PROFESOR DARI BARAT
MASUK ISLAM GARA-GARA FIRAUN
|
Mesir, khususnya di wilayah Gaza, sangat tepat dijadikan
tempat pariwisata. karena tempat ini banyak mengandung sejarah. Bagi kaum
agamawan, maka datang ke wilayah Gaza ibarat mengadakan cross-cek bagi
keyakinan agamanya. Misalnya, jika di dalam kitab-kitab suci samawi diterangkan
tentang peristiwa raja Firaun ke-2, sebagai Firaun yang dihadapi oleh Nabi Musa
AS, maka banyak dari peristiwa itu yang hingga kini diabadikan di Gaza dan
dapat disaksikan secara kasat mata.
Minimal, di musium yang berada di wilayah Gaza ini terdapat
dua belas mumi Firaun atau dua belas mumi raja Mesir kuno yang dibalsam untuk
diawetkan, keberadaan mumi ini adalah salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah.
Seorang Ilmuwan Perancis, Prof Dr Maurice Bucaille, menyatakan masuk Islam gara-gara dirinya
pernah berkutat dengan mumi Firaun. Aneh tapi nyata, bagaimana mungkin
seseorang yang berkutat dengan manusia ter-kafir di dunia, justru menyatakan
masuk Islam? Untuk mengatahui rahasia yang disembunyikan oleh Allah, maka perlu
mencermati cerita ringkas berikut ini.
Pada tahun 1975 (berarti penulis saat itu berusia 10 tahun),
pemerintah Mesir mendapat tawaran dari negara Prancis agar diadakan penelitian
ilmiah seputar mumi Firaun-firaun yang ada di Gaza itu, dan disepakati.
Pimpinan proyek penelitian itu tiada lain adalah sang ilmuwan Prof Dr Maurice
Bucaille. Setelah diadakan penelitian, ternyata ditemukan bahwa tubuh mumi
Firaun ke-2, yang selama ini diyakini oleh umat Islam khususnya oleh masyarakat
Mesir, sebagai Firaun penentang Nabi Musa AS, terdapat kandungan garam laut
dalam tubuhnya, dan ternyata sangat berbeda dengan mumi Firaun-firaun lainnya
yang sedikitpun tidak terdapat kandungan garam laut dalam tubuh mereka.
Penemuan itu mengundang tanda tanya besar dalam diri sang
Profesor. Tanpa disengaja sang Profesor bertemu dan bercerita kepada salah
seorang ilmuwan muslim, maka dijawab: `Jangan terburu bangga dengan hasil
penelitianmu, dan tidak perlu heran, karena umat Islam sudah lama meyakini hal
tersebut sesuai dengan keterangan kitab suci Alquran, bahwa setelah Firaun-2
itu mengejar Nabi Musa, maka Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan
Firaun ke dalam laut, namun Allah mengentas jasad Firaun itu dan dilempar
kembali ke daratan agar dapat dijadikan sebagai tanda kebesaran Allah, dan
bumipun tidak bersedia dijadikan tempat pekuburannya`.
Sang Profesor menjadi tertegun mendengarkan keterangan
Ilmuwan muslim itu. Maka dia pun mulai mengumpulkan kitab-kitab suci kaum agamawan,
antara lain kitab Taurat dan berbagai jenis kitab Injil khususnya Bibel. Dengan
secara cermat sang Profesor meneliti kitab-kitab kaum agamawan itu, namun yang
termaktub dalamnya, hanyalah keterangan bahwa Allah menenggelamkan Firaun
bersama pengikutnya ke dalam laut, dan tidak terdapat keterangan apapun pasca
tenggelamnya Firaun. Kemudian sang Profesor pun beralih meneliti Alquran dengan
bimbingan seorang ilmuwan muslim, hingga mendapatkan surat Yunus ayat 92 yang
artinya : `Maka pada hari ini, Kami selamatkan (atau Kami keluarkan dari laut)
jasadmu (wahai Firaun) supaya (keberadaan)-mu dapat menjadi pelajaran bagi
orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia itu
lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami`
Betapa terkejutnya sang Profesor, karena ternyata Alquran
telah menerangkan peristiwa Firaun yang berhadapan dengan Nabi Musa itu secara
komplit. Padahal peristiwa itu terjadi ribuan tahun sebelum turunnya Alquran,
namun Alquran dapat menerangkan secara rinci, bahkan menjelaskan kejadian pasca
penenggelaman Firaun-pun secara utuh. Terlebih heran lagi setelah sang Profesor
mendengar keterangan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi yang buta huruf,
tidak dapat membaca dan menulis. Maka saat itu pula Prof Dr Maurice Bucaille
menyatakan beriman kepada KEASLIAN ALQURAN SEBAGAI FIRMAN ALLAH, lantas
mengikrarkan dua kalimat syahadat : Asyhadu an laa ilaaha illallah (Aku
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah) wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah
(dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).
Setelah masuk Islam, sang Profesor mulai mendalami ajaran
agama Islam sekaligus dikaitkan dengan pengetahuan sain yang menjadi
keahliannya, bahkan sang Profesor mulai mengarang buku-buku bertema keterkaitan
Islam dengan dunia ilmu pengetahuan, antara lain buku La Bible, le Coran et la
Sceince, dengan berbahasa Prancis yang artinya `Bibel, Alquran dan Ilmu
Pengtahuan` terbit pada tahun 1976. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam
berbagai bahasa dan menjadi Best-seller di kalangan dunia Islam. Dalam buku
ini, sang Profesor juga mengkritik Bibel karena dianggap tidak konsiten dan dia
ragu atas kebenaran dan keaslian Bibel itu sendiri.
No comments:
Post a Comment