“Optimalisasi ditengah keterbatasan diri” sebuah hikmah dari kisah Abdullah Bin Ummi Maktum, seorang sahabat nabi
Abdullah Bin Ummi Maktum, mungkin diantara kita ada yang sudah tahu dan ada yang belum tentang sahabat nabi satu ini, sedikit kisah nya beliau merupakan seorang yang buta (tuna netra) sejak kecil, yang dalam catatan sejarah beliau juga termasuk di antara as-sabiquna-l awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam), dirinya ketika Rasul Hijrah ke Madinah menjadi orang yang pertama-tama menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya tersebut. Walaupun ia memiliki kekurangan fisik, jarak antara Mekah dan Madinah yang jauh, sekitar 490 Km, ancaman dari orang-orang Quraisy, belum lagi bahaya dalam perjalanan, semua itu tidak menghalanginya untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, walaupun kondisinya seperti itu beliau tidak pernah mengemis kasihan atas matanya yang telah buta sejak kecil. Keterbatasan yang dimillikinya hanya menambah keimanannya pada Allah dan kesetiaannya dalam Islam. Dia tetap berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, menghafalkan Alquran dan hadis, bahkan berjihad. Tak ayal, Allah memuliakannya.
Dan Allah menjadi saksi bahwa Abdullah bin Ummi Maktum adalah seseorang yang sangat mencintai Alquran dan sunnah Nabi-Nya, jadi saat itu kisahnya Rasul pernah mendapat teguran langsung dari Allah SWT, ketika rasul saat itu sedang mendakwahi para pembesar2 quraisy pada masa2 awal dakwah di mekkah dengan harapan ketika para pembesar quraisy ini masuk islam maka islam akan membawa kemaslahatan yang besar, ketika berdialog datanglah Abdullah bin Ummi Maktum ini beliau mengungkapkan keinginannya dengan Abdullah berkata “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda” namun saat itu rasul kurang menghiraukan dan lanjut berdialog hingga selesai dan ketika rasul hendak pulang turunlah QS Abasa 1-16 yang isinya berupa teguran kepada rasul agar tidak membeda bedakan orang yang ingin mempelajari islam, maka sejak pristiwa itulah Abdullah Bin Ummi Maktum dengan keterbatasanya dimuliakan rasul
beliaulah salah satu muadzin rasul selain Billal, Abdullah bin Ummi Maktum juga merupakan orang kepercayaan Nabi Setidaknya 13 kali Rasulullah mengangkatnya sebagai wali kota sementara di Kota Madinah ketika rasul berangkat ke medan perang
Selama itu ditengah keterbatasan Abdullah, tidak menghalangi dirinya dalam berjuang, yang menjadi bukti totalitasnya Abdullah bin Ummi dibuktikan lewat hidupnya yang selalu memperjuangkan islam hingga puncaknya ketika beliau mengikuti perang Qadisiyah saat 14 Hijriah yang kala itu Umar sebagai khalifah, dalam perang Qadisiyah beliau turut berperang sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam yang diamanahkan untuk memegang bendera islam. Dialah seorang buta pertama yang turut berperang dalam sejarah peperangan Islam, hingga mati Syahid dalam peperangan tersebut dihari ketiga dengan kondisi terkapar di medan perang sambil memeluk bendera islam
Dari kisah Abdullah tersebut memberikan pelajaran kepada kita, yang mungkin saat ini kita memiliki keterbatasan namun tetap harus memiliki cita2 yang tinggi, jangan sampai keterbatasan tersebut membuat kita kalah dalam mencapai cita2 itu, hal ini terbukti dari kisah Abdullah bin Ummi Maktum tersebut,
Setidaknya ada 3 hal yang bisa kita ambil agar optimal ditengah kondisi keterbatasan,
JANGAN MENYERAH , karena ini merupakan modal pertama yang mesti kita miliki agar kita tetap bisa optimal, namun tidak menyerah ini bukan tanpa tindakan ketika kita memutuskan tidak menyerah dari situ kita berpikir bagaimana mengubah keadaan keterbatasan itu menjadi hal yang unggul dalam diri kita
OPTIMIS , yang tidak kalah penting optimis merupakan keyakinan diri bahwa apa yang akan kita lakukan akan berhasil, sikap keoptimisan ini penting karena bisa menjadi hal yang semakin membuat diri kita selalu yakin ditengah keterbatasan, kita bisa berhasil mencapai apa yang kita ingin
SEMANGAT , yang terakhir sebagai pelecut energi saat kita tidak menyerah, dengan mengerahkan apa yang kita miliki walaupun terbatas ketika
semangat itu ada dalam diri maka apa yang kita lakukan akan signifikan pengaruhnya, karena tanpa semangat walaupun kita memiliki skill atau kemampuan memecahkan masalah maka tiadalah bearti karena dalam actionnya tidak ada ghiroh untuk mencapai apa yang diinginkan.
No comments:
Post a Comment