuti?
6. Lingkungan
Keluarga
- Karakter orang tua : demokratis/membebaskan/perhatian,
otoriter/tidak toleran atau tidak mempedulikan?
Masing masing
memiliki kelebihan dan kelemahan menjadi pijakan kita untuk menentukan target
nilai yang realistis.
Penetapan target pembelajaran
1.
Target
Nilai per mata pelajaran
2.
Target Nilai rapot/akhir
3.
Target
Ranking – the best student*
Cara mencapai
keahlian dalam belajar
1.
Referensi referensi buku diperbanyak
2.
Belajar mandiri ditekankan
3.
Kelompokan diskusi mata pelajaran
4.
Empiris / mengamati langsung di lapangan
5.
Mengondisikan berada di organisasi keagamaan
supaya tidak jenuh dan terjaga spiritualisme keagamaannya
Metode
Belajar
A. PRA BELAJAR
Tujuan : preparing pertemuan belajar (sbg sistem kontrol thd pembelajaran di
sekolah)
Teknis Pelaksanaan :
a.
Memahami
target pembahasan / pertemuan
b. Memahami
keterhubungan target dan materi dengan ketampilan mata pelajaran tentunya juga
mengaitkan pembahasan sebelumnya
c. Mencari
bahan yang sesuai untuk belajar
d. Bahan / materi belajar
Jenis Bahan / Materi :
-
Teks / Pustaka: buku, Koran, majalah dan
sebagainya
-
Audio: rekaman belajar
-
Audio – Visual: film
-
Lapangan Riel/Magang
e. Belajar
sendiri
f. Diskusi berkelompok
B. PAS BELAJAR
Tujuan : Menyerap sebanyak – banyaknya pengetahuan baru dan
menguji teori yang disampaikan guru dan yang dicoba soal soal dalam belajar.
Teknis pelaksanaan:
a. Memahami target pembahasan / pertemuan mata
pelajaran
b. Memahami
keterhubungan target dan materi dengan Ketrampilan yang diajarkan serta pembahasan sebelumnya
c. Menjaga
kefokusan terhadap materi saat belajar
d. Mencatat
hal-hal yang dianggap penting
e. Menghayati
dan mengabtrasikan lapangan riel (contoh2) materi atau teori yang diberikan
f. Aktif di
kelas dalam rangka memperjelas hal yang belum dimengerti, memperdalam pemahaman, atau menguji kebenaran pemahaman.
g. Menerapkan
teknik
belajar dengan mandiri dan
berproses / tidak mencontek
C. PASCA BELAJAR
Tujuan : Review dan kroscek
pemahaman mata pelajaran , pengayaan materi, realitas lapangan, praktek
di rumah
Teknis
Pelaksanaan :
a.
Sharing
pemahaman berkelompok
- Melatih latihan soal soal
- Dialog dengan guru/kakak pembina
D. DOING ASSIGNMENT
Tujuan : pengayaan pengetahuan
- Pendalaman
materi /mata pelajaran yang disukai
- Latih soal
soal ujian secara mandiri
Tujuan : pengayaan & PEMANTAPAN
pemahaman
- Sharing dengan kakak pembina
- Baca buku
- Sharing permasalahan belajar
Teknis
Mengoptimalkan Belajar Mandiri
- Menemukan gaya belajar yang sesuai
- Referensi
- Pendengar
- Petualang
- Mandiri
- Berkelompok
- Diskusi
- dsb
- Membuat sistem belajar dan pengondisian belajar bersama
- Mendesain lingkungan belajar / tempat belajar senyaman mungkin: sirkulasi udara dan penerangan baik, akses terhadap bahan dan logistic, tidak bising, dan sebagainya
- Menyusun jam biologis belajar
- Mengoptimalkan belajar kelompok, khususnya dalam hal sharing pemahaman
- berdiskusi dengan guru untuk cross check dan memperdalam pemahaman
Hambatan Belajar & Cara mengatasinya
A. INTERNAL
1. Ketahanan
belajar
a. Menghayati nilai – nilai dlm
belajar, impian, dsj
b. Dipaksa secara bertahap
c. Mencari alternatif metode belajar yang
sesuai
d. Menyetting tempat belajar yang kondusif
e. Terlibat dalam Lingkungan kompetisi
2. Kemalasan
belajar
a. Pengondisian teman teman yang baik
b. Menghayati nilai- nilai dalam
belajar, impian, dsj
c. ”Frontal dilawan”
d. Terlibat dalam Lingkungan Kompetisi
3. Kejenuhan
belajar
a. Refreshing
4. Levelisasi kebingungan pelajar
a. pahami, bukan hafalkan
b. kelas sebagai ruang pengetahuan
c. perbanyak latihan soal dan studi kasus
d. Cek
rutin pemahaman
5. Meniru gaya dan ritme belajar orang lain, padahal
tidak sesuai
a. Memahami
pola gaya belajar selama ini
b. pilih
yg efektif memahamkan
6. Terjebak dalam pola belajar tekstual à plagiat
a. Menghayati
kembali motivasi belajar adl utk keahlian, bukan sekedar nilai
b. tidak
putus asa berlatih belajar
c. membiasakan
belajar mandiri
d. Membiasakan
berfikir mandiri
Eksternal
1. Ikut organisasi terlalu banyak (menganggu waktu belajar)
a. Otak atik waktu peran organisasi
dan belajar
b. Menambah jam biologis Belajar dengan
mengurangi waktu tidur
c. Sharing dengan kakak pembina jika kesulitan
mengatur jam belajar dan peran organisasi
2. Persaingan
kompetisi
a. Kesadaran bahwa kompetisi itu adl alat dan
tidak meninggalkan ukhuwah
b. Jangan terbawa kepada kompetisi yang tidak
etis (semata nilai, dsb) à hakikat kompetisi adalah untuk kompetisi
c. mengingat kembali orientasi belajar adl
KEAHLIAN/KUALITAS KEMAMPUAN..
3. Hanyut dalam
problematika remaja
a. mengingat kembali motivasi studi, impian,
dsj
b. meningkatkan spiritualitas dengan ikut
organisasi keagamaan di sekolah
c. hijrah ke lingkungan pertemanan yg lebih baik,
terutama teman teman yang religius
hubungan dengan orang tua ( perizinan )
a. keep
in touch
b. Menjaga
hubungan baik
c. Menyampaikan
berita bahagia
4.
Infrastruktur
a. Mengoptimalkan fasilitas sekolahan : Wifi,
Perpustakaan, Eebok dsb
No comments:
Post a Comment