PERINDUSTRIAN
SAATNYA MEMBUKTIKAN DIRI
Sektor Industri adalah penopang
pertumbuhan ekonomi negeri. Industri di dalam negeri mengemban peran mengisi
kebutuhan komsumsi di pasar domestic dan ekspor. Seberapa tangguh penopang itu
mampu menjalankan perannya?
Merujuk data Kementerian Perindustrian, deficit pada neraca
ekspor impor produk industry periode Januari-September 2014 sebesar 5,22 miliar
dollar AS. Defisit neraca ekspor impor produk industry ini turun 67,70 persen
dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang sebesar 16,13 miliar dollar AS.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS),
Ekspor industry pengolahan pada Januari-Oktober 2014 sebesar 93,241 miliar
dollar AS. Angka ini naik 5,60 persen dibandingkan dengan Januari-Oktober 2013
yang mencapai 93,214 miliar dollar AS Ekspor sector industry pengolahan pada
Januari-Oktober 2014 tersebut menyumbang 66,48 persen terhadap total ekspor
Indonesia yang sebesar 148,057 miliar dollar AS.
Sebagai perbandingan, impor bahan baku dan penolong pada
Januari-Oktober 2014 sebesar 114,365 miliar dollar AS. Nilai impor ini turun
3,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang sebesar 118,774
miliar dollar AS.
Sementara itu, impor barang modal pada kurun waktu
Januari-Oktober 2014 sebesar 24,844 miliar dollar AS. Nilai itu berkurang 5,89
persen dibandingkan Januari-Oktober 2013 yang mencapai 26,399 miliar dollar AS.
Dari data data tersebut, terlihat peningkatan ekspor dan
penurunan impor pada Januari-Oktober 2014 dibandingkan periode yang sama tahun
2013. Namun, data juga menunjukan, neraca ekspor sector industry di Indonesia
pada satu tahun terakhir masih deficit
Kondisi tersebut bisa dimaknai sebagai tugas bagi pemerintah
untuk memosisikan perindustrian sebagai sector yang kembali mampu mencatat
surplus perdagandan. Lugasnya, peran industry agar Berjaya di pasar ekspor
sangat dinanti.
Di titi ini, penguatan struktur industry dalam negeri mutlak
diperlukan untuk mengurandi ketergantungan terhadap impor bahan baku, bahan
penolong dan barang modal.
Berdasarkan data BPS, sekitar 93 persen dari total impor
Indonesia berupa bahan baku, bahan penolong dan barang modal. Hal ini hendaknya
mengingatkan kita betara rapuhnya struktur industry Indonesia.
Data yang dirilis BPS menunjukan, impor barang konsumsi pada
Jnuari-Oktober 2014 sebesar 10,493 dollar AS. Nilai ini turun 3,28 persen
dibandingkan impor barang konsumsi periode Januari-Oktober 2013 yang sebesar
10,849 miliat dollar AS.
Berkurangnya impor barang konsumsi tentu tidak hanya akibat
faktor tunggal. Meski demikian, kondisi tersebu merupakan sinyal bahwa industry
dalam negeri sepatutnya harus mampu mengisi kebutuhan konsumsi di dalam negeri.
Bonus demograsi, besarnya pasar, potensi peningkatan daya
beli, dan pertumbuhan konsumsi di Indonesia kerap disuarakan. Namun, jika
industry dalam begeri lalai menyiapkan diri, peluang manis itu akan percuma
terbuang. Inginkah kita? tentu saja tidak.
Penggarapan pasar ekspor dan domestic harus menjadi
perhatian semua pemangku kepentingan di Indonesia. Hambatan, baik yang berasal
dari dalam negeri maupun di negara tujuan, harus dimininalkan.
Sebaliknya, dukungan terhadap pelaku industry dalam negeri
harus ditingkatkan. Dukungan itu bisa membuat pelaku industry domestic semakin
berdaya saing saat harus mengisi pasar dalam negeri dan ekspor. Berlakunya
Masyarakat Ekonomi ASEAN yang tinggal setahun lagi akan menjadi salah satu batu
uji kemampuan industry dalam negeri.
Jangan lali menyiapkan diri menghadapi kompetisi. Buktikan
sector perindustrian di dalam negeri sanggup menjawab tantangan ini.
Sumber : Kompas . (C Anto saptowalyono)

No comments:
Post a Comment