Sunnah Hasanah
Jalan Mencapai Kemulyaan
Oleh : Yudi Asmara
Allah memerintahkan kita, “Berlomba lombalah kamu kepada (Mendapatkan)
ampunan dari Tuhannmu dan surge yang seluas langit dan bumi, yang disediakan
bagi orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul rasul-Nya…” (QS. 57 :
21). Masa hidup di bumi merupakan persingahan sementara untuk mengumpulkan
bekal berupa pahala demi keberlangsungan hidup abadi di masa akherat. Allah
memberikan petunjuk bagaimana menjalankani hidup di dunia yaitu, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (Muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.” (Qs.
28 : 77). Inilah misi dakwah kita sebagai umat islam selama menjalani kehidupan
di muka bumi yakni beriman kepada Allah dan tidak berbuat kerusakan di muka
bumi ini.
Namun demikian, menjalani
misi dakwah menyeru pada jalan jalan Allah dan berusaha tidak berbuat kerusakan
di muka bumi bukanlah hal yang mudah, ada banyak tantangan yang akan kita
hadapi sebagai ujian keimanan kita. Allah telah menginformasikan hal ini kepada
kita. “Kamu sungguh sungguh akan diuji
terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kakmu sungguh sungguh akan mendengar
dari orang orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang orang yang
mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu
bersabar dan bertakwa maka sesungguhya yang demikian itu termasuk urusan yang
patut diutamakan. “ (Qs 3 : 186). Allah menggunakan istilah “gangguan yang banyak menyakitkan hati”
untuk menunjukan beratnya tantangan dakwah. Bentuk tantangan dakwah ini bisa
hadi berupa tantangan dari orang orang kafir, ahli kitab, orang orang sekitar
kita bahkan dari diri kita sendiri seperti perasaan mudah putus asa, mudah
tergoda dengna hal hal duniawi, kepribadian negative yang sulit dirubah, dll.
Tantangan ini tidak jarang meruntuhkan spirit Ketuhanan kita untuk terus
berdakwah, kita merasa tantangan yang kita hadapi terasa terlalu berat, “Disitulah
diuji orang orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang
sangat” (Qs. 33 : 11)
Sehubungan dengan banyaknya tantangan
dakwah yang bisa meruntuhkan spirit ketuhanan seperti yang disebutkan diatas,
maka kita perlu mewaspada keadaan ini agar hati dan keimanan kita bisa kukuh
menghadapi berbagai tantangan tersebut. Tulisan ini akan mengupas salah satu
hadist Rasulullah SAW yang bisa menjadi pondasi spirit dalam menghadapi
berbagai tantangan dakwah. Sehingga bisa dijadikan sebagai sistem motivasi
personal ketika menjalani misi dakwah.
Hadist Sunnah Hasanah
Di dalam kitab Shahih
Muslim terdapat satu hadits tentang Sunnah hasanah. Hadits ini juga didapai
dalam beberapa utubus sittah (enam kitab hadits utama) lainnya riwayat
Bukhari, Imam Ahmad, At-Tirmidzi,
An-Nasa’I dan Ibnu Majah, dengna redaksional yang sama ataupun mirip.
“Barang siapa memberi teladan yang baik (sunnatan hasanah) di dalam
Islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya pahala
sebanyak yang diperoleh orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi
sedikitpun pahala yang mereka peroleh dan barang siapa memberikan teladan jelek
(sunnatan sayyian) di dalam Islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya,
maka dicatat untuknya dosa sebanyak yang diperoleh orang orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun. (HR. Muslim)
Asbabul Wurud hadits ini sebagaimana yang tercantum dalam kitah Shahih Muslim menjelaskan saat sebelum
Rasulullah mengatakan tentang isi Hadist tersebut diatas, datanglah sekelompok
orang dari Arab Badui yang sangat miskin kepada Rasulullah, yang terlihat dari
pakaian mereka yang menggunakan kulit kambing yang kasar. Lantas Rasulullah
meminta para sahabat yang hadir untuk bersedekah. Namun Para sahabat terkesan
terlambat merespon anjuran Rasulullah ini sehingga tampak ekspresi kekecewaan
dari wajah Rasulullah. Kemudian terdapat seorang sahabat Anshar yang bersedekah
sesuatu yang dibungkus dengan daun, dan kemudian diikui oleh para sahabat yang
lain. Menyaksikan ini wajah Rasulullah berubah menjadi berseri seri. Kemudian
Rasulullah bersabda sebagaimana isi Hadits diatas.
Dari penulusuran sanad (takhrih hadits), penulis menyimpulkan
bahwa hadits ini termasuk muttashil marfu’, artinya sanad hadits ini nyambung
secara langsung sampai kepada Rasulullah melalui riwayat sahabat Jarir Ibn
Abdillah al-Bajali. Beberapa ulama kritis hadits meyebutkan para perawii
tergolong baik (tsiqah) sehingga imam
Muslim memasukkan dalam kategori shahih. Karena itu hadits ini bisa dijadikan
rujukan dalam pemahaman ajaran ajaran Islam.
Hadits ini memberikan
penjelasan bahwa mempelopori perbuatan baik akan mendapatkan pahala besar,
termasuk juga senilai dengan pahala orang orang yang mengikutinya. Hal ini
sejalan dengan hadits riwayat Muslim yang lain yang menyatakan, “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka
ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang orang yang
mengikutinya”. Sebaliknya jika seorang memperlopori perbuatan buruk, maka
dosanya juga termasuk dosa orang orang yang mengikutinya. Sebagaimana yang
dicontohkan oleh Muhammad Said dalam bukunya Pesona Surah Yasin, misalnya orang tua yang biasa menunaikan
Shalat, membaca al-Wur’an, berjilbab menutup aurat, menjaga pergaulan dengan
yang bukan mahramnya, menggeluti profesi halal dan berkah, lalu semua itu
diajarkan pada anak anaknya dan diteladani oelh anak anaknya, maka orang tua
tersebut dapat dua pahala. Pertama pahala atas apa yang dikerjakannya, kedua
adalah pahala dari anak anak yang meneladaninya. Bayangkan jika yang meneladani
dan mengikuti bukan hanya anak anaknya tetapi huga banyak orang di kampungnya,
nmaka semakin banyak pula pahalanya berlipat ganda.
Al –Hilali dalam Syarah Riyadhush Sholihin mengartikan Sunnah hasanah sebagai upaya
menghidupkan sesuatu yang disyari’atkan namun tidak diamalkan di tengah tengah
masyarakat, orang yang memulai dan mengajarkan pada orang lain sehingga diikuti
maka pahalanya termasuk pahala orang orang yang mengikutinya.
Spirit Hadits Sehubungan dengan Misi dakwah
Dalam berdakwah kita
mengenal istilah dakwah personal yaitu seruan secara personal kepada orang
tertentu agar bersedia beriman kepada Alah dan mengikuti jalan jalan
ketauhidan. Dan juga ada dakwah yang bersifat Publik, yaitu seruan dakwah yang
disampaikan umum kepada banyak orang. Jika memperhatikan tingkat kesulitan,
maka secarakecenderungan dakwah personal akan lebih mudah dilakukan dari pada
dakwah secara publik. Namun dampak social dakwah personal jauh lebih kecil dari
pada dakwah secara publik. Sebagai mana Contoh yang diberikan oleh Muhammad
Said diatas, jika dakwahnya personal hanya dalam lingkup anak maka yang
merasakan kemaslahatan hanya anak anaknya saja. Tapi jika dakwah terhadap orag
sekampung, maka tingkat maslahat yang didapat juga lebih besar karena yang
mendapatkan kemaslahatan adalah orang sekampung.
Hadits sunnah hasanah diatas telah meberikan
motivasi bagi para da’i agar berdakwah dengan mempertimbangkan efek
kemaslahatan yang lebih besar. Namun karena tingkat kesulitan yang dialami
lebih besar maka dakwah secara publik tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Dakwah harus dilakukan secar aorganisasi sekaligus harus dikelola dengan baik
dengan cara terukur, sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan, karena jika
tidak dilakukan dengan baik maka dakwah secara publik bisa mengalami kegagalan
sehingga pahala yang berlipat ganda juga tidka akan kita dapatkan.
Dakwah secara publik
harus dialakukan secara organisasi dan profesional dikarenakan dalam prinsip
prinsip organisasi terdapat proses pembagian kerja secara jelas. Beban kerja
yang besar bisa menjadi lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama dengan
pembagian tugas yang jelas dan tidak tumpang tindih. Sebagai contoh kita hendak
mengadakan kegiayan shalat Jum’at di masjid. Melakukan persiapan sendirian akan
sangat sulit, namun jika dikerjakan secara bersama sama dengan pembagian tugas
yang jelas : ada pihak yang mempersiapkan khutbah jum’at, ada pihak yang
melakukan penggelolaan parkir motor , jama’ah dll. Semakin banyak yang
terlibat, pekerjaan besar bisa dipecah pecah menjadi lebih kecil sehingga lebih
mudah dikerjakan dan efeknya pada hasil bisa lebih maksimal.
Selain memberikan
motivasi bahwa dakwah harus dilakukan secara organisasi dan profesional, Hadits
ini juga mendorong kita untuk selalu konsisten menyerukan kebaikan kebaikan
saja, tidak hanya itu, kita akan terdorong untuk terus menerus berbuat baik sehingga
bisa menjadi teladan yang baik, karena jika memiliki perilaku buruk kemudian
kita tidak harang menyeru orang lain untuk mengitkuti, maka kita akan terkena
dosa atas perilaku kita dan dosa senilai orang orang yang mengikuti kiya.
Sebagai contoh ketika kita tidak suka dengan orang tertentu, seringkali secara
sadar ataupun tidak, kita mengajak orang lain untuk menjadi teman dalam
membenci orang yang menjaid musuh kita itu.
Ketika kita melakukan
tindakan khianat, tidak jarang agar tindakan ini tidak diketahui orang lain,
kita mempengaruhi orang lain untuk berbuat khianat pula. Kegiatan menghasut dan
provokasi yang mengarah kepada kemudhorotan ini tidak hanya mendapatkan satu
dosa senilai perbuatan, tetapi juga ditambahkan senilai dosa dosa orang orang yang
mengikuti kita. dengan pemahaman dari Hadits sunnah hasanah ini akhirnya kita
memiliki control spiritual agar berusaha maksumal untuk menjadi uswatun hasanah ( teladan yang baik),
dan senantiasa menghindari sebagai teladan yang buruk, kerena kita tentu hanya
inigin mengumpulkan pahala yang berlipat ganda untuk bekal kehidupan akherat
kita dan bukannya mengumpulkan dosa yang berlipat ganda. Semoga kita bisa
senantiasa mengamalkan sunnah hasanah sehingga kita dikelas sebagai uswatun hasanah dan mengakhiri hidup ini
dengan khusnul khotimah. … amin..
No comments:
Post a Comment