Meraih Pertolongan Dengan Kecerdasan Emosional Dan
Spiritual
Khoirotur Royana
“wahai
orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
shalat. Sungguh, Allah beserta dengan orang-orang yang sabar” (QS. Al
Baqarah : 153)
Pertolongan
Allah, siapa yang tidak mengharapkannya? Semua orang pasti mendambakannya,
Seperti sebuah keajaiban datang dikala dirudung kesusahan. Seperti menemukan
jalan keluar ketika kita kebingungan. Pertolongan Allah terkadang datang
tiba-tiba tanpa aba-aba, hadir dalam cara yang tidak terduga. Namun apa
selamanya kita hanya menunggu pertolongan datang? Atau hanya menanti waktu
menjawab di hari mendatang.
Dalam
surat diatas, Allah menyuruh kita memohon petolongan, bukan sekedar menanti
keajaiban. Kita disuruh berusaha bukan berhenti tanpa upaya. Saya tau bahwa
pertolongan akan datang disaat di akhir cerita, yang awalnya berpikir akan
musibah namun menjadi anugerah. Namun apakah Keajaiban datang disaat kita
berusaha diluar sunatullah kesuksesan? Apakah keajaiban hadir disaat kita
berjalan di jalur yang berlawanan.
Bila
pertolongan ada di titik penghabisan, mengapa diatas kita memohon pertolongan
dengan sabar dan shalat yang didirikan. Apa arti penting sabar dan shalat yang
ditunaikan? Hingga digunakan untuk memohon pertolongan Tuhan. Tapi apakah hanya
dengan Shalat dan Sabar pertolongan akan datang?
sebelum
kita membahas tentang problematika diatas, sebaiknya kita mengetahui apa yang
dimaksud pertolongan. Pertolongan memiliki kata dasar “tolong” yang artinya
bantu, minta bantuan. Sedangkan kata “menolong” memiliki makna (1) membantu
untuk meringankan beban (penderitaan, kesukaran, dsb) (2) membantu supaya dapat melakukan sesuatu: (3)
melepaskan diri dr (bahaya, bencana, dsb); menyelamatkan (4) dapat meringankan
(penderitaan dsb); dapat menyembuhkan (penyakit dsb); dapat melepaskan dr
(bahaya dsb). Sedangkan kata “pertolongan” lebih merujuk pada makna perbuatan
atau sesuatu yg dipakai untuk menolong; bantuan.
Dari
keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa Pertolongan dapat berupa keringanan
beban, diberi kekuatan, dan terlepas dari ketakutan. Namun, pertolongan bisa
mewujudkan kesuksesan, atau keberhasilan suatu tindakan. Seperti kemenangan
perang Badar yang melengeda ataupun Keberhasilan Islam menyebar ke penjuru
dunia. Jadi, bisa dikatakan bahwa memohon pertolongan berarti menginginkan
kesuksesan. Tak ada yang memohon pertolongan untuk menggapai kegagalan. Jadi
bisa dikatakan bahwa kesuksesan sebagai wujud pertolongan.
Dari
ayat diatas, kita disuruh untuk memohon pertolongan, atau bisa disebut berusaha
meraih kesuksesan. Hal ini jelas dinyatakan dengan kata “mohonlah” yang berarti
perintah untuk dikerjakan. Perintah selalu dilaksanakan dengan tindakan nyata
atau usaha. Jadi intinya, kita disuruh berusaha untuk mencapai kesuksesan. Kita
tidak hanya bertindak pasif memohon pertolongan, namun juga aktif dalam
mencapai tujuan.
Dalam
ayat tersebut, kita diperintah untuk memohon pertolongan dengan Sabar dan
Shalat. Tapi mengapa hanya Sabar dan Shalat sebagai syarat atau usaha untuk
memohon pertolongan? Bila dilihat dari aspek yang menjadi ruang lingkupnya,
maka Sabar berada dalam aspek Emosi dan Shalat berada dalam aspek spiritual.
Jadi, keduanya adalah simbol dari kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritusl.
Sabar merupakan simbol kecerdasan emosi.
Sabar merupakan wujud kecerdasan emosi. Dalam
memohon pertolongan ataupun berusaha meraih kesuksesan diperlukan kecerdasan
emosi yang tinggi. Kecerdasan Emosi atau yang sering disebut EQ (Emotional
Quotient) merupakan kecerdasan yg berkenaan dng hati dan kepedulian antarsesama
manusia, makhluk lain, dan alam sekitar.
Dalam
meraih kesuksesan memang tidak hanya mengandalkan IQ (intellectual Quotient)
atau Kecerdasan Akal. Banyak orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi namun
kurang kercedasan emosi justru tersingkir dengan sendiriya. Karena kecerdasan
emosi tidak hanya berkaitan dengan perasaan, namun juga mencakup kecerdasan
bertindak dalam memecahkan masalah.
Kecerdasan
emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta
mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya. Sedangkan kecerdasan emosional menurut Goleman
(1997) adalah kemampuan lebih yang harus memotivasi diri, menghadapi kegagalan
daya tahan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, dan mengatur emosional
bahwa seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah
kepuasan dan mengatur suasana hati.
Ciri-ciri orang yang memiliki
kecerdasan emosional (Goleman, 2000) : 1) Kemampuan memotivasi
diri sendiri, 2) Ketahanan menghadapi
frustasi, 3) Kemampuan mengendalikan
dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan
kesenangan, 4)Kemampuan menjaga
suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir,
berempati dan berdoa.
Sedangkan sabar berasal
dari kata “sobaro_yasbiru” yang artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar
adalah menahan diri dari dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan
akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa
dan sebagainya.
Bila kita melihat
tentang pengertian kercedasan emosi dan kesabaran memang memiliki substansi
yang sama. Kesabaran memang memiliki sikap yang selalu memotivasi diri, ketika
Thomas Edison mendapat kegagalan berkali-kali, namun ia tetap tak mau mengalah,
ia hanya berkata bahwa ia menemukan cara yang salah. Seorang yang sabar tak
pernah berhenti, ia akan tetap bertahan dan selalu termotivasi.
Orang yang sabar juga
meliki ketahanan menghadapi frustasi, ketika kegagalan datang bertubi-tubi,
seorang penemu tak akan berhenti untuk mendapat yang dituju. Mereka orang yang
sabar selalu bisa untuk menahan diri, walaupun banyak tekanan yang dilalui,
tapi merek masih tegak berdiri. Nelson Mandela, adalah tokoh yang melegenda.
Dengan sabar ia menjalani bertahun-tahun di dalam penjara, namun ia masih tetap
berjuang sampai akhir hayatnya. Apakah ia tidak merasa frustasi dalm penjara ia
sendiri, ia bahkan merasakan bagaimana rasanya keterputusasaan itu, jauh dari
kelurga dan kehilngan yang ia cinta, namun ia orang yang sabar menghadapinya,
ia menhadapi masalahnya dengan mimpi membebaskan negaranya.
Nabi Muhammad juga termasuk orang
yang sabar, hal ini jelas tertulis dalam ayat al Qur’an yang tersiar, hal ini
merupakan tanda Nabi Allah memiliki kecerdasan emosi, dalam tugasnya menyiarkan
agama ini.
“maka
berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu. Karena itumaafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk
mereka, ...” (Al Baqarah : 159)
Tapi mengapa Sabar disimbolkan dengan
kecerdasan emosi, padahal banyak prilaku yang mencerminkan kecerdasan emosi,
contohnya saja kerja keras, optimis, mandiri, dan lainnya. Hal ini dikarenakan
bahwa Sabar membutuhkan kecerdasan emosi yang tidak biasa. Disaat, yang lain
memutuskan untuk menyerah, ia justru memilih terus melangkah. Disaat yang lain
menunjukkan rasa kecewa, ia juustru mencari sebuah makna, dan disaat yang lain
menggunakan perasaan, ia justru berusaha memecahkan permasalahan.
Sabar
bukan berarti kita pasrah akan keadaan, tapi kita tetap bertahan dalam
kebenaran. Tetap konsisten dengan apa yang dikerjakannya dan terus mencari
jalan keluar dari kesulitan dan lebih menggunakan rasionalitasnya daripada
emosinya. Ketika kita mendapatkan musibah, seseorang yang sabar tidak
terburu-buru untuk marah. Namun, ia akan berusaha mencari hikmah. Orang sabar
tidak terburu-buru menghakimi tapi ia akan terus intropeksi diri. Orang sabar
tidak akan mudah mengalah pada keadaan, ia akan justru tetap bertahan di garda
terdepan.
Contoh nyata orang yang sabar adalah
Thomas Alfa Edison, ia tidak hanya pintar dalam akademis namun juga emosi.
Ketika yang lain menyerah dalam satu-dua kali pecobaan, namun ia justru
melakukan percobaan hingga beratus-ratus kali percobaan sekalipun. Ia tetap
sabar mencoba satu demi satu formula. Dia tidak berhenti hanya menunggu
keajaiban turun dari surga, namun ia tetap bertahan dan terus mencoba
memperbaiki diri, Itulah yang disebut orang-orang sabar yang sejati.
Sabar juga mencerminkan prilaku yang
pekerja keras, optimis, evaluatif, dan rasionalitas. Karena orang sabar tidak
pernah berhenti untuk mengalah, ia juga tetap menyakini akan keberhasilan di
masa mendatang, ia tetap berusaha memperbaiki diri, dan tak mudah untuk
tersulut emosi. Hal ini juga menegaskan bahwa memang Allah selalu bersama
orang-orang sabar, karena Sabar merupakan prilaku kecerdasan emosi yang membawa
keberhasilan. Karena orang-orang yang konsisten, optimis, evaluatif, dan mampu
mengelola perasaannya adalah Sunatullah meraih Kesuksesan dan mendapat
Pertolongan Allah berupa keberhasilan di akhir cerita.
Shalat merupakan Simbol Kecerdasan Spiritual (SQ)
Shalat merupakan aktifitas spiritual
seseorang untuk berkomunikasi dengan Tuhan, merasakan pengalaman spiritual yang
begitu mengesankan. Dimana kita merasakan begitu tak berdaya di hadapan Sang
Pencipta dan MengAgungkan Nama-Nya,
meminta petujuk dan harapan, untuk mencapai kebahagiaan. Berjanji untuk
menyerahkan hidup dan mati, hanya pada Illahi. Mungkin Shalat hanya sekilas
namun berbekas. Dari Takbir hingga Salam, memohon perlindungan pada Sang
Pencipta alam. Mungkin shalat adalah rutinitas yang sering kita dirikan,
sebagian orang menganggapnya sebagai kewajiban, sebagian lainnya menganggapnya
sebagai penenang Kejiwaan. Dengan Shalat kita mengerti makna kehidupan, tentang
diri kita sebagai hamba-Nya.
Tapi mengapa shalat dihubungkan
dengan kecerdasan spiritual, apa maksud kecerdasan spiritual itu? Kecerdasan
spiritual menurut KBBI adalah kecerdasaan yang berkenaan dengan hati dan
kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan
keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Esa.
Sedangkan Kercedasan Spiritual menurut Aribowo dan Irianto (2003) Berarti kemampuan
kita untuk dapat mengenal dan memahami diri kita sepenuhnya sebagai makhluk
spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan
spiritual berarti kita memahami sepenuhnya makna dan hakikat yang kita jalani
Abdul Wahid Hasan (2006:27) juga menjelaskan bahwa
kecerdasan spiritual adalah Kecerdasan yang digunakan untk menyelesaikan
permasalahan hidup yang dihadapi, manusia
dituntut untuk kreatif mengubah penderitaan sebagai hidup yang semangat
(motivasi) tinggi sehingga penderitaan berubah menjadi kebahagiaan hidup.
Manusia harus mampu menemukan makna kehidupannya.
Bila dilihat dari pengertian diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia untuk memaknai
hidupnya, mengenal sang Penciptanya, walaupun hidup terasa berat dijalani namun
tetap dilaksanakan dengan senang hati. Karena ia memaknai hidup ini sebagai
ladang amal di akhirat nanti. Banyak orang yang hidup berukupan bahkan
berlebihan, justru meninggal dengan penuh ketragisan. Banyak orang kaya tak
bahagia, banyak orang terkenal namun merasa asing.
Banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual dan
emosional, namun mereka yang tidak memiliki kecerdasan spiritual akan terasa
hampa di hidupnya. Memang mereka sukses dunia namun mereka tidak meraih surga.
Allah tidak hanya ingin kita meraih
kebahagiaan dunia semata, namun meraih kesuksesan dalam Surga-Nya.
“dan
mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu
sungguh itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk . (yaitu) mereka yang
yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya. Dan mereka akan kembali kepada-Nya”
(Al Baqarah : 45-46)
No comments:
Post a Comment