Pondok Ilmu Pengetahuan

Wednesday, November 26, 2014

PENDIDIKAN



PEKERJAAN RUMAH PENDIDIKAN DASAR
SYAMSUL RIZAL


Media massa elektronik dan cetak sudah berulang kali mempertontonkan bagaimana sebagian murid Sekolah dasar dan menengah begitu sulit mencapai sekolah mereka

Ada yang melewati jembatan gantung bergoyang goyang penuh bahaya. Dalam satu siaran TV, seperti Pemain sirkus, anak kecil lelaki dan perempuan berseragam SD berdasi berlambangkan Tut Wuri Handayani itu menyebrangi jembatan gantung. Entah apa yang menyambut anak kecil itu di bawah andai terjatuh. Bisa jadi gundukan batu besar, air dangkal, atau batu kerikil yang segera mematikan mereka yang terjatuh. Bisa pula kayu tajam seperti bamboo runcing, alat yang dulu pernah dipakai nenek moyang kita yang gagah berani mengusir penjajah. betapa mirisnya kondisi seperti ini…

Dalam suatu foto kompas ( 13 November 2012), kita pernah disajikan bagaimana tidak murid SD yang ingin mencapai sekolah harus melewati sungai yang arusnya deras dan sangar membahayakan. Saya yakin sekali, tak ada seorangpun penyelenggara di negara yang ingin anak kandungnya mendapatkan perlakuan seperti iut. Karena ini menyangkut anak orang lain, persoalannya ini terjadi tidak penting. Saya berpendapat, beginilah cara sebagian penyelenggara negara kita yang bersikap kalau mereka merasa anggota badan mereka, badan istrinya, badan anak kandungnya, atau badan saudara dekat terasa sakit karena suatu persoalan, mereka akan berusaha sekuat tenaga menyelasaikan persoalan itu. Kalau menyangkut persoalan anggota badan oranglain, para penyelenggaya negara kalau bisa akan menghindar menyelesaikan masalah itu.

Bisa Jadi sebagian Penyelenggara negara kita akan beranggapan bahwa itu bagian dari lelucon yang harus dinikmati menghadapi kepenatan hidup sehari hari atau outlier in statistic yang tak mesti dijadikan pikiran betul. 

Untuk apa negara Republik Indonesia didirikan? Sudah jelas untuk memakmurkan lahir dan batinnya seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu. Faktanya pendidikan dasar dan menengah sangat variatif sekali mutunya. disini anak yang kebetulan di lahirkan dari rahim ibu yang miskin dan terpencil bernasib naik jembatan gantung atau siap diterjang arus sungai yang deras untuk sekedar menikmati pendidikan ala kadarnya.

Kalau dilahirkan dari rahim ibu yang kaya, apalagi dari rahim istri penyelenggara nagara, seorang anak bisa masuk ke sekolah hebat dan unggul bahkan bisa menikmati pendidikan di luar negeri.

Asupan gizi dan jaminan kesehatan bagi anak itupun dijamin akan aman. Bahkan , anak yang lahir dari rahim orang pilihan ini pun bisa dapat tambahan pelajaran privat.

MENGADU ANAK

Setelah itu apa yang kita lakukan? Kita mengadu mereka dalam suatu event bernama ujian nasional. Kita mau tahu : apakah anak yang lahir dari perempuan menderita akan sama atau tidak prestasinya dengan anak yang lahir dari perempuan kaya dan berpunya?

Kita mau tahu: apakah kualitas pendidikan dasar ( ujian nasional sudah dihapus) dan menengah di daerah terpencil bisa menyaingi kualitas pendidikan dasar dan menengah di kota besar atau tidak?

Tingkat keseulitan soal ujian nasional yang diberikanpun bukan biasa biasa saja, tapi sangat tinggi. nehnya, anak anak di sekolah terpencil bisa lulus diatas 90 persen, bahkan sulit dipercaya bisa mencapai 100 persen. 

Namun, akal sehat atau sakit menjadi tidak penting betul. yang penting adalah anak anak ( baik kaya maupun yang menderita) hampir semuanya lulu. akibatnya seluruh penyelenggara pendidikan ( guru, kepala sekolah, kepala dinas, gubernur, mendikbud, presiden) mereasa puas. Demikian juga anak anak yang dievaluasi orang tua anak anak hampir smeua merasa puas. Kalau semua sudah puas, apa lagi yang kita cari? Bukankah hakikat hidup ini pada dasarnya mencari kepuasan?

Ini artinya kita semua sepakat mutu pendidikan dasar dan menengah di seluruh indonesia sudah hebat dan stabil. Karena semuanya sudah hebat, apa perlu kita harus memperbaiki kualitas pendidikan dasar dan menengah di daerah terpencil? Apa perlu nya kita harus mempertanyakan infrastruktur pendidikan dasar dan menengah? Apa perlunya kita harus menanyakan jembatan gantung dan sungai deras yang siap memangsa anak anak yang tak berdosa itu?

                Bukankan anak anak miskin, terpencil, dan lahir dari ibu yang tak berpunya itu mampu menjajarkan diri dengan anak anak dari kota besar?

Kita seperti terhipnosis dan tak serius bertanya lagi : apa belul anak anak kita yang lulus hampir seratus persen secara halal? Apa betul mereka menjawab soal soal yang teramat sulit, bahkan untuk anak anak pandai di perkotaan sekalipun?

Saya tak ingin mengklaim bahwa sudah terjadi kebocoran soal secara terstruktur, sistemik dan masif

Persoalan ini harus diuji dan diterlusuri serius. kalau tidak , kita telah membangun sistem evaluasi pendidikan dasar dan menengah yang sangat menyesatkan. Kita bisa salah mengantisipasinya.

Kita pikir anak anak miskin dan terpencil itu sudah pendai sekali dan sanggup menyaingi anak anak di perkotaan. Padahal belum tentu, akibatnya pikiran seperti nilah saya menduga Kurikulum 2013 dilahirkan. Karena mendikbud merasa semua sekolah dasar dan menengah di seluruh indonesia sudah sedemikian tinggi mutunya, muncullah ide kreatif mendikbud dan seluruh jajarannya memberlakukan Kurikulum 2013 secara ngotot.

Evaluasi cepat dan murah

Pemerintah baru ke depan harus segera mengevaluasi kembali kualitas pendidikan dasar dan menegah di seluruh Indonesia Supaya cepat, murah, efisien dan tepat sasaran evaluasinya.

Cukup hanya mengambil sampel di semua provisnsi di seluruh indonesia. Jika perlu pengawas direkrut adalah pemuda pemuda tangguh penuh idealisme sehingga saat menuju ke sekolah terpencil, mereka bisa juga melewati jembatan gantung yang bergoyan goyang dan arus sungai deras.

Sampel yang diperlukan untuk mengevaluasi SD, SMP dan SMU di kota dan tempat terpencil ini tak perlu banyak sekali. Asal bisa mewakili populasi. Yang penting soal yang dievaluasi tidak bocor dan tingkat kesulitannya dengan soal ujian nasional yang lalu. Pada saat evaluasi,  para pemuda tangguhpun mencatat , memotret, dan melaporkan perjalanannnya selama di sekolah : bagaimana infrastruktur menuju sekolah, gedung sekolah, perpustakaannya, toiletnya, lapangan olahraganya dan ketersediaan gurunya.

Operasi dalam rangka evaluasi lengkap ini perlu dilakukan secara diam diam, Ini diperlukan agar soal yang diujikan tak bocor dan sekolah perlu tampil apa adanya tanpa lipstick. Kita harus menganggap semua siswa di seluruh penjuru Nusantara seperti anak anak kandung kalian sendiri. Mreka sangat butuh kasih sayang dan perlindungan dari pemerintah.

Sumber : Kompas

No comments:

Post a Comment