Pondok Ilmu Pengetahuan

Monday, December 15, 2014

EKONOMI



Swasembada Gula
Apakah Masih Relevan ?



Sesuai dengan visi misinya yang ingin mewujudkan kedaulatan pangan, termasuk diantaranya dalam produksi gula nasional, Pemerintahan Jiko Widodo mulai bergerak cepat menyusun strategi mencapai swasembada gula nasional. 

Kebutuhan gula nasional sekarang 60 persen dipasok dari gula impor dalam bentuk gula mentah dan gula rafinasi. Produksi gula dalam negeri sekitar 2,4 juta ton. Adapun 3 juta ton kekurangannnya harus diimpor.

Kita tentu mengapresiasi niat baik, semangat dan kerja cepat untuk mencapai swasembada gula. Semuanya itu tidak boleh luntur apalagi sampai padam. Semangar untuk membangun kedaulatan dan kemandirian pangan harus terus digelorakan dan tercermin dalam setiap kebijakan dan imolementasinya di lapangan.

Disisi lain, Kita juga tidak indin kerja keras mencapai swasembada gula itu nantinya ibarat menepuk angin. Kerja keras untuk mencapai swasembada gula hendaknya harus menghasilkan output yang nyatam yang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, keinginan untuk mencapai swasembada gula harus dirumuskan dengan matang dan cermat agar bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional

Kita sadar bahwa perdagangan bebas ASEAN dimulai pada 2015. Gula merupakan salah satu komoditas yang masuk dalam perlakuan khusus dalam bentuk tariff dan standart kualitas khusus gula indonesia. Kalaupun ada kebijakan tariff khusus untuk gula impor, besarannya tidak bisa ditetapkan sesuka hati.

Bicara soal gula, tantangan terbesar produksi gula Indonesia adalah Thailand. Saat ini produksi gula di Thailand sekitar Rp. 6.000 per kilo gram. Meski sudah ditambah biaya transportasi dan penanganan, harga gula impor Thailand di Indonesia maih lebih murah dari pada gula produksi Indonesia yang biasaya produksinya Rp. 8.000 per kilogram

Produktivitas terbu dan kandungan gula dalam tebu Thailand lebih tingi 20 persen dibandingkan Indonesia. Masalah lainnya adalah rendemen gula di pabrik. Di Indonesia, rata rata rendemen gula hanya 7, 5 persen . Bahkan masih ada yang 5-6 persen. Di Thailand rata rata rendemen gula di pabrik di atas 10 persen. Dari sini saja harga gula Indonesia akan kalah bersaing.

Dengan selisih harga dan kualitas yang tinggi. Bisa saja gula dari Thailand bakal membanjiri Indonesia. Bisa saja Pemerintahan Jokowidodo memberikan proteksi terhadap produk gula dalam negeri. Misalnya dengan memberikan subsidi harga kepada produsen baik petani maupun pabrik gula. Namun berada dana APBN yang digelontorkan setiap tahun untuk subsidi harga gula guna mempertahankan swasembada?

Target swasembada gula harus dicapai, Swasembada gula yang mengutamakan kualitas dan efisiensi produksi di setiap lini, dari hulu sampai hilir, agar harga dan kualitas gula di Indonesia bisa lebih kompetitif dibandingkan negara kompetitor.

Berkaca dari Thailand, pendapatan utama pabrik gula di Thailand tidak hanya produksi gula, tetapi juga hasil samping. Beberapa Produk tersebut bernilai ekonomi tinggi sehingga pada akhirnya bisa menyubsitusi biasa produksi per kilogram gula. 

Kompas, Kamis 13 November 2014

No comments:

Post a Comment