Senin 12 Dec 2016, 10:05 WIB
Kolom Kang
Hasan
Sekolah yang Tak Membebaskan
Hasanudin
Abdurakhman – detikNews
Jakarta - Kita banyak menyaksikan orang-orang
yang berhasil melakukan pembebasan diri dengan pendidikan. Orang-orang miskin,
dari desa terpencil. Mereka lahir dan tumbuh besar dari keluarga yang tidak
berpendidikan. Keluarga rakyat kecil, bukan priyayi. Orang-orang ini dengan
segala keterbatasannya berjuang dalam menempuh pendidikan. Hasilnya, ia
mendapat pengetahuan dan keterampilan, yang kemudian menjadi bekal baginya
untuk bekerja. Ia bekerja lebih baik dari orang tuanya, mendapat penghasilan
yang lebih baik pula. Ia membebaskan dirinya dari kemiskinan dan
keterbelakangan.
Orang-orang
seperti itu, tidak hanya membebaskan dirinya sendiri. Ia kemudian memberi
inspirasi, sekaligus membiayai adik, keponakan, atau bahkan orang lain yang
sama sekali tak ada hubungan darah dengannya. Ia membebaskan lebih banyak lagi
orang.
Tapi kita
juga mendengar banyak cerita, tentang orang-orang yang mendapat kesempatan
untuk menempuh pendidikan, tapi gagal membebaskan dirinya. Ada yang gagal
selama sekolah. Ia tak mampu menyelesaikan sekolahnya. Ada pula yang sekolah
sampai selesai, tapi pendidikan yang ia tempuh tak membuatnya bisa hidup lebih
baik.
Kita cukup
sering mendengar kisah-kisah tragis, tentang orang tua yang berharap anaknya
"naik kelas" dari kelas rakyat kecil, menjadi priyayi, dengan
menyekolahkan mereka. Ada yang sampai menjual sawah, untuk membiayai kuliah
anaknya. Di akhir cerita, anaknya gagal menyelesaikan sekolah, atau ia lulus
tapi kemudian menganggur. Atau ia bekerja di sektor-sektor informal, tanpa terlihat
bekas bahwa ia pernah sekolah tinggi.
Apa yang
terjadi pada orang-orang itu? Mereka adalah orang-orang yang gagal melakukan
hal yang paling dasar dalam proses pendidikan, yaitu belajar. Mereka gagal
mendapatkan kompetensi yang paling dasar, yang harus diperoleh oleh orang yang
telah menempuh pendidikan, yaitu kemampuan belajar.
Ya, ada
begitu banyak orang yang sekolah tapi tidak belajar. Mereka hanya menghafal
sejumlah dalil dari buku-buku pelajaran, tanpa memahaminya. Hafalan itu hanya
menjadi serpihan mozaik yang tak terhubung satu sama lain. Lebih penting lagi,
serpihan-serpihan itu tidak memberi petunjuk tentang bagaimana menyelesaikan
persoalan-persoalan di ruang kehidupan. Orang-orang ini tidak akan pernah mampu
bekerja. Bekerja adalah menyelesaikan persoalan. Baik itu persoalan diri
sendiri, maupun persoalan orang lain yang membayar kita. Dari sekolahnya mereka
tak belajar untuk menjadi penyelesai masalah (problem solver).
Sekolah
seharusnya membentuk pola pikir, sebelum memenuhi benak pelajar-pelajarnya
dengan pengetahuan. Pola pikir itu membangun struktur pemahaman, dan dengan
struktur itu akan semakin mudah bagi pelajar untuk belajar lebih lanjut.
Ibaratnya, seperti menyiapkan rak-rak dalam "lemari pikiran", tempat
di mana pengetahuan dan informasi kelak akan diletakkan. Pola pikir itu juga
akan menentukan bagaimana informasi dan pengetahuan diolah untuk suatu
keperluan.
Sekolah juga
seharusnya membangun kebiasaan-kebiasaan positif, baik kebiasaan mental maupun
fisik. Kebiasaan mental adalah reaksi seseorang terhadap situasi yang ia
hadapi. Kebiasaan mental yang positif adalah reaksi-reaksi positif, seperti
optimisme, komitmen, tanggap, tidak mudah menyerah, dan sebagainya. Adapun
kebiasaan fisik meliputi hal-hal seperti disiplin,
Di atas itu
semua, sekolah seharusnya memberi bekal bagi pelajar-pelajarnya untuk
menyelesaikan masalah. Dengan pola pikir yang baik, kebiasaan-kebiasan yang
baik, pelajar dibimbing untuk mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang
mereka hadapi. Tidak hanya itu. Bila saat menghadapi suatu persoalan
pengetahuan yang mereka miliki ternyata belum memadai, mereka punya kemampuan
untuk belajar sendiri pengetahuan itu. Mereka tahu di mana harus mencari
informasi, dan bagaimana memperolehnya.
Orang-orang
yang gagal membebaskan diri tadi adalah orang-orang yang tidak berhasil
mendapatkan tiga hal tersebut. Mereka gagal karena gagal
memaknai
proses belajar. Kegagalan itu bisa karena kesalahannya sendiri. Ia gagal
menangkap substansi. Ia mengira sekolah, khususnya perguruan tinggi, adalah
kotak ajaib yang bisa membuat siapa saja yang melaluinya akan menjadi orang
pintar.
Dalam
pengamatan saya, sekolah-sekolah kita sekarang cenderung berkembang menjadi
sekolah-sekolah yang tak akan sanggup membebaskan. Pelajar
sudah
dijejali dengan berbagai informasi yang tak sanggup mereka cerna. Ibaratnya,
mereka sudah dijejali dengan sejumlah barang, sebelum mereka menyiapkan lemari
untuk menyimpannya. Mereka dipaksa menghafal hal-hal yang tak mereka pahami.
Lebih mengerikan lagi, kemampuan menghafal dianggap sesuatu yang sangat hebat.
Pelajaran menghafal diberi prioritas tinggi. Padahal menghafal ini adalah cara
belajar orang-orang yang belum memasuki era baca tulis.
Saya
khawatir pendidikan kita bergerak menjadi pendidikan yang semakin tak mampu
membebaskan.
*) Hasanudin
Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di
perusahaan Jepang di Indonesia.
No comments:
Post a Comment