Pondok Ilmu Pengetahuan

Sunday, July 26, 2015

Akses Keuangan



PERTUMBUHAN EKONOMI UNTUK SEMUA

Bank Dunia merilis data terbaru soal inklusi keuangan. Pada Periode 2011 – 2014, sebanyak 700 juta orang di berbagai belahan dunia menjadi pemilik rekening baru atau lembaga keuangan formal lainnya. Dengan demikian, jumlah orang yang tidak memiliki rekening bank turun 20 persen menjadi 2 miliar orang.

Di Indonesia, kepemilikan rekening dalam kelompok 40 persen masyarkat termiskin menjadi 22 persen. Penetrasi kepemilikan rekening di Indonesia, sekitar 36 persen pada masyarakat dewasa dan 37 persen pada kelompok perempuan dewasa.

Data yang dirilis Bank Dunia itu tertuang dalam hasil survei Global Findex 2014 yang dirintis Bill dan Melinda Gates, bekerja sama dengan Gallup World Poll. Survei dilakukan terhadap penduduk berusia di atas 15 tahun di 140 negara.

Survei di Indonesia dilakukan pada 3 Mei – 4 Juni 2014 melalui wawancara tatap muka terhadap 1000 orang. Hasil survei ini memiliki margin error 3,6 persen.

Pada 2011 – 2014, bahkan hingga kini, Indonesia gencar mendorong inklusi keuangan, yang bisa diakses siapa pun. Artinya, masyarakat dalam berbagai kelas memiliki kemudahan menakses layanan keuangan formal, baik bank maupun non bank.

Kemudahan mengakses layanan keuangan formal ini pernah dicoba melalui produk Tabunganku, yang diluncurkan pada 20 Februari 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yodhoyono. Tabunganku ini tanpa biaya administrasi, mengharuskan setoran awal minimum Rp. 20.000, setoran selanjutnya minimum Rp. 10.000, dan saldo minimum Rp. 20.000.

Namun, gelora Tabunganku tidak gegap gembita. Salah satu penyebabnya, program tabungan bagi masyarakat yang belum memiliki rekening di bank ini tumpang tindih dengna program simpanan bank.

Namun, upaya menghubungkan masyarakat dengan layanan keuangan formal tidak boleh berhenti. Pasalnya, akses terhadap layanan keuangan bisa membantu masyarakat keluat dari kemiskinan. Bahkan, akses terhadap layanan keuangan bisa membantu masyarakat, terutama kelompok masyarakat menengah-bawah, untuk meraih pertumbuhan ekonomi inklusif. Pertumbuhan ekonomi harus dinikmati seluruh kelompok masyarakat, tanpa kecuali.

Data Bank Dunia pada 2013 menyebutkan, Indonesia yang berpenduduk 249, 87 juta memiliki rasio simpanan terhadap produk domestic bruto (PDB) sebesar 40,33 persen. Adapun rasio simpanan terhadap PDB sebesar 36,25 persen. Angka ini jauh di bawah Banglades yang dikenal kredit mikronya untuk masyarakat berpenghasilan rendah melalu Grameen Bank yang memiliki rasio simpanan terhadap PDB sebesar 68,85 persen dan rasio pinjaman terhadap PDB sebesar 49,81 persen.

Maka, akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal harus terus didorong. Indonesia sedang memulai upaya itu melalu bank nirkantor dengan menggandeng agen bank. Agen ini menjadi semacam “kepanjangan tangan” bank di wilayah terpencil, yang selama ini jauh dari layanan keuangan bank. Akses bank nirkantor tersebut menggunakan jaringan telekomunikasi. Upaya tersebut diharapkan memberikan hasil yang baik meskipun jaringan telekomunikasi di beberapa wilayah Indonesia masih terbatas.

No comments:

Post a Comment