Langit kelabu
Menyanyikan nada sendu
Menertawakan noktah realitas
Tentang suatu moralitas
Nan kian masa makin berbatas
Tersisih dari panggung rutinitas
Kulihat...
Egoisme melaju pesat
Individulisme tertanam pekat
Apatisme jadi pasangan sasaat
Sedang,
Peduli menangis tergerus emosi
Empati menepi ditinggal pergi
Welas asih menyerah dihimpit masa ini
Tetapi ...
disana ada cahaya harapan...
Menari diatas celah awan bertuan...
Berharap pada satu jiwa menawan....
Nurani khianat yang mematikan kepongahan,
Hati ingkar yang melawan kecongkaan
Ego bodoh yang menumpas kesombongan
Hidupkan lagi peduli yang mati terkubur risau
Menyusun kembali kepingan jiwa empati yang kacau
Wujudkan sosial yang welas asih tanpa halau
Tanamkan idealisme senyuman hirau
Barisan berjejer riuh rapi
Sembuhkan bermacam keganasan epidemi
Berlari menuju munajat perpindahan diri
Tinggalkan serangan ekstase duniawi
Berlomba menggapai cita agung surgawi
Agar terlukis sepuhan warna-warni lazuardi
Sekarang, ku saksikan...
Tuaian dari suatu nilai kumal yang semakin terkondisikan...
Masyarakat berjalan bergandeng bersisian,
Senandungkan serenade hangat nyenyat pada kemajuan
Menjamu dunia lewat buah hasil yang tersemai
Membangun umat harapan melalui sajak sejuta dawai
Hilangkan telaga berjelaga penuh kisi-kisi berrinai
Memantik kelakar mutiara intan bermuara pada hulu sungai
Membentengi qolbi dari norma menyesatkan menuju ngarai
Untuk kabulkan dzikir doa sebuah harapan masyarakat seimbang, bukan hanya oleh delusi, dan
Untuk wujudkan bayang angan suatu impian masyarakat thoyibah, bukan hanya sekedar ilusi
Tapi demi sebuah tegaknys misi ilahi, khalifa fil 'ardhi.....
*saida*
No comments:
Post a Comment