THALHAH BIN UBAIDILLAH
--- BURUNG ELANG
DI PADANG UHUD ---
Awal Masuk Islam
Dengan disertai Abubakar
Assiddiq, Thalhah pergi menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Dinul haq, Islam
dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menyatakan keislamannya di
hadapan Muhammad SAW, Thalhah dan Abubakar Ra pun pergi. Tapi ditengah jalan
mereka dicegat oleh Nofel bin Khuwailid yang dikenal dengan "Singa
Quraisy", yang terkenal kejam dan bengis. Nofel kemudian memanggil
gerombolannya untuk menangkap mereka. Thalhah dan Abubakar ditangkap, diikat dalam satu tambang lalu dipukuli sebagai siksaan
atas keislaman Thalhah. Oleh karena itu Thalhah dan Abubakar Ra dijuluki
"Alqorinan" atau "dua serangkai". Thalhah adalah seorang
lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan
segala macam ujian lainnya. Ia seorang yang kokoh mempertahankan pendirian
meskipun ketika jaman jahiliah. Apa motif bersyahadat Thalhah sehingga bisa
membuat dia demikian tabah dan kuat disiksa?
Pengorbanan Thalhah kepada Rasulullah SAW
Bila diingatkan tentang
perang Uhud, Abubakar Ra selalu teringat pada Thalhah. Ia berkata, "Perang
Uhud adalah harinya Thalhah. Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai
Rasulullah SAW. Ketika melihat aku dan Abu Ubaidah, Rasulullah berkata kepada
kami: "Lihatlah saudaramu ini." Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih dari tujuh
puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus." Diceritakan ketika
tentara Muslim terdesak mundur dan Rasulullah SAW dalam bahaya akibat
ketidakdisiplinan pemanah-pemanah dalam menjaga pos-pos di bukit, di saat itu
pasukan musyrikin bagai kesetanan merangsek maju untuk melumat tentara muslim
dan Rasulullah SAW, terbayang di pikiran mereka kekalahan yang amat memalukan
di perang Badar. Mereka masing-masing mencari orang yang pernah membunuh
keluarga mereka sewaktu perang Badar dan berniat akan membunuh dan
memotong-motong dengan sadis. Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW.
Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat, mereka terus mencari
Rasulullah SAW. Tetapi kaum muslimin dengan sekuat tenaga melindungi Rasulullah
SAW, melindungi dengan tubuhnya dengan daya upaya, mereka rela terkena sabetan,
tikaman pedang dan anak panah. Tombak dan panah menghunjam mereka, tetapi
mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Salah satu diantara
mujahid yang melindungi Nabi SAW adalah Thalhah. Ia berperawakan tinggi kekar.
Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang
tubuhnya berdarah. Dipeluknya Beliau dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara
pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya
bagai laron yang tidak memperdulikan maut. Ia siap berkorban demi membela Nabi
SAW dengan keimanan yang teguh dan keikhlasan yang besar. Akhirnya kaum
musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira Rasulullah SAW telah
tewas. Rasulullah pun selamat walaupun dalam keadaan menderita luka-luka dengan
dipapah oleh Thalhah menaiki bukit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan,
tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah, seraya berkata, "Aku tebus engkau Ya Rasulullah dengan ayah ibuku." Nabi
SAW tersenyum dan berkata, " Engkau adalah Thalhah kebajikan." Di
hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, " Keharusan bagi Thalhah adalah
memperoleh surga". Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan
"Burung elang hari Uhud." Jika Anda berada pada posisi Thalhah di
waktu uhud mampukah Anda bersedia mengorbankan tubuh Anda tertikam pedang dan
putus jari tangan demi tetap berkumandangnya Syiar Islam di bumi? Jika sedikit
waktu luang dan beberapa kesenangan saja yang diminta untuk perjuangan Islam
dan Anda tidak ikhlas memberikannya, maka mustahil Anda mampu bersikap seperti
Thalhah.
Thalhah Yang Dermawan
Pernahkah anda melihat
sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah ?
Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah seorang dari kaum muslimin yang
kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Pada suatu hari istrinya, Su'da binti
Auf, melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih, sehingga sang
istri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, " Uang
yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang
harus kulakukan?" Maka istrinya berkata, "Uang yang ada ditanganmu
itu bagi-bagikanlah kepada fakir-miskin." Maka dibagi-bagikannyalah
seluruh uang yang ada ditangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun. Assaib
bin Zaid berkata tentang Thalhah, katanya, "Aku berkawan dengan Thalhah
baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun
yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang,
sandang dan pangannya." Jaabir bin Abdullah bertutur, " Aku tidak
pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa
diminta." Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki "Thalhah si
dermawan", "Thalhah si pengalir harta", "Thalhah kebaikan
dan kebajikan".
Wafatnya Thalhah
Sewaktu terjadi
pertempuran "Jamal", sebuah panah mengenai betisnya maka dia segera
dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup
dalam ia wafat. Thalhah wafat pada usia 60 tahun dan dikubur di Basra.
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat, "Orang ini termasuk yang
gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan diatas bumi maka
lihatlah Thalhah. Hal itu dikatakan ALLAH dalam firmanNya :
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa
yang telah mereka janjikan kepada ALLAH, maka diantara mereka ada yang gugur.
Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak
merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23)
No comments:
Post a Comment