Pondok Ilmu Pengetahuan

Sunday, February 05, 2017

Tayangan Sinetron yang tidak mendidik



Kamis 16 Oct 2014, 06:46 WIB

Tayangan Sinetron Belum Seutuhnya Mengerti Industri Kreatif yang Mendidik dan Mengembangkan Potensi Lokal

Dina Fitri - detikNews edit Risqon Achmadi, S.Kom.I

Jakarta - Industri kreatif sudah tidak asing lagi sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat Indonesia, terlihat bagaimana pesatnya perkembangan industri kreatif saat ini. Tentunya Harus Mengembangkan perekonomian dan berisi Informasi yang mendidik

Industri kreatif itu sendiri pertama kali di populerkan oleh Inggris untuk memperbaiki perekonomian serta mengembangkan bakat-bakat muda disana. Inggris mendefinisikan industri kreatif sebagai: those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and concent. Hal ini diadopsi oleh negara-negara lain termasuk Indonesia.

Di Indonesia industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memanfaatkan daya kreasi dan daya cipta individu.

Industri kreatif Indonesia terdiri dari 14 bidang, yaitu jasa periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan fotografi, permainan interaktif, music, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, dan riset dan pengembangan.

Sebagai salah satu yang ada di dalam industri kreatif, hiburan di televisi adalah salah satu yang paling banyak diminati karena dapat dinikmati dengan mudah. Selain itu media televisi pun menyuguhkan acara-acara yang dapat memperluas wawasan publik seperti, talkshow, diskusi, dan acara-acara edukasi lainnya.

Dewasa ini media televisi menjadi salah satu sahabat baik bagi para anak-anak dan remaja Indonesia dengan suguhan-suguhan menarik yang mampu menemani mereka bersantai di rumah, seperti kartun, talk show, acara musik, sinetron, berita dan lainnya.

Rumah produksi (PH) dan stasiun televisi berlomba lomba membuat berbagai macam tayangan untuk mendapatkan rating yang tinggi dari penonton. Setelah mendapatkan rating yang tinggi, PH dan stasiun TV akan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula.

Namun, apakah mereka telah membuat acara televisi yang berkualitas?  Tentunya tanyangan yang bermanfaat dan Mendidik. Nampaknya televisi sekarang ini lebih banyak menayangkan cerita dalam bentuk sinema elektronik (sinetron). Yang dimana saat ini sinetron sedang menjadi trend pertelevisian Indonesia dibandingkan acara-acara yang lebih positif lainnya baik seperti berita, diskusi ataupun menyangkan potensi local.

Maraknya sinetron secara nonstop berdampak sangat banyak bagi masyarakat khususnya para remaja dan anak dibawah umur. Biasanya cerita yang diminati adalah seringnya cerita tentang percintaan remaja, kehidupan yang mewah dan pertikaian rumah tangga yang seharusnya tidak ditonton oleh anak dibawa umur.

Namun karena jam tayang yang memungkinkan bagi anak untuk menonton, maka mereka ikut menonton juga. Malah dampak lainnya adalah ketika sinetron tersebut tayang pada waktu belajar anak, mereka akan lupa dengan belajar dan menyempatkan waktunya untuk menonton sinetron kesayangannya.

Sebenarnya Peran orang tua dan Tenaga Pendidik sangatlah penting disini untuk mengawasi tayangan yang mereka tonton. Namun, sebagian orang tua berfikir dan membiarkan anaknya menonton apa yang mereka suka dengan asumsi si anak mendapat hiburan dan betah tinggal dirumah tanpa memperhatikan mamfaat dan pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan mental anak-anaknya.

Sebuah penelitian American Psychological Association (APA) pada tahun 1995, bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk belaku buruk.

Bahkan penetilian ini menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan seseorang adalah pelajaran yang mereka terima sejak kecil.

Apabila dari masa anak-anak dan remaja sudah disuguhkan tayangan-tayangan kurang mendidik dan cerita untuk orang orang dewasa. Akan berpengaruh pada perkembangan psikologis anak ataupun remaja. Mereka belum matang secara kepribadian dan kecenderungan meniru apa yang dilihat.

Hidup mewah, naik kendaraan pribadi, belanja ke mall dan menjalin cinta sejak dini. Secara tidak langsung mereka akan terpengaruh bahwa hidup dengan percintaan, hidup selalu enak dan apa saja yang kita inginkan pasti ada. Seolah Mereka dalam mimpi dan kenyamanan. Mereka akan mengikuti seperti apa yang ada dalam tayangan tersebut tanpa mereka sadari.

Belum lagi tayangan sinetron terpopuler saat ini seringkali memakai pakaian yang minim untuk sekolah. Pakaian yang seharusnya tidak pantas untuk dipakai. Seperti, rok mini, baju ketat, sepatu tinggi, dan dandanan yang berlebihan itu keren. Disinilah biasanya nilai nilai liberalism memasuki lewat tayangan tayangan terpopuler.

Tidak Jarang tanyangan sinetron populer memberikan pemikiran kepada mereka untuk tampil keren, harus berpenampilan seperti itu. Adegan bullying dan kekerasan verbal juga sering kali terlihat pada sinetron sekarang, seperti melecehkan kaum miskin, menghina anak yang memiliki kebutuhan khusus (cacat fisik), menghina orang tua dan Guru, penggunaan kata-kata yang tidak pantas "anak pembawa celaka, rakyat jelata, si gembel, bocah ingusan".

Padahal tayangan tersebut melanggar UU Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang berisi tentang:
1.       Tindakan bullying (intimidasi) yang dilakukan anak sekolah.
2.       Kekerasan verbal
3.       Menampilkan percobaan pembunuhan.
4.       Adegan percobaan bunuh diri.
5.       Menampilkan remaja yang menggunakan testpack karena hamil di luar nikah.
6.       Adanya dialog yang menganjurkan untuk menggugurkan kandungan.
7.       Adegan seolah memakan kelinci hidup.
8.       Menampilkan seragam sekolah yang tidak sesuai dengan etika pendidikan.
9.       Adegan menampilkan kehidupan bebas yang dilakukan anak remaja, seperti merokok, minum-minuman keras dan kehidupan dunia malam.
10.     Adegan percobaan pemerkosaan.
11.     Konflik rumah tangga dan perselingkuhan.
12.     Menggunakan judul-judul yang sangat provokatif dan tidak pantas
Belum lagi masalah penjiplakan/plagiat, banyak sinetron Indonesia yang mengikuti alur cerita dari film/drama luar negri yang populer. Cara ini biasanya dilakukan untuk sinetron drama percintaan, yang membutuhkan cukup banyak konflik-konflik yang dianggap akan menarik perhatian penonton.

Memang sepertinya semua hal ini menunjukkan bahwa mereka (PH dan stasiun TV) belum bisa sepenuhnya mengikuti flow (alur) industri kreatif yang menuntut adanya pembaruan, ide-ide mendidik, ide ide segar agar menjadi panutan untuk mengembangkan inspirasi baru serta layak dihadirkan untuk masyarakat.

Layaknya kita bisa mengambil hikmah dari pertelevisian jerman yang senantiasa berkualitas dalam menghidangkan informasi. Terdapat Dua Stasiun Televisi Utama yang merupakan Milik Negara (ARD dan ZDF). Sedangkan TV Swasta dan Radio hanya bisa diakses melalui jaringan kabel, menara atau parabola. Warga Negara Jerman juga tidak segan untuk memberikan retribusi atau diminta pajak sebesar 17,98 Euro tiap bulannya atau Rp. 250.000, per bulan karena memang peran TV publik di Jerman cukup besar. Sebab selalu menyuguhkan tanyangan informasi mendidik : seperti Edukasi, Informasi Kewarganegaraan, Informasi Politik, Bahasa Jerman, Informasi Perkembangan Industri, Kebudayaan dsb.

Di Jerman, warga negara dilimpahi dengan siaran yang membuka mata dan mengajak bicara. Sedangkan di Indonesia, warganya disajikan siaran monokromatik yang sama sekali tidak menggambarkan keragaman Nusantara. Di Jerman, sosok negara jelas terlihat di dalam TV. Di Indonesia, kalimat tersebut perlu diimbuhi dengan sebuah tanda tanya

Dina Fitri
dinafitri83@gmail.com
Edit
Risqon Achmadi,S.Kom.I
achmadiewawan@gmail.com

(wwn/wwn)
 

No comments:

Post a Comment