Pondok Ilmu Pengetahuan

Monday, April 18, 2016

Sunnah Hasanah Jalan Mencapai Kemulyaan



Sunnah Hasanah
Jalan Mencapai Kemulyaan
Oleh : Yudi Asmara 
Allah memerintahkan kita, “Berlomba lombalah kamu kepada (Mendapatkan) ampunan dari Tuhannmu dan surge yang seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul rasul-Nya…” (QS. 57 : 21). Masa hidup di bumi merupakan persingahan sementara untuk mengumpulkan bekal berupa pahala demi keberlangsungan hidup abadi di masa akherat. Allah memberikan petunjuk bagaimana menjalankani hidup di dunia yaitu, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat dan janganlah  kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (Muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. 28 : 77). Inilah misi dakwah kita sebagai umat islam selama menjalani kehidupan di muka bumi yakni beriman kepada Allah dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. 

Namun demikian, menjalani misi dakwah menyeru pada jalan jalan Allah dan berusaha tidak berbuat kerusakan di muka bumi bukanlah hal yang mudah, ada banyak tantangan yang akan kita hadapi sebagai ujian keimanan kita. Allah telah menginformasikan hal ini kepada kita. “Kamu sungguh sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kakmu sungguh sungguh akan mendengar dari orang orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. “ (Qs 3 : 186). Allah menggunakan istilah “gangguan yang banyak menyakitkan hati” untuk menunjukan beratnya tantangan dakwah. Bentuk tantangan dakwah ini bisa hadi berupa tantangan dari orang orang kafir, ahli kitab, orang orang sekitar kita bahkan dari diri kita sendiri seperti perasaan mudah putus asa, mudah tergoda dengna hal hal duniawi, kepribadian negative yang sulit dirubah, dll. Tantangan ini tidak jarang meruntuhkan spirit Ketuhanan kita untuk terus berdakwah, kita merasa tantangan yang kita hadapi terasa terlalu berat,  “Disitulah diuji orang orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat” (Qs. 33 : 11)

Sehubungan dengan banyaknya tantangan dakwah yang bisa meruntuhkan spirit ketuhanan seperti yang disebutkan diatas, maka kita perlu mewaspada keadaan ini agar hati dan keimanan kita bisa kukuh menghadapi berbagai tantangan tersebut. Tulisan ini akan mengupas salah satu hadist Rasulullah SAW yang bisa menjadi pondasi spirit dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah. Sehingga bisa dijadikan sebagai sistem motivasi personal ketika menjalani misi dakwah.

Hadist Sunnah Hasanah
Di dalam kitab Shahih Muslim terdapat satu hadits tentang Sunnah hasanah. Hadits ini juga didapai dalam beberapa utubus sittah (enam kitab hadits utama) lainnya riwayat Bukhari,  Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majah, dengna redaksional yang sama ataupun mirip. 

“Barang siapa memberi teladan yang baik (sunnatan hasanah) di dalam Islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh dan barang siapa memberikan teladan jelek (sunnatan sayyian) di dalam Islam, lalu diikuti oleh orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya dosa sebanyak yang diperoleh orang orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun. (HR. Muslim)

Asbabul Wurud hadits ini sebagaimana yang tercantum dalam kitah Shahih Muslim menjelaskan saat sebelum Rasulullah mengatakan tentang isi Hadist tersebut diatas, datanglah sekelompok orang dari Arab Badui yang sangat miskin kepada Rasulullah, yang terlihat dari pakaian mereka yang menggunakan kulit kambing yang kasar. Lantas Rasulullah meminta para sahabat yang hadir untuk bersedekah. Namun Para sahabat terkesan terlambat merespon anjuran Rasulullah ini sehingga tampak ekspresi kekecewaan dari wajah Rasulullah. Kemudian terdapat seorang sahabat Anshar yang bersedekah sesuatu yang dibungkus dengan daun, dan kemudian diikui oleh para sahabat yang lain. Menyaksikan ini wajah Rasulullah berubah menjadi berseri seri. Kemudian Rasulullah bersabda sebagaimana isi Hadits diatas.

Dari penulusuran sanad (takhrih hadits), penulis menyimpulkan bahwa hadits ini termasuk muttashil marfu’, artinya sanad hadits ini nyambung secara langsung sampai kepada Rasulullah melalui riwayat sahabat Jarir Ibn Abdillah al-Bajali. Beberapa ulama kritis hadits meyebutkan para perawii tergolong baik (tsiqah) sehingga imam Muslim memasukkan dalam kategori shahih. Karena itu hadits ini bisa dijadikan rujukan dalam pemahaman ajaran ajaran Islam. 

Hadits ini memberikan penjelasan bahwa mempelopori perbuatan baik akan mendapatkan pahala besar, termasuk juga senilai dengan pahala orang orang yang mengikutinya. Hal ini sejalan dengan hadits riwayat Muslim yang lain yang menyatakan, “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang orang yang mengikutinya”. Sebaliknya jika seorang memperlopori perbuatan buruk, maka dosanya juga termasuk dosa orang orang yang mengikutinya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhammad Said dalam bukunya Pesona Surah Yasin, misalnya orang tua yang biasa menunaikan Shalat, membaca al-Wur’an, berjilbab menutup aurat, menjaga pergaulan dengan yang bukan mahramnya, menggeluti profesi halal dan berkah, lalu semua itu diajarkan pada anak anaknya dan diteladani oelh anak anaknya, maka orang tua tersebut dapat dua pahala. Pertama pahala atas apa yang dikerjakannya, kedua adalah pahala dari anak anak yang meneladaninya. Bayangkan jika yang meneladani dan mengikuti bukan hanya anak anaknya tetapi huga banyak orang di kampungnya, nmaka semakin banyak pula pahalanya berlipat ganda.

Al –Hilali dalam Syarah Riyadhush Sholihin mengartikan Sunnah hasanah sebagai upaya menghidupkan sesuatu yang disyari’atkan namun tidak diamalkan di tengah tengah masyarakat, orang yang memulai dan mengajarkan pada orang lain sehingga diikuti maka pahalanya termasuk pahala orang orang yang mengikutinya. 

Spirit Hadits Sehubungan dengan Misi dakwah
Dalam berdakwah kita mengenal istilah dakwah personal yaitu seruan secara personal kepada orang tertentu agar bersedia beriman kepada Alah dan mengikuti jalan jalan ketauhidan. Dan juga ada dakwah yang bersifat Publik, yaitu seruan dakwah yang disampaikan umum kepada banyak orang. Jika memperhatikan tingkat kesulitan, maka secarakecenderungan dakwah personal akan lebih mudah dilakukan dari pada dakwah secara publik. Namun dampak social dakwah personal jauh lebih kecil dari pada dakwah secara publik. Sebagai mana Contoh yang diberikan oleh Muhammad Said diatas, jika dakwahnya personal hanya dalam lingkup anak maka yang merasakan kemaslahatan hanya anak anaknya saja. Tapi jika dakwah terhadap orag sekampung, maka tingkat maslahat yang didapat juga lebih besar karena yang mendapatkan kemaslahatan adalah orang sekampung.

Hadits sunnah hasanah diatas telah meberikan motivasi bagi para da’i agar berdakwah dengan mempertimbangkan efek kemaslahatan yang lebih besar. Namun karena tingkat kesulitan yang dialami lebih besar maka dakwah secara publik tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dakwah harus dilakukan secar aorganisasi sekaligus harus dikelola dengan baik dengan cara terukur, sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan, karena jika tidak dilakukan dengan baik maka dakwah secara publik bisa mengalami kegagalan sehingga pahala yang berlipat ganda juga tidka akan kita dapatkan. 

Dakwah secara publik harus dialakukan secara organisasi dan profesional dikarenakan dalam prinsip prinsip organisasi terdapat proses pembagian kerja secara jelas. Beban kerja yang besar bisa menjadi lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama dengan pembagian tugas yang jelas dan tidak tumpang tindih. Sebagai contoh kita hendak mengadakan kegiayan shalat Jum’at di masjid. Melakukan persiapan sendirian akan sangat sulit, namun jika dikerjakan secara bersama sama dengan pembagian tugas yang jelas : ada pihak yang mempersiapkan khutbah jum’at, ada pihak yang melakukan penggelolaan parkir motor , jama’ah dll. Semakin banyak yang terlibat, pekerjaan besar bisa dipecah pecah menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah dikerjakan dan efeknya pada hasil bisa lebih maksimal. 

Selain memberikan motivasi bahwa dakwah harus dilakukan secara organisasi dan profesional, Hadits ini juga mendorong kita untuk selalu konsisten menyerukan kebaikan kebaikan saja, tidak hanya itu, kita akan terdorong untuk terus menerus berbuat baik sehingga bisa menjadi teladan yang baik, karena jika memiliki perilaku buruk kemudian kita tidak harang menyeru orang lain untuk mengitkuti, maka kita akan terkena dosa atas perilaku kita dan dosa senilai orang orang yang mengikuti kiya. Sebagai contoh ketika kita tidak suka dengan orang tertentu, seringkali secara sadar ataupun tidak, kita mengajak orang lain untuk menjadi teman dalam membenci orang yang menjaid musuh kita itu. 

Ketika kita melakukan tindakan khianat, tidak jarang agar tindakan ini tidak diketahui orang lain, kita mempengaruhi orang lain untuk berbuat khianat pula. Kegiatan menghasut dan provokasi yang mengarah kepada kemudhorotan ini tidak hanya mendapatkan satu dosa senilai perbuatan, tetapi juga ditambahkan senilai dosa dosa orang orang yang mengikuti kita. dengan pemahaman dari Hadits sunnah hasanah ini akhirnya kita memiliki control spiritual agar berusaha maksumal untuk menjadi uswatun hasanah ( teladan yang baik), dan senantiasa menghindari sebagai teladan yang buruk, kerena kita tentu hanya inigin mengumpulkan pahala yang berlipat ganda untuk bekal kehidupan akherat kita dan bukannya mengumpulkan dosa yang berlipat ganda. Semoga kita bisa senantiasa mengamalkan sunnah hasanah sehingga kita dikelas sebagai uswatun hasanah dan mengakhiri hidup ini dengan khusnul khotimah. … amin..

No comments:

Post a Comment