Tubuh
Itu Merekam
Ditulis oleh
Komaruddin Hidayat
Jumat, 24 Juli
2009 09:25 - Terakhir Diperbaharui Jumat, 24 Juli 2009 09:43
“ Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan
berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka
terhadap apa yang dahulu mereka usahakan “
Dalam Al Qur’an Allah menginformasikan
bahwa kaki dan tangan (tubuh) akan diminta kesaksian akan perbuatan manusia
selama di dunia. Apa benar kaki dan tangan (tubuh) ini dapat menceritakan semua
apa yang telah dikerjakannya ? Ternyata hal tersebut bukanlah suatu yang
mustahil, bukan suatu yang mengada-ada, bahkan hal tersebut bisa dibuktikan
secara ilmiah dengan ilmu pengetahuan modern saat ini.
DALAM Alquran QS Yasin 65 dinyatakan,
di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang
diperbuatnya selama di dunia. Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan
berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam
pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan
malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bias memberatkan atau
meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia.
Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak
bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia.
Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal
kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah
sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita
lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman
naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik
sepeda. Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori
sepeda pasti bisa mengendarainya.
Mengapa? Karena tubuh kita, terutama
kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman
tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak
pernah, yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama
dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda. Contoh ini dapat diperbanyak
Lagi, misalnya apa yang direkam oleh
lidah tentang rasa makanan. Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat,
mencium baunya, dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu
kecil sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan
andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa
mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa
makanan.
Dalam sebuah penelitian kajian
neurologi dibuktikan bahwa selsel otak ternyata menyimpan berbagai informasi
dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika
dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, tetapi yang bersangkutan tetap
sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu mampu menceritakan
berbagai pengalaman sewaktu kecil. Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua
yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak. Jadi, apa yang dikatakan Alquran tadi semakin
diperkuat oleh eksperimen ilmiah.
Teori bahwa tubuh merekam saya amati
dan buktikan sendiri ketika ayah saya sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang
selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari
peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah,
saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?”Dia
jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa
yang terjadi di rumah sakit. Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit,
tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit.
Yang sangat mengesankan saya, saat
dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air
untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya
tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat sehingga setiap datang waktu
salat, jam badannya (biological
clock) memberi isyarat secara refleks dan otomatis bergegas untuk mendirikan
salat karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari. Jadi,
ketika sakit, jam badan itu bekerja layaknya weaker yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki
rekaman habit.
Contoh lain yang dengan mudah kita
saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bus
malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar
orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah
kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta–Bandung itu
ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur, dan
Bandung? Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang
naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan di mana harus
berbelok.Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan
mereka tahu di mana akan ada banyak kerumunan orang di jalan. Mengapa mereka
bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara reflex mengendarai dan hafal
situasi jalur Jakarta–Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan.
Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu sehingga anggota tubuhnya
merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. Begitu juga orang yang dulu pernah
mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua,meskipun
sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup
memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan
masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat.
Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan karena tubuh ini merekam
secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.
Cerita di atas menyimpan pesan yang
sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara, dan berbuat
yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan
itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut.
Mari kita membiasakan diri untuk
melafalkan kata-kata yang baik,selalu berzikir dan mengingat Allah SWT,
membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah,serta berbuat baik kepada
sesama,sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik
saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. Husnul khatimah (pengujung
yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba.
Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh
orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup
mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan
panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan
hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.
Semoga perjalanan hidup kita senantiasa
dalam jalan-jalan kebenaran Islam !!! Amin…
No comments:
Post a Comment