Pondok Ilmu Pengetahuan

Tuesday, November 15, 2016

Hedonic Treadmill



“Hedonic Treadmill”
Pertanyaannya : Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

 Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”.

Gampangnya hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.

Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.

Dengan kata lain, nafsmu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-me. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah terpuaskan.

Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan income-mu.

Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.

Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.

Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsumu terus meningkat, kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti?

Disinilah relevan untuk terus mempraktekkan  gaya hidup yang sederhana yang bersahaja : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.
Pola hidup Sederhana menurut Islam : Bagi orang orang yang memiliki cita cita, Khususnya menyangkut kepentingan umat, Mengetrapkan pola hidup sederhana sangat mutlak diperlukan.

Contoh :
1.      Adanya wabah penyakit di masyarakat
2.      Adanya penyakit moral yang telah mengganas di masyarakat
3.      Adanya penindasan atau ketidakadilan di masyarakat
Untuk membebaskan masyarakat dari keganasan penyakit, tentunya diperlukan biaya yang sangat besar, mungkin akan melibatkan kerja secara gotong royong. Semakin besar masyarakat yang terserang penyakit, semakin besar biaya pengeluarannya.

Mereka yang memiliki kesadaran terjadinya penularan wabah, dapat membunuh seluruh penduduk, lalu bertekad untuk berjihad melawan wabah, melepaskan masyarakat dari wabah penyakit. Harusnya sedia berkorban dengan harta dan jiwanya, seperti tokoh Mei Shin dalam cerita Tutur Tinular dan Mahat Magandhi yang membebaskan rakyat india dari penjajahan inggris . Kalau dalam sejarah Islam kita bisa meyaksikan perjalanan kehidupan Nabi Muhammad pada masa kecilnya senantiasa ditimpa oleh penderitaan baik material ataupun kasih sayang. Setelah Menikah dengan khadijah, beliau menjadi jutawan besar. Pada Usia 40 tahun beliau menerima perintah Allah untuk menyembuhkan penyakit Quraisy.

Seluruh hartanya disumbangkan demi cita citanya, lalu beliau hidup secara sederhana, sampai umar bin khattab pernah menangis iba menyaksikan kesederhanaan Rasulullah, beliau tidur pada tikar yang kasar, sampai berbekas pada punggungnya. Dengan pengorbanan hartanya dan harta seluruh orang orang yang mengikuti jejaknya, berhasil menumpaskan penyakit kemusyrikan yang telah melanda umat islam selama ratusan tahun.

Membangun pola hidup sederhana demi cita cita, tidak sama dengan membangun pola hidup miskin. Islam sangat menentang kemiskinan dan orang orang yang suka hidup dalam kemiskinan. Sikap Allah ini dapat dilihat dari Perintah PerintahNya kepada umat Islam agar mereka berpikir, bekerja keras, jangan kawin kalau tidak mampu, dan berikan sebagian harta baik infak dan zakat. Sebaliknya Islam melarang pola hidup berlebihan, memboros boroskan harta, membelanjakan harta untuk kebutuhan kebutuhan sekunder, acuh tak acuh terhadap problematika social bahkan dalam kondisi tertentu. Allah mengutuk orang yang mengaku Islam tapi tidak memberikan harta demi tegaknya kebenaran.

Jadi pola hidup sederhana ini adalah orang yang memahami arti dan kepekaan terhadap hidup dan kondisi kehidupan. Mereka sadar bahwa fitrah manusia senantiasa berjalan menuju kebahagiaan, untuk mencapai kebahagiaan harus melalui kerja keras, tanpa kerja keras kebahagiaan tersebut tidak akan tercapai. Nilai kebahagiaan itu ditentukan oleh nilai dan kekerasan mereka dalam bekerja. pada sisi lain mereka juga menyadari bahwa kondisi social tidak menentu. Terkadang dapat menjadi penunjang, penghambat dan penghancur kebahagiaan yang memerlukan penanganan juga. Lalu mereka membuat keseimbangan pola hidupnya dengan didasari oleh pertimbangan keadaan pribadi dan keadaaan social.
 Apabila wabah social sudah sangat parah, memiliki energy besar dalam menghancurkan umat. Maka mereka tidak segan segan memberikan sebagian besar hartanya dan hidup sederhana sekali demi hancurnya wabah penyakit social.
Juga harus didasari bahwa penentu bentuk pola hidup sederhana pada masing masing pribadi agak sulit, karena penetapan pembiayaan, penanggungan wabah dan kebutuhan kebutuhan pribadi khususnya yang bersifat primes tidak sama. Tetatapi apabila bertekad untuk mengetrapkan maka akan terbentuk pola hidup sederhana yang terwujud universal. (Ulul Albab Ust. Iskandar Al warisy Hal 375 – 361 “Pola hidup Sederhana)

Pola hidup sederhana, ditinjau dari aspek pengeluarannya :
PEMASUKAN = PENGELUARAN INDIVIDU SECARA PRIMER + PENGELUARAN SOSIAL SECARA PRIMER

No comments:

Post a Comment