Jejak Peran NU untuk bangsa
Tahun 1825-1830
Ketika terjadi perang diponegoro,
ulama dan santri sudah ikut terlibat perperangan. Ketika Pangeran Diponegoro
ditangkap dan diasingkan, ulama seperti Kiai Abdus Salam (Jombang), Kiai Umar (Semarang),
dan Kiai Yusuf (Purwakarta) meneruskan perjuangannya.
1936
Dalam muktamar Nahdatul Ulama (NU)
telah dibicarakan gagasan terkait pendirian negara Indonesia.
1937
KH Hasyim Asy’ari membentuk
Gabungan Politik Indonesia yang salah satu agendanya mendorong bangsa Indonesia
berparlemen. Saat itu KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim sepakat, salah satu
referensi penting pembentukan negara bangsa indonesia adalah Madinah yang
mengedepankan kebangsaan dan menerima keberagaman.
8-12 Desember 1984
Muktamar ke 27 NU di Situbondo
menghasilkan dua keputusan. Pertama, menerima Pancasila sebagai satu satunya
asa. Kedua, mengembalikan Nu menjadi organisasi social keagamaan sesuai dengan
Khittah NU 1926. Dengan keputusan ini, NU melepaskan diri dari keterlibatan politik
praktis.
21-22 Oktober 1945
KH Hasyim mengumpulkan ulama se
jawa dan Madura. Saat itu difatwakan mati syahid bagi mereka yang tewas melawan
tentara sekutu. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad, di
antaranya berbunyi “Soepanja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat
“sabilillah” Oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama
Islam”. Seuan ini memicu ribuan pemuda dari seantero Jawa Timur masuk kota
untuk mati matian mempertahankan Surabaya pada 10 November 1945 untuk melawan
kembalinya Belanda menjadi penjajah pasca penyerahan Jepang.
April 1985
Generasi Muda NU mendirikan Lembaga
Kajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia (Lakpesdam) NU. Organisasi Ini
menandai aktivitas generasi muda NU di kegiatan lembaga swadaya kemasyarakatan
seiring dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai ketua tanfidziah
NU di Muktamar Situbondo. Dalam kurun waktu yang sama aktivis NU juga
mendirikan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) NU.
1 Maret 1992
Rapat Akbar NU menghailkan komitmen
warga NU untuk peneguhan kehidupan kebangsaan dengan pelaksanaan UUD secara
baik dan benar
24 Desember 2000
NU melalui Babser NU berpastisipasi
dalam penjagaan perayaan Natal. Saat Peristiwa peledakan bom di malam Natal.
Seorang anggota Banser NU, Riyanto (25), tewas akibat ledakan bom di dekar
Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur.
18 Maret 2012
NU membentuk Laskar Aswaja untuk
merespons keresahan atas radikalisme berbasis agama. Laskar Aswaja dibentuk
sebagai penjaga utama Ahlussunnah Wal Jamaah, termasuk untuk membentengi
ideologi transnasional yang tidak sesuai konteks keindonesiaan dan menolak
radikalisme berbasis agama.
No comments:
Post a Comment