Pondok Ilmu Pengetahuan

Saturday, January 17, 2015

INDUSTRI



PERINDUSTRIAN
SAATNYA MEMBUKTIKAN DIRI


Sektor Industri adalah penopang pertumbuhan ekonomi negeri. Industri di dalam negeri mengemban peran mengisi kebutuhan komsumsi di pasar domestic dan ekspor. Seberapa tangguh penopang itu mampu menjalankan perannya?

Merujuk data Kementerian Perindustrian, deficit pada neraca ekspor impor produk industry periode Januari-September 2014 sebesar 5,22 miliar dollar AS. Defisit neraca ekspor impor produk industry ini turun 67,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang sebesar 16,13 miliar dollar AS.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Ekspor industry pengolahan pada Januari-Oktober 2014 sebesar 93,241 miliar dollar AS. Angka ini naik 5,60 persen dibandingkan dengan Januari-Oktober 2013 yang mencapai 93,214 miliar dollar AS Ekspor sector industry pengolahan pada Januari-Oktober 2014 tersebut menyumbang 66,48 persen terhadap total ekspor Indonesia yang sebesar 148,057 miliar dollar AS. 

Sebagai perbandingan, impor bahan baku dan penolong pada Januari-Oktober 2014 sebesar 114,365 miliar dollar AS. Nilai impor ini turun 3,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang sebesar 118,774 miliar dollar AS.

Sementara itu, impor barang modal pada kurun waktu Januari-Oktober 2014 sebesar 24,844 miliar dollar AS. Nilai itu berkurang 5,89 persen dibandingkan Januari-Oktober 2013 yang mencapai 26,399 miliar dollar AS. 

Dari data data tersebut, terlihat peningkatan ekspor dan penurunan impor pada Januari-Oktober 2014 dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Namun, data juga menunjukan, neraca ekspor sector industry di Indonesia pada satu tahun terakhir masih deficit

Kondisi tersebut bisa dimaknai sebagai tugas bagi pemerintah untuk memosisikan perindustrian sebagai sector yang kembali mampu mencatat surplus perdagandan. Lugasnya, peran industry agar Berjaya di pasar ekspor sangat dinanti.

Di titi ini, penguatan struktur industry dalam negeri mutlak diperlukan untuk mengurandi ketergantungan terhadap impor bahan baku, bahan penolong dan barang modal.

Berdasarkan data BPS, sekitar 93 persen dari total impor Indonesia berupa bahan baku, bahan penolong dan barang modal. Hal ini hendaknya mengingatkan kita betara rapuhnya struktur industry Indonesia.

Data yang dirilis BPS menunjukan, impor barang konsumsi pada Jnuari-Oktober 2014 sebesar 10,493 dollar AS. Nilai ini turun 3,28 persen dibandingkan impor barang konsumsi periode Januari-Oktober 2013 yang sebesar 10,849 miliat dollar AS. 

Berkurangnya impor barang konsumsi tentu tidak hanya akibat faktor tunggal. Meski demikian, kondisi tersebu merupakan sinyal bahwa industry dalam negeri sepatutnya harus mampu mengisi kebutuhan konsumsi di dalam negeri.

Bonus demograsi, besarnya pasar, potensi peningkatan daya beli, dan pertumbuhan konsumsi di Indonesia kerap disuarakan. Namun, jika industry dalam begeri lalai menyiapkan diri, peluang manis itu akan percuma terbuang. Inginkah kita? tentu saja tidak. 

Penggarapan pasar ekspor dan domestic harus menjadi perhatian semua pemangku kepentingan di Indonesia. Hambatan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun di negara tujuan, harus dimininalkan. 

Sebaliknya, dukungan terhadap pelaku industry dalam negeri harus ditingkatkan. Dukungan itu bisa membuat pelaku industry domestic semakin berdaya saing saat harus mengisi pasar dalam negeri dan ekspor. Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN yang tinggal setahun lagi akan menjadi salah satu batu uji kemampuan industry dalam negeri.

Jangan lali menyiapkan diri menghadapi kompetisi. Buktikan sector perindustrian di dalam negeri sanggup menjawab tantangan ini. 

Sumber : Kompas . (C Anto saptowalyono)

No comments:

Post a Comment