ADILAH POHONMU SENDIRI SESUAI DENGAN AMANAH TUHANMU
Saya pernah bertanya pada salah
seorang bijak, di Indonesia.
"Mengapa potret negeri kita
kok jadinya seperti ini ?"
Lalu beliau berkata; "Karena
banyak anak-anak Indonesia yang berprofesi tidak sesuai
panggilan jiwanya, melainkan
berdasarkan arahan atau bahkan paksaan orang tuanya,
hingga akhirnya banyak orang yang
menghianati profesi atau jabatannya sendiri."
"Tapi bagaimana jika profesi
yg diminati si anak kelihatannya "tidak menjamin"
penghidupan atau masa depan si anak
itu sendiri, bukankah wajar semisal orang tua
mengarahkan anaknya untuk mengambil
profesi yang lebih menjanjikan, semisal;
"ketimbang kamu jadi guru parenting
kan jauh lebih menjamin masa depan belajar
Akunting ?" sanggah saya
kepada sang bijak.
Dengan lembut beliau menjawab,
"Anakku, benih pohon itu
diciptakan Tuhan untuk menjadi pohonnya masing-masing, dan tidak pernah menjadi pohon
lainnya".
"Biji jambu kelak akan
mengambil peran sebagai pohon jambu dengan memberikan buah jambunya yang manis, bibit Durian,
bibit nangka, kelapa pun demikian, jadi masing- masing itu sama baiknya, sama
dibutuhkannya dan mereka ada untuk mengisi perannya masing-masing, agar manusia bisa
memanfaatkannya sesuai kebutuhan yg berbeda- beda".
"Begitu juga dengan benih
manusia, sejak lahir ia sudah membawa amanah dari Tuhan
untuk mengambil satu peran dalam
kehidupan ini."
"Jadi biarkanlah anak-anak itu
memilih peran profesi yang sesuai dengan panggilan
jiwanya, yang menjadi minat
terbesarnya, karena mereka membawa amanat Tuhannya dan bukan "cita-cita orang tuanya
yang dulu gagal di raihnya", atau apa lagi memaksa
seorang anak untuk profesi
terntentu karena takut tidak punya masa depan."
"Bayangkan jika bibit jagung
kalian paksa untuk tumbuh menjadi pohon nangka, dan bibit nangka kalian paksa untuk tumbuh
menjadi pohon kelapa, apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini ?".
" Itulah sesungguhnya yang
sedang terjadi di negeri kita. orang-orang yang berprofesi
tidak sesuai dengan panggilan hati
nurani amanat dari Tuhannya, maka jadilah mereka
menghianati tugas dan tanggung
jawab dari profesi yang mereka jalani sendiri"
"Anakku..." kembali
beliau menambahkan.
"Ingatlah semua pohon punya
manfaatnya masing-masing, itulah yang membuat mereka dibutuhkan oleh semua orang dan
mahluk hidup, itulah sesungguhnya yang menjamin masa depan mereka karena mereka
selalu dibutuhkan."
"Maka bimbinglah anak-anak
kita untuk menjadi orang yang sangat di butuhkan oleh
orang lain melalui profesi yang
mereka cintai, pasti anak kita akan punya masa depan
yang cerah."
"Jika anakmu ingin jadi
semisal Tukang Sampah, maka jadilah Tukang sampah terbaik di dunia yang mempu mengelola limbah sampah
menjadi energi atau barang berharga
lainnya yang dibutuhkan oleh setiap
orang dalam kehidupan ini."
"Jika semisal seorang anak
yang ingin menjadi Dokter adalah panggilan jiwanya niscaya akan dilahirkan dokter2 yang baik
dan luar biasa, jika semisal seorang anak ingin menjadi penegak hukum karena panggilan
jiwanya dan bukan karena uang, maka niscaya akan dilahirkan para penegak hukum yang
jujur dan luar biasa."
"Begitulah nak jika kamu ingin
negeri ini berubah, kamu bisa memulainya dari diri kamu sendiri dan rumah kamu sendiri
dengan membimbing anakmu menemukan panggilan jiwanya masing-masing dan memilih
profesi sesuai panggilan jiwanya, menjadi yang terbaik di bidang yang di
cintainya, niscaya tidak akan ada kekacauan lagi di negeri kita."
"Ingatlah selalu jika segala
sesuatu tidak di serahkan pada "ahlinya" (orang yang
berprofesi sesuai panggilan jiwa
dan hati nuraninya), maka tunggu saja kehancurannya."
Saya tertegun mendengarkan
penuturan ini, dan langsung terbayang di pelupuk mata
kedua anak saya; oh ....anak saya
yang satu ingin menjadi seorang petani buah....dan
satunya lagi selalu ingin menjadi
pedagang.
Oh anakku Dido, jadilah petani buah
terbaik yang pernah ada didunia ini, dan Dimas,
jadilah pedagang yang terbaik dan
jujur yang pernah ada di dunia ini. Biarlah Tuhan yang akan menjamin masa depanmu.
Pesan ayah untukmu, Anakku jadilah
orang yang kehadirannya
No comments:
Post a Comment