PENTINGNYA MENUMBUHKAN
KEPEKAAN SOSIAL DALAM BERMASYARAKAT
Khoirotur Royana
Seperti yang kita ketahui permasalahan masyarakat yang kian
hari kian kompleks. semua masalah seakan-akan menjalar ke berbagai aspek,
dimulai dari permasalahan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, bahkan
ideologi. Entah bagaimana caranya masyarakat saat ini sangat acuh tak acuh dengan permasalahan
yang terjadi. Entah karena terbius akan proses globalisasi ataupun terlena
dengan budaya masa kini. Budaya individualis, hedonis, liberalis serta
materialis telah menjamur sana-sini bagaikan virus yang menyebar tanpa kendali.
Mereka terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, tanpa peduli tentang permasalahan
yang terjadi tanpa henti.
Apa mereka tidak menyadari? Atau bahkan tidak mengerti tentang
penurunan ayat pertama kali. dalam malam yang sepi, saat nabi mencari kebenaran
yang haqiqi. Beliau mencoba mencari pemecahan permasalahan yang terjadi, beliau
memilih untuk merenung dan menyendiri. Dalam pencarian kebenaran yang beliau
jalani, Akhirnya waktu yang ditunggu itu pun terjadi, ayat Qur’an turun memberi
pencerahan hati. “bacalah, dengan menyebut
nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dengan perantaraan
Kalam. Dia mengajarkan manusia dari apa yang diketahuinya” (Qs. Al Alaq :1-5).
Ayat tersebut diawali dengan kata “Bacalah”, mengapa diawali
dengan kata bacalah? Apa keutamaan yang ada dibaliknya. Membaca memiliki arti
yang sangat luas. Dalam KBBI sendiri, membaca memiliki banyak arti: (1) melihat
serta memahami isi dari apa yang tertulis (2) mengeja atau melafalkan apa yang
tertulis (3) mengucapkan (4) mengetahui, meramalkan (5) memperhitungkan ,
memahami. Jadi, membaca bukan sekedar melihat apa yang tertulis, melainkan kita
juga memahaminya. Dalam ayat diatas, kita disuruh untuk memahami kebesaran
Allah melalui ciptaan-Nya. Kita disuruh mengamati apa yang terjadi di lingkungan
sekitar agar kita memahami kemurahan-Nya. Dari pengamatan inilah, kita
mengetahui tentang realias masyarakat.tak main-main Allah menyuruh kita untuk
mengamati realitas, kata ‘bacalah’ yang ditulis dua kali dala, penurunan ayat
pertama, memberi kita gambaran tentang pentingnya mengamati realitas yang
terjadi guna menjadi pondasi awal yang pertama kali dibangun dalam pembentukan
masyarakat.
Namun apa yang diharapkan tak berbanding lurus dengan
kenyataan, inilah realitas pahit yang harus kita rasakan. Masyarakat yang hidup
di lingkungan kita hanya diam menonton kerusakan yang lama-kelamaan kian
memilukan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
Nabi saw. Membuat paparan tentang sekelompok penumpang kapal sebagai tamsil
sebuah masyarakat. Penumpang menempati tempat duduknya masing-masing, ada
bagian atas dan ada yang di bagian bawah. Penumpang yang di bagian bawah,
enggan naik ke atas, untuk mengambil air. Daripada repot-repot, maka ia lubangi
saja bagian bawah tempat duduknya, untuk mengambil air. Digambarkan oleh Nabi
saw. Jika para penumpang lainnya mendiamkan saja tindakan si penumpang, maka
akan binasalah si penumpang, dan juga binasa seluruh penumpang kapal itu.
Penumpang yang membiarkan kerusakan itu masih terjadi seolah-olah tidak
bersalah dan bertanggung jawab atas hancurnya kapal, namun mengambil andil didalamnya. Seandainya saja
penumpang lain peduli dan mencoba menghentikan kerusakan, niscaya mereka
selamat sampai tujuan.
Kepekaan sosial sangatlah dibutuhkan dalam bermasyarakat.
hal ini dapat direalisasikan terhadap masalah masyarakat yang ada, entah
mengenai kerusakan moral yang lama kelamaan kian brutal, kesenjangan ekonomi
yang makin lama makin tinggi, ataupun masalah masyarakat lainnya yang belum
ditangani.
Kita yang memahami dan sangat mencita-citakan masyarakat
Thoyyibah, seharusnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi, karena menghadapi
realitas masyarakat bukan hanya sekedar duduk manis dan hanya menunjukkan rasa
kecewa dalam hati, tapi kita harus menjadi prionir perubahan masa kini. Bila
tidak ada yang peduli, apakah masyarakat Thoyyibah akan terealisasi? Kalau
bukan kita? Siapa lagi yang peduli. Kalau bukan sekarang? Kapan lagi kita
berjuang. Mungkin slogan inilah yang seharusnya kita aplikasikan.
Banyak orang besar yang lahir karena sifat kepekan sosialnya
yang tinggi, contohnya saja Mahatma Ghandi, Nelson Mandela dan Bunda Teresa.
Mereka melihat realitas masyarakat yang mengalami penderitaan, tekanan, dan
kesengsaraan. Mereka yang hidupnya berkecukupan justru memilih hidup dalam
penderitaan, meninggalkan apa yang ada, entah itu harta, rumah, jabatan bahkan
keluarga sekalipun. Mereka melakukannya hanya untuk memperbaiki masyarakat yang
ada di sekitar mereka, tidak peduli mereka mengalami penderitaan dan kesengsaraan
yang belum didapatkan sebelumnya, mereka berkorban habis-habisan dengan apa
yang mereka miliki, mereka melakukan pengabdian yang luar biasa besarnya hingga
dunia pun sangat mengapresiasi mereka. Andai kata mereka tidak memiliki sikap
kepedulian yang tinggi, mungkin masalah masyarakat kian menjadi, karena belum adanya sosok perubahan yang peduli.
Nabi Muhammad Saw juga memiliki kepedulian terhadap
kerusakan masyarakat yangbegitu besar. Beliau mencoba merombak tradisi
masyarakat arab yang dikenal terbelakang. Bisa dibayangkan bila nabi tidak
peduli akan permasalahan masyarakt masyarakat dan justru masuk kedalamnya.
Niscaya kita tidak pernah melihat luhurnya peradaban Arab, yang lahir dari
masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat yang tinggi akan kemajuan.
Tapi mungkin saja ada pertanyaan besar yang harus kita
jawab. Bagaimana caranya kita bia menumbuhkan rasa kepekaan sosial dalam
bermasyarakat? Mungkin banyak literature yang telah membahas masalah ini. Namun
saya menawarkan poin –poin yang dapat digunakan guna meningkatkan kepekaan
social terhadap masyarakat.
(1)Menghayati misi hidup kita sebagai Khalifah di muka bumi.
Misi Allah yang diamanatkan kepada kita, hendaknya kita
hayati sekali lagi. Dengan penghayatan inilah, kita bisa memaknai kehidupan . Orang besar diatas memiliki kepekaan yang tinggi dalam
memahami realitas masyarakat. Mereka berusaha mencoba mengubah masyarakat
kearah yang lebih baik. Tentunya kita juga tak ingin berdiam diri tanpa
melakukan aksi yang berarti. Terlebih lagi kita sudah mengetahui, tentang misi
hidup yakni khalifah di bumi ini. Kita yang diberi amanat yang begitu tinggi,
justru berdiam diri atau bahkan ada yang menjadi bagian kerusakan itu sendiri.
Kita juga tau bahwa semua prilaku kita kelak akan dipertanggungjawabkan. Apa
yang harus kita katakana kepada Allah apabila ditanya tentang jalannya manat
yang dipikul kita. Apa kita tidak malu, seandainya kita hanya mampu menjawab
bahwa kita lupa akan tugas kita, kita lalai menjalankan amanat-Nya. Sedangkan
kita tau benar apa misi hidup kita. Tentu kita tidak mau hal ini terjadi bukan?
Contoh pemimpin
sukses yang memiliki kepedulian yang begitu tinggi adalah Umar bin Khattab,
beliau telah berhasil menciptakan masyarakat yang lebih baik. beliau adalah
seorang Amirul Mukminin yang peduli, tiap hari beliau mencoba melihat realitas
permasalahan pada umatnya. Pernah dikisahkan bahwa beliau pernah memikul
sekarung gandum dengan tangan sendiri untuk seorang wanita tua. Beliau merasa
sebagai seorang amirul mukminin haruslah memiliki tanggung jawab besar untuk
memperbaiki masyarakat, karena bagaimanapun juga beliau diminta
pertanggungjawaban di akhirat kelak. Seharusnya kita dapat meneladai sikap
beliau yang menjunjung tinggi rasa kepedulian terhadap umat. Apabila kita sudah
meneladani dan menerapkan sikap beliau, niscaya akan tumbuh kepedulian kita
terhadap sesama. Andai saja kita sebagai Khalifah atau pemimpin di muka bumi
justru mementingkan diri sendiri, hidup hanya untuk mengejar materi. Melihat
permasalahan saja seolah-olah tidak peduli. Bukannya kita kita malah membuat
sejahtera, tapi makin sengsara.
(2)Menjadikan tokoh yang memiliki kepedulian tinggi sebagai
tokoh idola dalam panutan hidup.
Pengaruh figuritas sangatlah berpengaruh dalam membentuk
kepribadian seseorang. Kebanyakkan dari kita masih mengalami krisis jatidiri,
hal ini sangatlah mendorong kita untuk mencari idola atau lebih tepatnya
panutan hidup yang sesuai dengan misi hidup kita. Contohnya saja, orang yang
sangat mengejar duniawi akan mengidolakan tokoh yang sukses dalam kehidupan
secara materi, bukannya mencari tokoh yang justru mendekatkan pada Ilahi.
Fenomena figuritas atau pengidolaan ini pasti akan terjadi
pada semua orang, baik disadari atau tidak. Namun pengaruh dari figuritas
sangat berdampak pada kepribadian kita baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Karena disaat kita mengidolakan, kita bukan sekedar mengagumi tapi
kita jusstru meniru prilakunya, baik gaya bicara, busana, gaya rambut, pola
hidup, dan sebagainya. Contohnya saja, Ir.Soekarno yang sangat mendidolakan
H.O.S Cokroaminoto sebagai gurunya, dalam gaya berbicaranya dalam berpidato,
Soekarno sangatlah mirip dengan gaya bicara Cokroaminoto.
Pengaruh figuritas sangatlah positif jika kita menetapkan
idola yang justru membangun masyarakat. berbeda dengan yang menetapkan idola
yang salah, bukannya berdampak pada kepribadian yang baik, malah kita semakin
rusak dibuatnya.
Dalam pemecahan masalah kepekaan sosial, hendaknya kita memilih idola ataupun tokoh yang juga menjadi
pribadi yang memiliki kepedulian yang begitu tinggi. Contoh idola yang patut
kita jadikan panutan hidup dalam bermasyarakat adalah tokoh-tokoh yang sudah
saya jelaskan sebelumnya. Diantaranya adalah Nelson Mandela, Mahatma Ghandi,
Nabi Muhammad dan Umar bin Khattab.Hal ini diharapkan agar kita bisa meniru
ataupun meneladani sikap mereka dan menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi
dalam bermasyarakat.
(3) Melakukan Pengondisian membentuk Kepribadian
Kepribadian
memang dibentuk oleh diri sendiri, tetapi faktor lingkungan jangan dianggap tidak berarti. Pengondisian
dapat memperngaruhi kebiasaan, contoh konkretnya adalah pribadi yang pemalas
namun dikondisikan dalam lingkungan pekerja keras, mau tidak mau dia harus
berkerja keras juga. Contoh lainnya adalah orang yang hidup lingkungan yang
tidak kondusif, lama kelamaan akan menjadi pasif. Tidak selamanya air jernih
akan selalu bersih didalam lumpur yang gempur.
Namun,
pengondisian bisa menjadi poin kita mengubah keadaan guna membangun kepekaan.
Lingkungan yang tidak hanya banyak mulutnya namun banyak tindakannya. Sehingga
kita tidak sekadar bicara namun bertindak nyata dan ini merupakan modal awal
mengubah kita menjadi lebih peka.
(4)Membangun empati guna
kepekaan diri
Empati bukan sekedar simpati, tapi lebih dari kasihan dalam
hati. Simpati hanya sekedar iba, namun yang mermberi tindakan nyata. Empati
adalah mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan, sehingga kita menghayati
benar tentang permasalahan.Ketika permasalahan masyarakat dilihatnya, bukan
sekedar rasa iba yang dirasakannya, namun memberi tindakan nyata. Karena dia
tau benar rasanya bila permaslahan ada pada dirinya.
Empat modal diatas adalah modal kita
membangun kepekaan , bukan sekedar ucapan namun tindakan. Bila kita berhenti
melakukan perubahan, bial kita berhenti peduli terhadap permasalahan. Ingat!
Permaslahan itu tidak akan berhenti, namun menjadi masalah yang lebih besar
lagi. Hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan, membangun perubahan atau
dibangun kerusakan, tergantung menempatkan kepekaan.
Enter your comment...bagus sekali
ReplyDelete