Pondok Ilmu Pengetahuan

Monday, April 18, 2016

Menjual (diri) kepada Allah



Menjual (diri) kepada Allah

Sebagaimana kita ketahui banyak mutiara hikmah dan motivasi yang akan kita dapatkan setelah membaca kitab suci Al-Qur’an. Di saat udara pagi yang sejuk dan sinar mentari yang lembut menyapa, kami mengawali aktivitas dengan mengkaji ayat suci Al-Qur’an. 

Hari itu kami membuka Surat At-taubah (9) ayat 111 setelah membacanya bersama, kami tersentak ketika berusaha memahami artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Ada banyak tanya dalam pikiran kami, ada rasa gelisah menyelimuti hati kami. Bukankah Allah adalah sang Khaliq dan kita hanyalah hamba-Nya ? mengapa Allah perlu membeli kita dengan memberikan Surga ? apalagi ditegaskan jual-beli yang kita lakukan adalah sebuah kegembiraan dan kemenangan yang besar ?

Jual beli menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli. Penjual yakni pihak yang menyerahkan barang, dan pembeli sebagai pihak yang membayar harga yang dijual. Dalam bahasa Arab, jual beli berasal dari kata ba’a, yabi’u, bai’an. Artinya adalah memberikan suatu barang untuk mendapatkan sesuatu yang lain, atau tukar menukar sesuatu. Sedangkan secara istilah adalah jual beli dapat diartikan sebagai kegiatan tukar menukar suatu barang dengan barang yang lain, atau pertukaran antara barang dengan uang yang memenuhi syarat dan rukun tertentu. (Yusuf Qardhawi, 2000: 19).  

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti pernah terlibat dalam hukum jual-beli baik berupa barang ataupun jasa. Tidak jarang ketika melakukan jual-beli dengan manusia sering mengalami kerugian. Jika penjual dan pembeli melanggar kesepakatan ataupun ketidak jujuran. Seperti teman penulis yang berinvestasi batik sampai ratusan juta tapi uangnya dibawa kabur oleh penjualnya, lalu apa daya nasi sudah jadi bubur, ia hanya bisa menangis karena kerugian yang dideritanya.  

Di kota kecil maupun besar sering dijumpai manusia yang rela menjual diri untuk keuntungan materi. Seperti maraknya prostitusi online yang menjerat beberapa artis di Indonesia baru-baru ini. Kenikmatan sesaat yang didapatkan berujung pada kerugian yang lebih besar: potensi terkena penyakit menular, aib bagi keluarganya, masuk penjara dan karir masa depannya akan suram. Itulah gambaran kecil dari potensi kerugian yang bisa terjadi dalam hukum jual beli dengan manusia.

Berbeda dengan orang orang mukmin yang mengadakan jual beli dengan Allah.
Mari kita lihat kembali asbabun nuzulnya (QS. 9: 111): Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan dari Jabir. Katanya: Ayat ini diturunkan kepada Rasulullah SAW. ketika beliau berada dalam masjid. Maka, orang-orang bertakbir di masjid, lalu datanglah seorang laki-laki Ansar dengan melipat kedua ujung mantelnya pada lehernya, lalu berkata : “Ya Rasulullah, apakah ayat ini turun mengenai kita ?” Jawab Rasul : “Ya”. Maka, berkatalah orang itu; “Jual beli yang berlaba, yang takkan kita batalkan dan tidak akan kita minta dibatalkan.” Sedang Ibnu Jarir mengeluarkan riwayat, bahwa Abdullah bin Rawahah, berkata Rasulullah SAW. pada malam ‘Aqabah, “Buatlah persyaratan untuk dirimu dan untuk Tuhanmu”. Maka sabda Rasulullah SAW : “Aku mempersyaratkan untuk Tuhanku, supaya kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Sedang untuk diriku, aku mempersyaratkan agar kalian membela diriku terhadap apa yang kamu bela terhadap dirimu dan hartamu”. Orang-orang berkata: “Kalau hal itu sudah kami laksanakan, maka apakah yang kami peroleh ?” Jawab Nabi: “Surga”. Maka, berkatalah Abdullah bin Rawahah, “Laba jual beli yang tidak kita batalkan dan kita tidak meminta dibatalkan”. Maka turunlah ayat tersebut.

Di ayat yang lain Allah menawarkan sebuah perniagaan: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ?” (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu Mengetahuinya”. (As Shoff: 10-11)

Para fisabilillah yang memberikan seluruh waktu, tenaga, pikiran, hartanya untuk mendapatkan ridho Allah dan kebahagiaan akhirat sebagaimana termaktub dalam QS. Al-An’am: 162-163 sebenarnya telah mengadakan hukum jual beli. Allah secara eksplisit sebagai pembeli bagi orang mukmin. Orang orang mukmin sebagai penjual dan yang dijual adalah dirinya semua baik fisik, harta, waktu, pikiran, hanya untuk Allah. Allah membalas segala perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan orang mukmin dengan balasan yang terbaik, yakni kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki. 

Tentunya bagi kita ini merupakan bisnis yang sangat indah dan menimbulkan kegairahan untuk menjalaninya. Tak ada keraguan bagi kita untuk mempertaruhkan fisik, waktu, tenaga, pikiran dan hati untuk berjuang di jalan Allah. Surga yang dijanjikan merupakan sebaik-baiknya tempat istirahat dan semua kebutuhan manusia terpenuhi tanpa terkecuali. Mulai dari kebutuhan fisiologis tersedia makanan terbaik dengan dilayani oleh isteri yang sedap dipandang (QS. At-Thuur: 22, QS. Al-Baqarah: 25, QS. Al Waaqiah: 23), Kemudian juga kebutuhan rasa aman dengan memiliki istana yang kokoh, suasana nyaman tanpa kejahatan (QS. Al Insaan: 20), kebutuhan rasa cinta yang dinikmati dengan pasangannya dan hidup dalam suasana persaudaraan (QS. Yasin: 56, QS. Al-Hijr: 47). Kebutuhan harga diri kita terpenuhi karena disambut langsung oleh Allah (QS. Yasin: 58). Itulah gambaran semua kebutuhan di surga yang bisa dirasakan dalam satu paket sekaligus dan disana manusia tidak pernah merasa bosan ataupun letih (QS. Faathir: 35)

Disamping itu jual beli ini tak akan pernah batal, tidak seperti jual beli dengan manusia yang sering melanggar perjanjian. Bahwa tidak ada seorang pun yang melebihi Allah dalam hal menepati janji karena sudah tertulis di kitab Taurat dan Injil maupun Al-Qur’an. Allah Maha Kuasa tidak pernah lupa pada hamba-Nya yang berjihad di jalannya. Ini adalah sebuah nikmat yang membuat orang-orang mukmin dengan senang hati ,bergembira menjual diri karena Allah yang akan memperoleh keberuntungan pasti dari janji-Nya. 

Siapakah orang orang mukmin yang cintanya kepada Allah begitu besar dan rela menjual dirinya kepada Allah ?

Didalam QS At-Taubah Ayat 112 Allah berfirman:
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat[662], yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. [662]. Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. Ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.

1.    Orang-orang yang bertaubat : Orang orang yang senantiasa memurnikan niatnya untuk melakukan perbuatan yang baik. Senantiasa kritis dalam setiap perbuatan untuk mengamalkan kebaikan. Makanya ia di kondisi masyarakat rusakpun tidak akan mudah goyah untuk berbuat baik. (At-Tahrim : 8)

2.     Orang-orang yang beribadah kepada Allah
Orang yang motivasi dasar hidupnya karena Allah. ia sudah memiliki niat dan pasti akan melibatkan dirinya dalam perjuangan di jalan Allah, ia tidak mudah mengeluh menghadapi hambatan apapun dalam perjuangan dijalan Allah, ketika bekerja dalam organisasi Islam ia rela meluangkan waktu lebih banyak untuk bekerja melayani umat dibandingkan dengan keluarga ataupun teman-temannya. karena hidupnya untuk ibadah kepada Allah. Mau berkontribusi paling besar untuk perjuangan di jalan Allah (QS Ali-Imron : 186).

3.     Orang-orang yang Memuji Allah
Orang mukmin yang memiliki niat murni senantiasa melihat kebesaran Allah baik melalui ciptaan-Nya, Kuasa-Nya, Nikmat-Nya, ataupun mengamati kehidupan sosial masyarakat akan tergetar hatinya, karena menyadari betapa lemahnya kita dihadapan Allah. Melalui pengamatan “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,.. (QS. Al-Alaq: 1-5), akan menemukan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk bahan analisis pemecahan masalah ataupun konsep pembangunan. 

4.     Orang-orang yang mengembara ilmu
Dengan mengamati kekuasaan Allah sebagai bahan analisis. ia juga senantiasa menambah ilmu. Ilmunya untuk perubahan bukan untuk kebanggaan. Dengan Mempelajari sejarah masa lalu, memperhatikan lebih banyak penciptaan makhluk Allah, mempelajari perintah Allah dan sunatullah-Nya. akan menemukan konsep pemecahan masalah (Al-Ankabut: 19-20). Semakin banyak ilmu maka akan semakin banyak pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang bisa digunakan membangun masyarakat.  Sebagaimana pernyataan Umar bin Abdil Aziz: “Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya labih besar dari kemaslahatan yang dihasilkannya”ini sangat jelas, karena niat dan amal tanpa ilmu merupakan kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu. 

5.     Orang-orang yang ruku’ dan yang bersujud
Orang-orang yang tidak lupa berserah diri kepada Allah dengan mendirikan salat. selalu Menjaga penghambaan diri kepada Allah SWT, dengan begitu membentuk pribadi yang sabar, dan takut kepada Allah. (QS. Al Hajj: 35)

6.      Orang-orang yang berbuat makruf dan mencegah yang mungkar
Suka mengamalkan kebaikan dan menjauhkan dari keburukan, mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan, dan mencegahnya dari perbuatan yang mungkar. Apapun dilakukan dengan sepenuh hati untuk memberikan yang terbaik. (QS. Ali-Imron: 110)

7.     Orang-orang yang memelihara hukum-hukum Allah
Sebagai pengemban misi khalifah fil ard, ia tidak akan rela jika melihat kerusakan masyarakat tapi tidak ikut terlibat dalam dinamika perjuangan. selalu menggunakan akalnya untuk memelihara hukum Allah karena apabila ia tidak memelihara hukum-hukum Allah yang terjadi adalah kerusakan yang lebih parah. "Perumpamaan orang yang teguh menjalankan hukum Allah dan orang yang terjerumus didalamnya bagaikan satu kaum yang membagi tempat diatas perahu, sebagian mendapat tempat di bawah dan sebagian di atas. Orang yang di bawah memerlukan air melalui orang yang di atas, lalu hal itu mengganggu mereka. Kemudian (orang yang di bawah) mengambil kampak dan mulai melobangi perahu. Datanglah orang-orang yang di atas dan berkata:” kenapa berbuat demikian ?” dia menjawab:”kalian terganggu oleh saya, padahal saya mesti mengambil air” jika mereka menahannya, maka mereka menyelamatkannya dan menyelamatkan diri mereka sendiri; dan jika membiarkannya maka mereka membinasakannya dan membinasakan diri mereka semua." (Hadist Riwayat Bukhori).

Akhir kata, jika dengan sesama manusia saja kita berusaha menjaga kepercayaan atas perjanjian yang kita buat agar kita bisa mendapat kepercayaan dari orang lain, maka semestinya kita bisa lebih menjaga kesucian jual-beli kita dengan Allah, tak akan mengingkari apalagi melarikan diri karena akan merugikan diri sendiri. Apalagi yang kita tunggu, masihkah kita meragukan diri kita untuk menjual diri kepada Allah ? Bukankah ini sebuah investasi yang besar ? Bukankah ini bisnis yang sangat menguntungkan ? Jakfar As-Sadiq seorang ulama, “seorang yang mempunyai pengetahuan luas tentang Al Quran, dalam menafsirkan surat At Taubah ayat 111-112 mengatakan: "Badan manusia ini nilai tukarnya adalah surga, oleh sebab itu kita tidak boleh menjualnya kecuali kepada allah untuk mendapatkan surga. Orang yang mati dalam membela agama Allah mengorbankan tubuhnya merupakan keberuntungan yang besar” Jangan sekali-kali kita termasuk orang-orang yang masih ragu, seperti yang tertulis di QS. Yunus: 94. “....Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu”. Mari kita menjual diri hanya kepada Allah. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang mukmin tersebut, yang telah dijamin janji Allah dengan ganjaran Surga-Nya. Aamiin…

No comments:

Post a Comment