Menjual (diri) kepada Allah
Sebagaimana kita ketahui banyak
mutiara hikmah dan motivasi yang akan kita dapatkan setelah membaca kitab suci Al-Qur’an.
Di saat udara pagi yang sejuk dan sinar mentari yang lembut menyapa, kami mengawali
aktivitas dengan mengkaji ayat suci Al-Qur’an.
Hari itu kami membuka Surat
At-taubah (9) ayat 111 setelah membacanya bersama, kami tersentak ketika
berusaha memahami artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk
mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.
(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar.
Ada banyak tanya dalam pikiran
kami, ada rasa gelisah menyelimuti hati kami. Bukankah Allah adalah sang Khaliq
dan kita hanyalah hamba-Nya ? mengapa Allah perlu membeli kita dengan
memberikan Surga ? apalagi ditegaskan jual-beli yang kita lakukan adalah sebuah
kegembiraan dan kemenangan yang besar ?
Jual beli menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah
persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli. Penjual yakni pihak
yang menyerahkan barang, dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga yang
dijual. Dalam bahasa Arab, jual beli berasal dari kata ba’a, yabi’u, bai’an.
Artinya adalah memberikan suatu barang untuk mendapatkan sesuatu yang lain,
atau tukar menukar sesuatu. Sedangkan secara istilah adalah jual beli dapat
diartikan sebagai kegiatan tukar menukar suatu barang dengan barang yang lain,
atau pertukaran antara barang dengan uang yang memenuhi syarat dan rukun
tertentu. (Yusuf Qardhawi,
2000: 19).
Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia pasti pernah terlibat dalam hukum jual-beli baik
berupa barang ataupun jasa. Tidak jarang ketika melakukan jual-beli dengan manusia sering mengalami kerugian. Jika penjual dan pembeli melanggar kesepakatan
ataupun ketidak jujuran. Seperti teman penulis yang berinvestasi batik sampai
ratusan juta tapi uangnya dibawa kabur oleh penjualnya, lalu apa daya nasi
sudah jadi bubur, ia hanya bisa menangis karena kerugian yang dideritanya.
Di kota kecil maupun besar sering dijumpai manusia yang rela
menjual diri untuk keuntungan materi. Seperti maraknya
prostitusi online yang menjerat beberapa artis di Indonesia baru-baru ini. Kenikmatan
sesaat yang didapatkan berujung pada kerugian yang lebih besar: potensi terkena penyakit menular, aib bagi
keluarganya, masuk
penjara dan karir masa depannya akan suram. Itulah
gambaran kecil dari potensi kerugian yang bisa terjadi dalam hukum jual beli dengan manusia.
Berbeda
dengan orang orang mukmin yang mengadakan jual beli dengan Allah.
Mari kita lihat kembali asbabun
nuzulnya (QS. 9: 111): Ibnu Abi Hatim dan
Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan dari Jabir. Katanya: Ayat ini diturunkan
kepada Rasulullah SAW. ketika beliau berada dalam masjid. Maka, orang-orang
bertakbir di masjid, lalu datanglah seorang laki-laki Ansar dengan melipat
kedua ujung mantelnya pada lehernya, lalu berkata : “Ya Rasulullah, apakah ayat
ini turun mengenai kita ?” Jawab Rasul : “Ya”. Maka, berkatalah orang itu;
“Jual beli yang berlaba, yang takkan kita batalkan dan tidak akan kita minta
dibatalkan.” Sedang Ibnu Jarir mengeluarkan riwayat, bahwa Abdullah bin
Rawahah, berkata Rasulullah SAW. pada malam ‘Aqabah, “Buatlah persyaratan untuk
dirimu dan untuk Tuhanmu”. Maka sabda Rasulullah SAW : “Aku mempersyaratkan untuk
Tuhanku, supaya kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu. Sedang untuk diriku, aku mempersyaratkan agar kalian membela diriku
terhadap apa yang kamu bela terhadap dirimu dan hartamu”. Orang-orang berkata:
“Kalau hal itu sudah kami laksanakan, maka apakah yang kami peroleh ?” Jawab
Nabi: “Surga”. Maka, berkatalah Abdullah bin Rawahah, “Laba jual beli yang
tidak kita batalkan dan kita tidak meminta dibatalkan”. Maka turunlah ayat
tersebut.
Di ayat yang lain Allah menawarkan sebuah
perniagaan: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (yaitu) kamu
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (As Shoff: 10-11).
Para fisabilillah yang memberikan seluruh waktu, tenaga,
pikiran, hartanya untuk mendapatkan ridho Allah dan kebahagiaan akhirat
sebagaimana termaktub dalam QS. Al-An’am: 162-163 sebenarnya telah mengadakan
hukum jual beli. Allah secara eksplisit sebagai pembeli bagi orang mukmin.
Orang orang mukmin sebagai penjual dan yang dijual adalah dirinya semua baik
fisik, harta, waktu, pikiran, hanya untuk Allah. Allah membalas segala perjuangan
dan pengorbanan yang telah diberikan orang mukmin dengan balasan yang terbaik,
yakni kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki.
Tentunya bagi kita ini merupakan
bisnis yang sangat indah dan menimbulkan kegairahan untuk menjalaninya. Tak ada
keraguan bagi kita untuk mempertaruhkan fisik, waktu, tenaga, pikiran dan hati
untuk berjuang di jalan Allah. Surga yang dijanjikan merupakan sebaik-baiknya
tempat istirahat dan semua kebutuhan manusia terpenuhi tanpa terkecuali. Mulai
dari kebutuhan fisiologis tersedia makanan terbaik dengan dilayani oleh isteri
yang sedap dipandang (QS. At-Thuur: 22, QS. Al-Baqarah: 25, QS. Al Waaqiah: 23), Kemudian juga
kebutuhan rasa aman dengan memiliki istana yang kokoh, suasana nyaman tanpa
kejahatan (QS. Al Insaan: 20), kebutuhan rasa cinta yang dinikmati dengan
pasangannya dan hidup
dalam suasana persaudaraan (QS. Yasin: 56, QS. Al-Hijr: 47). Kebutuhan harga diri kita terpenuhi karena disambut
langsung oleh Allah (QS. Yasin: 58). Itulah gambaran semua kebutuhan di surga
yang bisa dirasakan dalam satu paket sekaligus dan disana manusia tidak pernah
merasa bosan ataupun letih (QS. Faathir: 35).
Disamping itu jual beli ini tak akan pernah batal, tidak seperti
jual beli dengan manusia yang sering melanggar perjanjian. Bahwa tidak ada seorang pun yang
melebihi Allah dalam hal menepati janji karena sudah tertulis di kitab Taurat
dan Injil maupun Al-Qur’an. Allah Maha Kuasa tidak pernah lupa pada hamba-Nya
yang berjihad di jalannya. Ini adalah sebuah nikmat yang membuat orang-orang mukmin dengan senang hati ,bergembira
menjual diri karena Allah yang akan memperoleh keberuntungan pasti dari
janji-Nya.
Siapakah orang orang mukmin yang cintanya kepada Allah begitu besar dan rela menjual
dirinya kepada Allah ?
Didalam QS At-Taubah Ayat 112
Allah berfirman:
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang
memuji, yang melawat[662], yang ruku', yang sujud, yang
menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara
hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. [662].
Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. Ada pula yang
menafsirkan dengan orang yang berpuasa.
1. Orang-orang yang bertaubat : Orang orang yang senantiasa memurnikan niatnya
untuk melakukan perbuatan yang baik. Senantiasa kritis dalam setiap perbuatan
untuk mengamalkan kebaikan. Makanya ia di kondisi masyarakat rusakpun tidak akan
mudah goyah untuk berbuat baik. (At-Tahrim : 8)
2. Orang-orang yang beribadah kepada
Allah
Orang yang motivasi dasar hidupnya
karena Allah. ia sudah memiliki niat dan pasti akan melibatkan dirinya dalam
perjuangan di jalan Allah, ia tidak mudah mengeluh menghadapi hambatan apapun dalam
perjuangan dijalan Allah, ketika bekerja dalam organisasi Islam ia rela
meluangkan waktu lebih banyak untuk bekerja melayani umat dibandingkan dengan keluarga ataupun
teman-temannya. karena
hidupnya untuk ibadah kepada Allah. Mau berkontribusi paling besar untuk
perjuangan di jalan Allah (QS Ali-Imron : 186).
3. Orang-orang yang Memuji Allah
Orang mukmin yang memiliki niat murni senantiasa melihat
kebesaran Allah baik melalui ciptaan-Nya, Kuasa-Nya, Nikmat-Nya, ataupun
mengamati kehidupan sosial masyarakat akan tergetar hatinya, karena
menyadari betapa lemahnya kita dihadapan Allah. Melalui pengamatan “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan,.. (QS. Al-Alaq: 1-5), akan menemukan ilmu
pengetahuan yang digunakan untuk bahan analisis pemecahan masalah
ataupun konsep pembangunan.
4. Orang-orang yang mengembara ilmu
Dengan mengamati kekuasaan Allah sebagai
bahan analisis. ia juga senantiasa menambah ilmu. Ilmunya untuk perubahan bukan
untuk kebanggaan. Dengan Mempelajari sejarah masa lalu, memperhatikan
lebih banyak penciptaan makhluk Allah, mempelajari perintah Allah dan
sunatullah-Nya. akan menemukan konsep pemecahan masalah (Al-Ankabut: 19-20). Semakin banyak
ilmu maka akan semakin banyak pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang bisa
digunakan membangun masyarakat. Sebagaimana
pernyataan Umar bin Abdil Aziz: “Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka
kerusakan yang ditimbulkannya labih besar dari kemaslahatan yang dihasilkannya”ini
sangat jelas, karena niat dan amal tanpa ilmu merupakan kebodohan, kesesatan
dan mengikuti hawa nafsu.
5. Orang-orang yang ruku’ dan yang
bersujud
Orang-orang yang tidak lupa berserah
diri kepada Allah dengan mendirikan salat. selalu Menjaga penghambaan diri
kepada Allah SWT, dengan
begitu membentuk pribadi yang sabar, dan takut kepada Allah. (QS. Al Hajj: 35)
6. Orang-orang yang berbuat makruf dan
mencegah yang mungkar
Suka mengamalkan kebaikan dan menjauhkan dari keburukan, mengajak orang lain untuk berbuat
kebajikan, dan mencegahnya dari perbuatan yang mungkar. Apapun dilakukan dengan
sepenuh hati untuk memberikan yang terbaik.
(QS. Ali-Imron: 110)
7. Orang-orang
yang memelihara hukum-hukum Allah
Sebagai pengemban misi khalifah fil
ard, ia tidak akan rela jika melihat kerusakan masyarakat tapi tidak ikut
terlibat dalam dinamika perjuangan. selalu menggunakan akalnya untuk memelihara
hukum Allah karena apabila
ia tidak memelihara hukum-hukum Allah yang terjadi adalah kerusakan yang lebih parah. "Perumpamaan
orang yang teguh menjalankan hukum Allah dan orang yang terjerumus didalamnya
bagaikan satu kaum yang membagi tempat diatas perahu, sebagian mendapat tempat
di bawah dan sebagian di atas. Orang yang di bawah memerlukan air melalui orang
yang di atas, lalu hal itu mengganggu mereka. Kemudian (orang yang di bawah)
mengambil kampak dan mulai melobangi perahu. Datanglah orang-orang yang di atas
dan berkata:” kenapa berbuat demikian ?” dia
menjawab:”kalian terganggu oleh saya, padahal saya mesti mengambil air” jika
mereka menahannya, maka mereka menyelamatkannya dan menyelamatkan diri mereka
sendiri; dan jika membiarkannya maka mereka membinasakannya dan membinasakan
diri mereka semua." (Hadist Riwayat
Bukhori).
No comments:
Post a Comment