Pondok Ilmu Pengetahuan

Thursday, November 27, 2014

PENDIDIKAN



Pendidikan dan Rantai Kemiskinan
Oleh Rhenald Kasali


Kisah anak anak dari keluarga kurang mampu yang berhasil menembus perguruan tinggi sering kita dengar

Seperti dialami Raeni, anak tukang becak yang meraih IPK 3,96 di Universitas Negeri Semarang. Ia bahkan mendapatkan tawaran kuliah S2  ke Inggris.

Setiap kali ke daerah pertanian, saya sering menemukan perani yang melakukan segala upaya agar anak anaknya jangan lagi jadi petani, dengan menyekolahkan anaknya menjadi sarjana.

Namun, sukseskah mereka memutus mata rantai kemiskinan? Bukankah pada statutannya kini PTN BH wajib memberikan beasiswa 20 persen untuk kalanangan kurang mampu ?

Aliran Kognitif

Kesadaran afirmatif, memberik akses pendidikan seperti di atas bukan hanya ada disini. Harusnya kita percaya sekolah bisa menjadi anak tangga yang bagus untuk memutus mata rantai kemiskinan. Pendapat umum mengatakan keluarga miskin melahirkan generasi generasi yang sama miskinnnya karena ketiadaan akses untuk mencapai pendidikan yang tinggi.

Pola begini : seorang anak lahir dari ibu yang menikah di usia dini, lalu bercerai, ibu harus bekerja keras, pindah dari kota ke kota lainnya. Kadang tinggal bersama nenek, menumpang hidup di kawasan yang padat. Anak pergi sekolah dengan perut lapar, sementara teman teman ikut les kumon atau dari guru sekolah. Lalu iapun bosan dengan sekolah, sering tak masuk, prestasi terpuruk, terlibat perkelahian, drop out, punya anak di luar nikah, lalu jatuh miskin lagi. begitu seterusnya.

Mungkin jika diberi gizi perhatian, akses agar bisa sekolah lagi, mereka akan bisa keluar dari mata rantai kemiskinan. 

Namun, penerima Nobel Ekonomi thaun 2000, James Heckman, menggelengkan kepalanya. Faktanya, hanya 3 persen yang bisa menamatkan perguruan tinggi. Padahal, anak anak dari keluarga biasa mencapai 46 persen. Demikian juga kemampuan memperbaiki ekonomi keluarga: pendapatan tahunan, pengangguran, angka perceraian, dan keterlibatan dalam kriminalitas. Prestasi ekonomi keluarga miskin yang mendapatkan program afirmasi pendidikan ternyata tetap sama dengan anak anak yang drop out dari sekolah. Apa sebab?

Tahun 1994 dua ilmuwan yang dituding rasis (Muray dan Herrnstein, dalam Bell Curve) megarahkan temuannya pada masalah DNA. Namun, berdasarkan kajian ekonometrika, Heckman menemukan masalahnya ada di sekolah itu sendiri. Sekola sekolah yang sering kita lihat terlalu kognitif dan membebani. yak mampu memutus rantai kemiskinan. Sekolah kognitif terlampau mekanisti. Wajar sekorang kita menyaksikan banyak sarjana menganggur, bahkan ada yang sudah bekerja kurang efektif. Padahal, mereka tak kalah pengetahuan, indeks prestasi mereka kini bagus bagus. Cenderung kalah dengan lulusan luar negeri yang hanya menempuh 124 SKS ( S1). Sementara sarjana kita menempu 144 – 152 SKS.

Sekolah nonkognitif

Heckman menemukan variabel variabel nonkognitif yang justru tak diberikan di sekolah menjadi penentu keberhasilan seorang untuk memutus mata rantai kemiskinan. Variabel itu adalah keterampilan meregulasi diri, mulai dari mengendalikan perhatian dan perbuatan, sampai kemampuan mengelola daya tahan (presistensi), menghadapi tekanan, menunda kenikmaran, ketekunan menghadapi kejenuhan dan kecenderungan untuk menjalankan rencana.

Nah keterampilan keterampilan seperti itu, menurut Heckman sering kali absen dalam sekolah kognitif. Tanpa itu, anak anak yang dibesarkan dari keluarga menengah ke ataspun akan jatuh pada lembah kemiskinan. Sekolah kognitif sendiri digemari banyak kalangan kelas menengah karena subtitusi atau penguatnya bisa dibeli di “pasa” m semisal Kumon, guru les atau orang tua rajin memberi latihan. Namun anak anak dari kalangan kurang mampu punya banyak keterbatasan. Selain orang tuanya tidak mengerti, mereka juga harus bekerja keras mencari nafkah di luar jam kerja.

“Ilmu ilmu tertantu itu, seperti kalkulus, sangat mekanistik” kata Paul Togh (How Children succed, 2012) “Kalau mulai lebih dulu dan banyak berlatih, mereka akan cepat menyelesaikan soal soalnya. Namun, aspek aspek non kognitif tak bisa didapatkan dengan mudah.” 

Kebiasaan orang tua yang merupakan cermin dari buruknya aspek non kognitif tadi menjadi penguat rantai kemiskinan di setiap generasi berikutnya.

Bimbingan dan metode non kognitif harus dibangun sedari dini. tantangan tantangan non kognitif seperti itu tampaknya berat sekali dibangin. mengingat dua – tiga genarasi pendidik guru dan dosen kognitif rewel dengan kemampuan menghafal, berhitung atau memindahkan buku ke kertas.

Kita Percaya pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan. Namun, bukan pendidikan superkognitif seperti sering kita dengar dari orang orang yang gemar mendebatkan Cuma soal kali kalian, padahal persoalan hidup terbesar justru ada di soal bagi bagian. Dan untuk adil membagi dibutuhkan kerampilan hidup non kognitif.

Sumber : Kompas

No comments:

Post a Comment