Pondok Ilmu Pengetahuan

Tuesday, December 20, 2016

Meraih Pertolongan Dengan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual




Meraih Pertolongan Dengan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual

Khoirotur Royana

            “wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta dengan orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah : 153)

Pertolongan Allah, siapa yang tidak mengharapkannya? Semua orang pasti mendambakannya, Seperti sebuah keajaiban datang dikala dirudung kesusahan. Seperti menemukan jalan keluar ketika kita kebingungan. Pertolongan Allah terkadang datang tiba-tiba tanpa aba-aba, hadir dalam cara yang tidak terduga. Namun apa selamanya kita hanya menunggu pertolongan datang? Atau hanya menanti waktu menjawab di hari mendatang.

Dalam surat diatas, Allah menyuruh kita memohon petolongan, bukan sekedar menanti keajaiban. Kita disuruh berusaha bukan berhenti tanpa upaya. Saya tau bahwa pertolongan akan datang disaat di akhir cerita, yang awalnya berpikir akan musibah namun menjadi anugerah. Namun apakah Keajaiban datang disaat kita berusaha diluar sunatullah kesuksesan? Apakah keajaiban hadir disaat kita berjalan di jalur yang berlawanan.

Bila pertolongan ada di titik penghabisan, mengapa diatas kita memohon pertolongan dengan sabar dan shalat yang didirikan. Apa arti penting sabar dan shalat yang ditunaikan? Hingga digunakan untuk memohon pertolongan Tuhan. Tapi apakah hanya dengan Shalat dan Sabar pertolongan akan datang? 

sebelum kita membahas tentang problematika diatas, sebaiknya kita mengetahui apa yang dimaksud pertolongan. Pertolongan memiliki kata dasar “tolong” yang artinya bantu, minta bantuan. Sedangkan kata “menolong” memiliki makna (1) membantu untuk meringankan beban (penderitaan, kesukaran, dsb) (2)  membantu supaya dapat melakukan sesuatu: (3) melepaskan diri dr (bahaya, bencana, dsb); menyelamatkan (4) dapat meringankan (penderitaan dsb); dapat menyembuhkan (penyakit dsb); dapat melepaskan dr (bahaya dsb). Sedangkan kata “pertolongan” lebih merujuk pada makna perbuatan atau sesuatu yg dipakai untuk menolong; bantuan.

Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa Pertolongan dapat berupa keringanan beban, diberi kekuatan, dan terlepas dari ketakutan. Namun, pertolongan bisa mewujudkan kesuksesan, atau keberhasilan suatu tindakan. Seperti kemenangan perang Badar yang melengeda ataupun Keberhasilan Islam menyebar ke penjuru dunia. Jadi, bisa dikatakan bahwa memohon pertolongan berarti menginginkan kesuksesan. Tak ada yang memohon pertolongan untuk menggapai kegagalan. Jadi bisa dikatakan bahwa kesuksesan sebagai wujud pertolongan.

Dari ayat diatas, kita disuruh untuk memohon pertolongan, atau bisa disebut berusaha meraih kesuksesan. Hal ini jelas dinyatakan dengan kata “mohonlah” yang berarti perintah untuk dikerjakan. Perintah selalu dilaksanakan dengan tindakan nyata atau usaha. Jadi intinya, kita disuruh berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kita tidak hanya bertindak pasif memohon pertolongan, namun juga aktif dalam mencapai tujuan.

Dalam ayat tersebut, kita diperintah untuk memohon pertolongan dengan Sabar dan Shalat. Tapi mengapa hanya Sabar dan Shalat sebagai syarat atau usaha untuk memohon pertolongan? Bila dilihat dari aspek yang menjadi ruang lingkupnya, maka Sabar berada dalam aspek Emosi dan Shalat berada dalam aspek spiritual. Jadi, keduanya adalah simbol dari kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritusl.

Sabar merupakan simbol kecerdasan emosi.
             Sabar merupakan wujud kecerdasan emosi. Dalam memohon pertolongan ataupun berusaha meraih kesuksesan diperlukan kecerdasan emosi yang tinggi. Kecerdasan Emosi atau yang sering disebut EQ (Emotional Quotient) merupakan kecerdasan yg berkenaan dng hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. 

            Dalam meraih kesuksesan memang tidak hanya mengandalkan IQ (intellectual Quotient) atau Kecerdasan Akal. Banyak orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi namun kurang kercedasan emosi justru tersingkir dengan sendiriya. Karena kecerdasan emosi tidak hanya berkaitan dengan perasaan, namun juga mencakup kecerdasan bertindak dalam memecahkan masalah. 

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya.  Sedangkan kecerdasan emosional menurut Goleman (1997) adalah kemampuan lebih yang harus memotivasi diri, menghadapi kegagalan daya tahan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, dan mengatur emosional bahwa seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.

            Ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional (Goleman, 2000) : 1) Kemampuan memotivasi diri sendiri, 2)  Ketahanan menghadapi frustasi, 3) Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, 4)Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.

Sedangkan sabar berasal dari kata “sobaro_yasbiru” yang artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya.

Bila kita melihat tentang pengertian kercedasan emosi dan kesabaran memang memiliki substansi yang sama. Kesabaran memang memiliki sikap yang selalu memotivasi diri, ketika Thomas Edison mendapat kegagalan berkali-kali, namun ia tetap tak mau mengalah, ia hanya berkata bahwa ia menemukan cara yang salah. Seorang yang sabar tak pernah berhenti, ia akan tetap bertahan dan selalu termotivasi.

Orang yang sabar juga meliki ketahanan menghadapi frustasi, ketika kegagalan datang bertubi-tubi, seorang penemu tak akan berhenti untuk mendapat yang dituju. Mereka orang yang sabar selalu bisa untuk menahan diri, walaupun banyak tekanan yang dilalui, tapi merek masih tegak berdiri. Nelson Mandela, adalah tokoh yang melegenda. Dengan sabar ia menjalani bertahun-tahun di dalam penjara, namun ia masih tetap berjuang sampai akhir hayatnya. Apakah ia tidak merasa frustasi dalm penjara ia sendiri, ia bahkan merasakan bagaimana rasanya keterputusasaan itu, jauh dari kelurga dan kehilngan yang ia cinta, namun ia orang yang sabar menghadapinya, ia menhadapi masalahnya dengan mimpi membebaskan negaranya.

            Nabi Muhammad juga termasuk orang yang sabar, hal ini jelas tertulis dalam ayat al Qur’an yang tersiar, hal ini merupakan tanda Nabi Allah memiliki kecerdasan emosi, dalam tugasnya menyiarkan agama ini. 

            “maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itumaafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, ...” (Al Baqarah : 159)

             Tapi mengapa Sabar disimbolkan dengan kecerdasan emosi, padahal banyak prilaku yang mencerminkan kecerdasan emosi, contohnya saja kerja keras, optimis, mandiri, dan lainnya. Hal ini dikarenakan bahwa Sabar membutuhkan kecerdasan emosi yang tidak biasa. Disaat, yang lain memutuskan untuk menyerah, ia justru memilih terus melangkah. Disaat yang lain menunjukkan rasa kecewa, ia juustru mencari sebuah makna, dan disaat yang lain menggunakan perasaan, ia justru berusaha memecahkan permasalahan.

            Sabar bukan berarti kita pasrah akan keadaan, tapi kita tetap bertahan dalam kebenaran. Tetap konsisten dengan apa yang dikerjakannya dan terus mencari jalan keluar dari kesulitan dan lebih menggunakan rasionalitasnya daripada emosinya. Ketika kita mendapatkan musibah, seseorang yang sabar tidak terburu-buru untuk marah. Namun, ia akan berusaha mencari hikmah. Orang sabar tidak terburu-buru menghakimi tapi ia akan terus intropeksi diri. Orang sabar tidak akan mudah mengalah pada keadaan, ia akan justru tetap bertahan di garda terdepan.

            Contoh nyata orang yang sabar adalah Thomas Alfa Edison, ia tidak hanya pintar dalam akademis namun juga emosi. Ketika yang lain menyerah dalam satu-dua kali pecobaan, namun ia justru melakukan percobaan hingga beratus-ratus kali percobaan sekalipun. Ia tetap sabar mencoba satu demi satu formula. Dia tidak berhenti hanya menunggu keajaiban turun dari surga, namun ia tetap bertahan dan terus mencoba memperbaiki diri, Itulah yang disebut orang-orang sabar yang sejati.

            Sabar juga mencerminkan prilaku yang pekerja keras, optimis, evaluatif, dan rasionalitas. Karena orang sabar tidak pernah berhenti untuk mengalah, ia juga tetap menyakini akan keberhasilan di masa mendatang, ia tetap berusaha memperbaiki diri, dan tak mudah untuk tersulut emosi. Hal ini juga menegaskan bahwa memang Allah selalu bersama orang-orang sabar, karena Sabar merupakan prilaku kecerdasan emosi yang membawa keberhasilan. Karena orang-orang yang konsisten, optimis, evaluatif, dan mampu mengelola perasaannya adalah Sunatullah meraih Kesuksesan dan mendapat Pertolongan Allah berupa keberhasilan di akhir cerita.

Shalat merupakan Simbol Kecerdasan Spiritual (SQ)
            Shalat merupakan aktifitas spiritual seseorang untuk berkomunikasi dengan Tuhan, merasakan pengalaman spiritual yang begitu mengesankan. Dimana kita merasakan begitu tak berdaya di hadapan Sang Pencipta dan MengAgungkan Nama-Nya, meminta petujuk dan harapan, untuk mencapai kebahagiaan. Berjanji untuk menyerahkan hidup dan mati, hanya pada Illahi. Mungkin Shalat hanya sekilas namun berbekas. Dari Takbir hingga Salam, memohon perlindungan pada Sang Pencipta alam. Mungkin shalat adalah rutinitas yang sering kita dirikan, sebagian orang menganggapnya sebagai kewajiban, sebagian lainnya menganggapnya sebagai penenang Kejiwaan. Dengan Shalat kita mengerti makna kehidupan, tentang diri kita sebagai hamba-Nya. 

            Tapi mengapa shalat dihubungkan dengan kecerdasan spiritual, apa maksud kecerdasan spiritual itu? Kecerdasan spiritual menurut KBBI adalah kecerdasaan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Esa. 

Sedangkan Kercedasan Spiritual menurut  Aribowo dan Irianto (2003) Berarti kemampuan kita untuk dapat mengenal dan memahami diri kita sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti kita memahami sepenuhnya makna dan hakikat yang kita jalani

Abdul Wahid Hasan (2006:27) juga menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah Kecerdasan yang digunakan untk menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, manusia  dituntut untuk kreatif mengubah penderitaan sebagai hidup yang semangat (motivasi) tinggi sehingga penderitaan berubah menjadi kebahagiaan hidup. Manusia harus mampu menemukan makna kehidupannya.

Bila dilihat dari pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia untuk memaknai hidupnya, mengenal sang Penciptanya, walaupun hidup terasa berat dijalani namun tetap dilaksanakan dengan senang hati. Karena ia memaknai hidup ini sebagai ladang amal di akhirat nanti. Banyak orang yang hidup berukupan bahkan berlebihan, justru meninggal dengan penuh ketragisan. Banyak orang kaya tak bahagia, banyak orang terkenal namun merasa asing.

Banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional, namun mereka yang tidak memiliki kecerdasan spiritual akan terasa hampa di hidupnya. Memang mereka sukses dunia namun mereka tidak meraih surga. Allah tidak hanya  ingin kita meraih kebahagiaan dunia semata, namun meraih kesuksesan dalam Surga-Nya. 

“dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk . (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya. Dan mereka akan kembali kepada-Nya” (Al Baqarah : 45-46)

Dari penjelasan diatas, diharapkan kita memiliki kecerdasan emosional dan spiritual untuk memohon pertolongan, untuk meraih sunatullah kesuksesan. Memang kadangkala keajaiban indah tiba-tiba hadir begitu saja, namun setidaknya kita mengiringnya dengan usaha. Dengan bekal sabar dan shalat, meraih pertolongan di dunia dan di akhirat. Tetapi bukan sekedar kita berlaku sabar dan dirikan shalat, namun kita memaknai apa yang tersirat. Menjadi pribadi yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual, untuk menjalani dunia dan akhirat yang kekal.

No comments:

Post a Comment