Pondok Ilmu Pengetahuan

Tuesday, April 19, 2016

Pentingnya Menumbuhkan Kepekaan Sosial dalam Bermasyarakat

PENTINGNYA MENUMBUHKAN KEPEKAAN SOSIAL DALAM BERMASYARAKAT
Khoirotur Royana
Seperti yang kita ketahui permasalahan masyarakat yang kian hari kian kompleks. semua masalah seakan-akan menjalar ke berbagai aspek, dimulai dari permasalahan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, bahkan ideologi. Entah bagaimana caranya masyarakat saat  ini sangat acuh tak acuh dengan permasalahan yang terjadi. Entah karena terbius akan proses globalisasi ataupun terlena dengan budaya masa kini. Budaya individualis, hedonis, liberalis serta materialis telah menjamur sana-sini bagaikan virus yang menyebar tanpa kendali. Mereka terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, tanpa peduli tentang permasalahan yang terjadi tanpa henti.
Apa mereka tidak menyadari? Atau bahkan tidak mengerti tentang penurunan ayat pertama kali. dalam malam yang sepi, saat nabi mencari kebenaran yang haqiqi. Beliau mencoba mencari pemecahan permasalahan yang terjadi, beliau memilih untuk merenung dan menyendiri. Dalam pencarian kebenaran yang beliau jalani, Akhirnya waktu yang ditunggu itu pun terjadi, ayat Qur’an turun memberi pencerahan hati. “bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan manusia dari apa yang diketahuinya” (Qs. Al Alaq :1-5).
Ayat tersebut diawali dengan kata “Bacalah”, mengapa diawali dengan kata bacalah? Apa keutamaan yang ada dibaliknya. Membaca memiliki arti yang sangat luas. Dalam KBBI sendiri, membaca memiliki banyak arti: (1) melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (2) mengeja atau melafalkan apa yang tertulis (3) mengucapkan (4) mengetahui, meramalkan (5) memperhitungkan , memahami. Jadi, membaca bukan sekedar melihat apa yang tertulis, melainkan kita juga memahaminya. Dalam ayat diatas, kita disuruh untuk memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Kita disuruh mengamati apa yang terjadi di lingkungan sekitar agar kita memahami kemurahan-Nya. Dari pengamatan inilah, kita mengetahui tentang realias masyarakat.tak main-main Allah menyuruh kita untuk mengamati realitas, kata ‘bacalah’ yang ditulis dua kali dala, penurunan ayat pertama, memberi kita gambaran tentang pentingnya mengamati realitas yang terjadi guna menjadi pondasi awal yang pertama kali dibangun dalam pembentukan masyarakat.
Namun apa yang diharapkan tak berbanding lurus dengan kenyataan, inilah realitas pahit yang harus kita rasakan. Masyarakat yang hidup di lingkungan kita hanya diam menonton kerusakan yang lama-kelamaan kian memilukan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi saw. Membuat paparan tentang sekelompok penumpang kapal sebagai tamsil sebuah masyarakat. Penumpang menempati tempat duduknya masing-masing, ada bagian atas dan ada yang di bagian bawah. Penumpang yang di bagian bawah, enggan naik ke atas, untuk mengambil air. Daripada repot-repot, maka ia lubangi saja bagian bawah tempat duduknya, untuk mengambil air. Digambarkan oleh Nabi saw. Jika para penumpang lainnya mendiamkan saja tindakan si penumpang, maka akan binasalah si penumpang, dan juga binasa seluruh penumpang kapal itu. Penumpang yang membiarkan kerusakan itu masih terjadi seolah-olah tidak bersalah dan bertanggung jawab atas hancurnya kapal, namun  mengambil andil didalamnya. Seandainya saja penumpang lain peduli dan mencoba menghentikan kerusakan, niscaya mereka selamat sampai tujuan.
Kepekaan sosial sangatlah dibutuhkan dalam bermasyarakat. hal ini dapat direalisasikan terhadap masalah masyarakat yang ada, entah mengenai kerusakan moral yang lama kelamaan kian brutal, kesenjangan ekonomi yang makin lama makin tinggi, ataupun masalah masyarakat lainnya yang belum ditangani.
Kita yang memahami dan sangat mencita-citakan masyarakat Thoyyibah, seharusnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi, karena menghadapi realitas masyarakat bukan hanya sekedar duduk manis dan hanya menunjukkan rasa kecewa dalam hati, tapi kita harus menjadi prionir perubahan masa kini. Bila tidak ada yang peduli, apakah masyarakat Thoyyibah akan terealisasi? Kalau bukan kita? Siapa lagi yang peduli. Kalau bukan sekarang? Kapan lagi kita berjuang. Mungkin slogan inilah yang seharusnya kita aplikasikan.
Banyak orang besar yang lahir karena sifat kepekan sosialnya yang tinggi, contohnya saja Mahatma Ghandi, Nelson Mandela dan Bunda Teresa. Mereka melihat realitas masyarakat yang mengalami penderitaan, tekanan, dan kesengsaraan. Mereka yang hidupnya berkecukupan justru memilih hidup dalam penderitaan, meninggalkan apa yang ada, entah itu harta, rumah, jabatan bahkan keluarga sekalipun. Mereka melakukannya hanya untuk memperbaiki masyarakat yang ada di sekitar mereka, tidak peduli mereka mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang belum didapatkan sebelumnya, mereka berkorban habis-habisan dengan apa yang mereka miliki, mereka melakukan pengabdian yang luar biasa besarnya hingga dunia pun sangat mengapresiasi mereka. Andai kata mereka tidak memiliki sikap kepedulian yang tinggi, mungkin masalah masyarakat kian menjadi, karena  belum adanya sosok perubahan yang peduli.
Nabi Muhammad Saw juga memiliki kepedulian terhadap kerusakan masyarakat yangbegitu besar. Beliau mencoba merombak tradisi masyarakat arab yang dikenal terbelakang. Bisa dibayangkan bila nabi tidak peduli akan permasalahan masyarakt masyarakat dan justru masuk kedalamnya. Niscaya kita tidak pernah melihat luhurnya peradaban Arab, yang lahir dari masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat yang tinggi akan kemajuan.
Tapi mungkin saja ada pertanyaan besar yang harus kita jawab. Bagaimana caranya kita bia menumbuhkan rasa kepekaan sosial dalam bermasyarakat? Mungkin banyak literature yang telah membahas masalah ini. Namun saya menawarkan poin –poin yang dapat digunakan guna meningkatkan kepekaan social terhadap masyarakat.
(1)Menghayati misi hidup kita sebagai Khalifah di muka bumi.
Misi Allah yang diamanatkan kepada kita, hendaknya kita hayati sekali lagi. Dengan penghayatan inilah, kita bisa memaknai kehidupan . Orang besar diatas memiliki kepekaan yang tinggi dalam memahami realitas masyarakat. Mereka berusaha mencoba mengubah masyarakat kearah yang lebih baik. Tentunya kita juga tak ingin berdiam diri tanpa melakukan aksi yang berarti. Terlebih lagi kita sudah mengetahui, tentang misi hidup yakni khalifah di bumi ini. Kita yang diberi amanat yang begitu tinggi, justru berdiam diri atau bahkan ada yang menjadi bagian kerusakan itu sendiri. Kita juga tau bahwa semua prilaku kita kelak akan dipertanggungjawabkan. Apa yang harus kita katakana kepada Allah apabila ditanya tentang jalannya manat yang dipikul kita. Apa kita tidak malu, seandainya kita hanya mampu menjawab bahwa kita lupa akan tugas kita, kita lalai menjalankan amanat-Nya. Sedangkan kita tau benar apa misi hidup kita. Tentu kita tidak mau hal ini terjadi bukan?
 Contoh pemimpin sukses yang memiliki kepedulian yang begitu tinggi adalah Umar bin Khattab, beliau telah berhasil menciptakan masyarakat yang lebih baik. beliau adalah seorang Amirul Mukminin yang peduli, tiap hari beliau mencoba melihat realitas permasalahan pada umatnya. Pernah dikisahkan bahwa beliau pernah memikul sekarung gandum dengan tangan sendiri untuk seorang wanita tua. Beliau merasa sebagai seorang amirul mukminin haruslah memiliki tanggung jawab besar untuk memperbaiki masyarakat, karena bagaimanapun juga beliau diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Seharusnya kita dapat meneladai sikap beliau yang menjunjung tinggi rasa kepedulian terhadap umat. Apabila kita sudah meneladani dan menerapkan sikap beliau, niscaya akan tumbuh kepedulian kita terhadap sesama. Andai saja kita sebagai Khalifah atau pemimpin di muka bumi justru mementingkan diri sendiri, hidup hanya untuk mengejar materi. Melihat permasalahan saja seolah-olah tidak peduli. Bukannya kita kita malah membuat sejahtera, tapi makin sengsara.
(2)Menjadikan tokoh yang memiliki kepedulian tinggi sebagai tokoh idola dalam panutan hidup.
Pengaruh figuritas sangatlah berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang. Kebanyakkan dari kita masih mengalami krisis jatidiri, hal ini sangatlah mendorong kita untuk mencari idola atau lebih tepatnya panutan hidup yang sesuai dengan misi hidup kita. Contohnya saja, orang yang sangat mengejar duniawi akan mengidolakan tokoh yang sukses dalam kehidupan secara materi, bukannya mencari tokoh yang justru mendekatkan pada Ilahi.
Fenomena figuritas atau pengidolaan ini pasti akan terjadi pada semua orang, baik disadari atau tidak. Namun pengaruh dari figuritas sangat berdampak pada kepribadian kita baik secara langsung ataupun tidak langsung. Karena disaat kita mengidolakan, kita bukan sekedar mengagumi tapi kita jusstru meniru prilakunya, baik gaya bicara, busana, gaya rambut, pola hidup, dan sebagainya. Contohnya saja, Ir.Soekarno yang sangat mendidolakan H.O.S Cokroaminoto sebagai gurunya, dalam gaya berbicaranya dalam berpidato, Soekarno sangatlah mirip dengan gaya bicara Cokroaminoto.
Pengaruh figuritas sangatlah positif jika kita menetapkan idola yang justru membangun masyarakat. berbeda dengan yang menetapkan idola yang salah, bukannya berdampak pada kepribadian yang baik, malah kita semakin rusak dibuatnya.
Dalam pemecahan masalah kepekaan sosial, hendaknya kita  memilih idola ataupun tokoh yang juga menjadi pribadi yang memiliki kepedulian yang begitu tinggi. Contoh idola yang patut kita jadikan panutan hidup dalam bermasyarakat adalah tokoh-tokoh yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Diantaranya adalah Nelson Mandela, Mahatma Ghandi, Nabi Muhammad dan Umar bin Khattab.Hal ini diharapkan agar kita bisa meniru ataupun meneladani sikap mereka dan menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi dalam bermasyarakat.
(3) Melakukan Pengondisian membentuk Kepribadian
            Kepribadian memang dibentuk oleh diri sendiri, tetapi faktor lingkungan  jangan dianggap tidak berarti. Pengondisian dapat memperngaruhi kebiasaan, contoh konkretnya adalah pribadi yang pemalas namun dikondisikan dalam lingkungan pekerja keras, mau tidak mau dia harus berkerja keras juga. Contoh lainnya adalah orang yang hidup lingkungan yang tidak kondusif, lama kelamaan akan menjadi pasif. Tidak selamanya air jernih akan selalu bersih didalam lumpur yang gempur.
            Namun, pengondisian bisa menjadi poin kita mengubah keadaan guna membangun kepekaan. Lingkungan yang tidak hanya banyak mulutnya namun banyak tindakannya. Sehingga kita tidak sekadar bicara namun bertindak nyata dan ini merupakan modal awal mengubah kita menjadi lebih peka.
(4)Membangun empati guna kepekaan diri
Empati bukan sekedar simpati, tapi lebih dari kasihan dalam hati. Simpati hanya sekedar iba, namun yang mermberi tindakan nyata. Empati adalah mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga kita menghayati benar tentang permasalahan.Ketika permasalahan masyarakat dilihatnya, bukan sekedar rasa iba yang dirasakannya, namun memberi tindakan nyata. Karena dia tau benar rasanya bila permaslahan ada pada dirinya.
            Empat modal diatas adalah modal kita membangun kepekaan , bukan sekedar ucapan namun tindakan. Bila kita berhenti melakukan perubahan, bial kita berhenti peduli terhadap permasalahan. Ingat! Permaslahan itu tidak akan berhenti, namun menjadi masalah yang lebih besar lagi. Hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan, membangun perubahan atau dibangun kerusakan, tergantung menempatkan kepekaan.

1 comment: