INDUSTRI
PANGAN 2.0
Lembah
Silikon di California, Amerika Serikat, selalu identik dengan teknologi
digital. Akan tetapi, dalam waktu dekat mungkin lembah ini tidak lagi hanya
berurusan dengan teknologi digital. Panganpun, tepatnya pangan untuk masa depan
atau dikenal dengan nama pangan 2.0, kini dirintis dan diproduksi di tempat
ini.
Beberapa
pekan lalu usaha rintisan pangan masa depan yang berada di Lembah Silikon
muncul di berbagai media. Salah satunya Koran Financial Time edisi akhir pekan.
Contoh rintisan usaha itu antara lain Imposible Foods, Hampton Creek, dan
Soylent.
Imposible
Foods didirikan Pat Brown memamerkan makanan buatannya. Salah satunya yang
ditampilkan adalah burger yang dibuat dari berbagai sayuran. Seluruh Proses
pembuatan burger masih dirahasiakan karena sangat mungkin terkait Hak Cipta dan
Paten.
Dalam Video
yang ditampilkan, Sayuran dimasukkan ke dalam sebuah mesin. Kemudian dalam sesi
berikutnya terlihat daging yang digunakan untuk burger. Pat sebagai pemilik
Imposible Foods tidak membuat daging alternative, tetapi menyatakan , Imposible
Foods membuat daging dengan cara yang lebih baik.
Alasan
pembuatan daging tanpa hewan ini adalah betapa mahalnya pembentukan sel daging
hewan, mulai penggadaan pakan, pembiakan hewan, pertumbuhan hewan, hingga
pemotongan hewan itu. Dalam rantai ini dibutuhkan banyak energy yang terbuang.
Di sisi lain, Harga daging dinilai masih mahal. Burger ini hanyalah salah satu
produk pangan 2.0.
Loncatan
permikiran pemikiran ini sudah menarik kalangan Investor. Sperti di Indonesia,
perbankan di Amerika Serikat tak bisa diharapkan mendanai pemikiran gila dan
realisasi proyek ini. Mereka mengandalkan investor langsung ataupun modal
ventura.
Berbagai
investor telah memasok dana hingga 75 juta dollar AS untuk Imposible Foods ini.
Hampton Creek berhasil memikat sejumlah investor terkenal untuk menyediakan
dana 30 juta dollar AS bagi riset pangan masa depan, sedangkan Soylent
mendapatkan dana 1,5 juta dollar AS.
Tentu saja
minat investor terhadap rintisan usaha ini mengagetkan beberapa kalanan karena
sejak beberapa tahun lalu investor ogah mendanai ide ide seperti itu karena
proyek bioteknologi cenderung membutuhkan dana yang besar di awal dan
membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menangguk hasil. Itu pun kalau berhasil.
Salah satu
alasan rintisan usaha pangan tersebut memilih lokasi di Lembah Silikon karena
lingkungan bagi usaha rintisan sangat mendukung. Slema ini sistem ini banyak
dinikmasi perintis usaha di bidang teknologi digital. Sistem di tempat itu
sangat memusahkan perintis usaha untuk mencari incubator, partner, pembiayaan,
kompetisi dan pembelian hasil karya mereka serta berbagi ilmu.
Rintisan
usaha pangan masa depan ini ingin ikut menangguk dana besar dari kapitalisme di
Lembah Silikon. Bahkan , mereka tengah ancang ancang untuk menggantikan
teknologi digital yang menjadi focus utama Lebah Silikon. Mereka yakin suatu
saat industry pangan masa depan itu akan menjadi mercusuar Lembah Silikon itu.
Mereka beralasan ledakan penduduk pada masa depan membutuhkan penyelesaian
dalam produksi pangan. Tanpa Inovasi, miliatan penduduk akan mati kelapanan dan
mati pada masa depan.
Menengok ke
Tanah Air, sepertinya kita juga membutuhkan loncatan besar untuk menyiapkan
pangan 2.0. Pemerintah seharusnya bekerja keras agar Indonesia bisa swasembada
pangan sendiri. Akan tetapi dengna melihat fenomena di Lembah Silikon itu. Kita
perlu bekerja lebih keras lagi untuk menyiapkan pangan masa depan. Hal ini
menantang kita semua.
Sumber : Kompas
Sumber : Kompas

No comments:
Post a Comment