Swasembada Gula
Apakah Masih Relevan ?
Sesuai
dengan visi misinya yang ingin mewujudkan kedaulatan pangan, termasuk
diantaranya dalam produksi gula nasional, Pemerintahan Jiko Widodo mulai
bergerak cepat menyusun strategi mencapai swasembada gula nasional.
Kebutuhan
gula nasional sekarang 60 persen dipasok dari gula impor dalam bentuk gula
mentah dan gula rafinasi. Produksi gula dalam negeri sekitar 2,4 juta ton.
Adapun 3 juta ton kekurangannnya harus diimpor.
Kita
tentu mengapresiasi niat baik, semangat dan kerja cepat untuk mencapai
swasembada gula. Semuanya itu tidak boleh luntur apalagi sampai padam. Semangar
untuk membangun kedaulatan dan kemandirian pangan harus terus digelorakan dan
tercermin dalam setiap kebijakan dan imolementasinya di lapangan.
Disisi
lain, Kita juga tidak indin kerja keras mencapai swasembada gula itu nantinya
ibarat menepuk angin. Kerja keras untuk mencapai swasembada gula hendaknya
harus menghasilkan output yang nyatam yang memberikan kontribusi bagi
pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, keinginan untuk mencapai swasembada
gula harus dirumuskan dengan matang dan cermat agar bisa memberikan nilai
tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional
Kita
sadar bahwa perdagangan bebas ASEAN dimulai pada 2015. Gula merupakan salah satu
komoditas yang masuk dalam perlakuan khusus dalam bentuk tariff dan standart
kualitas khusus gula indonesia. Kalaupun ada kebijakan tariff khusus untuk gula
impor, besarannya tidak bisa ditetapkan sesuka hati.
Bicara
soal gula, tantangan terbesar produksi gula Indonesia adalah Thailand. Saat ini
produksi gula di Thailand sekitar Rp. 6.000 per kilo gram. Meski sudah ditambah
biaya transportasi dan penanganan, harga gula impor Thailand di Indonesia maih
lebih murah dari pada gula produksi Indonesia yang biasaya produksinya Rp.
8.000 per kilogram
Produktivitas
terbu dan kandungan gula dalam tebu Thailand lebih tingi 20 persen dibandingkan
Indonesia. Masalah lainnya adalah rendemen gula di pabrik. Di Indonesia, rata
rata rendemen gula hanya 7, 5 persen . Bahkan masih ada yang 5-6 persen. Di
Thailand rata rata rendemen gula di pabrik di atas 10 persen. Dari sini saja
harga gula Indonesia akan kalah bersaing.
Dengan
selisih harga dan kualitas yang tinggi. Bisa saja gula dari Thailand bakal
membanjiri Indonesia. Bisa saja Pemerintahan Jokowidodo memberikan proteksi
terhadap produk gula dalam negeri. Misalnya dengan memberikan subsidi harga
kepada produsen baik petani maupun pabrik gula. Namun berada dana APBN yang
digelontorkan setiap tahun untuk subsidi harga gula guna mempertahankan
swasembada?
Target
swasembada gula harus dicapai, Swasembada gula yang mengutamakan kualitas dan
efisiensi produksi di setiap lini, dari hulu sampai hilir, agar harga dan
kualitas gula di Indonesia bisa lebih kompetitif dibandingkan negara
kompetitor.
Berkaca
dari Thailand, pendapatan utama pabrik gula di Thailand tidak hanya produksi
gula, tetapi juga hasil samping. Beberapa Produk tersebut bernilai ekonomi
tinggi sehingga pada akhirnya bisa menyubsitusi biasa produksi per kilogram
gula.
Kompas,
Kamis 13 November 2014

No comments:
Post a Comment